Breaking News

INTERNASIONAL Terus Digempur Milisi Houthi, Arab Saudi Minta Bantuan Mesir 17 Sep 2026 15:16

Article image
Pangeran Saudi Mohammed bin Salman (kiri) bersama Presiden Mesir Abdel Fattah al-Sisi di Kairo pada awal pekan ini. (Foto: REUTERS via DPA)
Kedua pemimpin negara menegaskan "komitmen bersama mereka untuk memastikan kebebasan dan keamanan navigasi maritim" di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

KAIRO, IndonesiaSatu.co -- Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman dikabarkan meminta bantuan Mesir untuk mengatasi serangan gencar milisi Houthi Yaman terhadap pelayaran dan fasilitas public Arab Saudi.

Dilansir DPA, Kamis (17/9/2026), permintaan itu disampaikan Mohammed bin Salman ketika bertemu Presiden Mesir Abdel Fattah el-Sisi di Kairo, Selasa (15/9/2026).

Dalam pernyataan bersama, kedua pemimpin negara menegaskan "komitmen bersama mereka untuk memastikan kebebasan dan keamanan navigasi maritim" di Laut Merah dan Selat Bab el-Mandeb.

Otoritas di Kairo juga memastikan "posisi Mesir yang teguh dalam mendukung Arab Saudi" tanpa penjelasan secara rinci terkait bentuk dukungan atau langkah nyata yang akan dilakukan.

Hingga saat ini Arab Saudi masih menghadapi peningkatan serangan milisi Houthi yang didukung Iran.

Dalam sepekan terakhir, milisi bersenjata tersebut telah merebut banyak wilayah di Yaman dan memperkuat posisi mereka di sekitar Selat Bab el-Mandeb.

Houthi disebut merebut pelabuhan Mokha di Laut Merah serta tiga pulau strategis di dalam dan sekitar Selat Bab el-Mandeb. Selat tersebut menjadi jalur penting karena menghubungkan Laut Merah dengan samudra terbuka. Jalur ini juga menjadi salah satu rute menuju pasar minyak utama Saudi di Asia.

Serangan Houthi terhadap sejumlah fasilitas penting Arab Saudi menyebabkan lonjakan harga minyak global. Gangguan produksi minyak Saudi juga meningkat setelah serangan Houthi merusak jalur pipa minyak terbesar negara tersebut.

Jalur Pipa Timur-Barat diperkirakan harus ditutup sebagian besar selama beberapa pekan untuk menjalani perbaikan. Kondisi tersebut berpotensi mengurangi pasokan minyak ke pasar global hingga jutaan barel per hari.

Di tengah situasi tersebut, Saudi sejauh ini disebut enggan melancarkan operasi militer besar terhadap Houthi. Dikhawatirkan, serangan besar dapat memicu serangan balasan terhadap infrastruktur minyaknya dan kembali membawa Saudi ke perang saudara di Yaman.

Hingga kini Saudi menghadapi pilihan antara meningkatkan respons militer atau mencari penyelesaian melalui jalur diplomatik.

Otoritas di Kairo menyataka, Mesir kemungkinan tidak akan mengirim bantuan militer secara langsung kepada Saudi. Namun, Kairo memiliki pengaruh besar di dunia Arab dan dapat membantu menggalang dukungan bagi kerajaan tersebut.

Di sisi lain, Mesir juga terdampak langsung oleh serangan Houthi terhadap pelayaran di Laut Merah. Serangan Houthi selama perang Gaza menyebabkan lalu lintas kapal melalui Terusan Suez menurun. Kondisi tersebut berdampak terhadap pendapatan Mesir dari salah satu jalur perdagangan terpenting dunia.

Selama konflik Iran, Saudi mengalihkan sebagian ekspor minyaknya melalui Laut Merah. Sebagian pengiriman kemudian melewati Terusan Suez atau menggunakan jaringan pipa Mesir yang menghubungkan Laut Merah dengan Laut Mediterania.

Namun, penutupan Jalur Pipa Timur-Barat Saudi berpotensi mengurangi atau bahkan menghentikan pengiriman tersebut selama beberapa pekan ke depan.

Sementara itu, Duta Besar Yaman untuk PBB Abdullah Al-Saadi mengatakan kepada Dewan Keamanan PBB bahwa pasukan pemerintah Yaman sedang berupaya merebut kembali wilayah yang dikuasai Houthi.

Selain itu, Al-Saadi juga berharap Dewan Keamanan mengutuk eskalasi konflik tersebut dan mendesak agar embargo senjata PBB terhadap Houthi diberlakukan

"Apakah komunitas internasional akan menerima jika salah satu gerbang terpenting dunia untuk perdagangan dan energi menjadi alat pemerasan di tangan kelompok teroris transnasional?" tegas Al-Saadi seperti dikutip dari DPA.

Dukungan sekutu utama Saudi, Amerika Serikat, tidak dapat diandalkan dalam menghadapi konflik di Timur Tengah. Diperkirakan, Presiden AS Donald Trump tidak ingin memperluas perang yang tidak populer menjelang pemilihan Kongres.

Sedangkan Uni Emirat Arab (UEA) yang sebelumnya menjadi bagian dari koalisi pimpinan Saudi melawan Houthi telah menarik diri dari koalisi setelah terjadi perselisihan antara sekutunya di Yaman dan Arab Saudi.

--- Aprilio G.