Breaking News

OPINI Tomy Winata, Artha Graha, dan Kepedulian Ekologis 23 Jul 2026 16:27

Article image
Tomy Winata bersama megabintang sepak bola Ronaldo, 2013. Saat itu Ronaldo didapuk menjadi Duta Mangrove Indonesia berdasarkan pilihan Yayasan Artha Graha Peduli. (Foto: Ist)
Di saat akses terputus dan kepanikan melanda, bantuan logistik AGP sering kali menjadi jangkar harapan pertama bagi para korban. Bahkan saat bencana tsunami dahsyat melanda Aceh, pesawat AGP menjadi armada tercepat yang berhasil menjangkau dan membantu m

# Catatan Pada HUT Kelahiran Pak TW, 23 Juli

 

Oleh Valens Daki-Soo*

 

Pengantar

Tulisan ini saya dedikasikan untuk seorang tokoh bisnis nasional yang punya kepedulian ekologis. Saya mengenal dan berjumpa pertama kalinya dengan Tomy Winata (biasa disapa Pak TW) pada 2001. Secara pribadi saya lebih mengenalnya ketika sejak Juni 2002 saya diajak Pak Kiki Syahnakri berkantor di Gedung Artha Graha, SCBD. Saat itu Pak Kiki baru pensiun dari dinas aktif di TNI AD dan terakhir menjabat Wakil Kepala Staf Angkatan Darat (Wakasad). Pasca purnabhakti Pak Kiki menjadi Komisaris Utama Bank Artha Graha Internasional hingga kini.

Tidak ada intensi dan pretensi untuk sekadar memuji TW melalui catatan ini. Tanpa dipuji pun, TW sudah mengaktualisasi diri sebagai tokoh yang sukses dan inspiratif di dunia bisnis, membantu banyak orang dengan apa yang dia punya.

Saya tergerak untuk menulis ini tepat pada momentum HUT Kelahirannya, karena masih banyak orang belum tahu "jalan sunyi" pengabdiannya bagi bangsa di bidang kemanusiaan dan ekologis. 

Pak TW adalah pribadi yang di satu sisi menjadi obyek prasangka dan kontroversi di kalangan orang yang tidak/belum mengenalnya dari dekat. Namun, di sisi lain saya mendengar banyak kisah kemanusiaan tentang apa yang diperbuatnya bagi orang-orang tak mampu.

TW adalah sosok yang nasionalis, yang benar-benar bersemangat NKRI. Kesaksian tentang ini datang dari beberapa tokoh. Namun, kali ini saya ingin fokus menulis tentang "visi dan kepedulian ekologis". Suatu hal yang sebenarnya amat dibutuhkan saat ini, ketika Bumi makin rusak dan berpotensi menghancurkan kehidupan manusia dan alam di masa depan jika kerusakan itu tidak diatasi.

------------------------

 

Tidak banyak konglomerat bisnis di Indonesia yang secara sungguh-sungguh memberikan perhatian pada keseimbangan ekologis dan keselarasan dengan alam dalam setiap langkahnya. TW adalah salah satunya. 

Di tengah deru mesin pembangunan dan kompetisi bisnis yang kian sengit, ukuran keberhasilan seorang pengusaha kerap kali dihitung dari seberapa tinggi pencakar langit yang ia bangun atau seberapa melimpah dividen yang ia bukukan.

Namun, di sudut selatan Pulau Sumatera di mana gelombang Samudera Hindia memecah sunyi di pesisir Lampung, sebuah cerita berbeda sudah ditulis. Di sanalah TW membuktikan bahwa puncak tertinggi kepemimpinan bisnis terletak pada apa yang dikembalikan dan didedikasikan kepada lingkungan alam, masyarakat, bangsa dan negara.

Artha Graha Selalu Peduli

Setiap langkah besar selalu bermula dari sebuah pemikiran mendasar. Bagi TW, kesuksesan bisnis tidak akan pernah utuh jika berdiri di atas ketimpangan sosial dan kerusakan lingkungan. Keterikatan batinnya pada kelestarian ekologi dan kesejahteraan masyarakat mendorong lahirnya Yayasan Artha Graha Peduli (AGP) pada 1990, sebagai organisasi nirlaba di bawah naungan Artha Graha Network (AGN).

AGP adalah buah manifestasi nyata dari pemikiran dan kepedulian TW, di mana visi kemanusiaan dan keberlanjutan diterjemahkan secara terstruktur melalui lima pilar utama, yaitu penanggulangan bencana, pelestarian lingkungan, bantuan sosial, pemberdayaan masyarakat, serta penegakan hukum.

Aksi kemanusiaan yang digerakkan AGP menjangkau berbagai pelosok Indonesia melalui beragam program konkrit. Melalui kegiatan Pasar Murah, AGP rutin menyediakan paket sembako bersubsidi guna menjaga daya beli masyarakat berpenghasilan rendah dan menstabilkan harga pangan. 

Pada pilar Bantuan Bencana, AGP menyalurkan bantuan darurat dan logistik secara sigap bagi korban bencana alam seperti banjir, gempa bumi, hingga tanah longsor. Sementara itu, di bidang Layanan Kesehatan, divisi medis AGP aktif menyelenggarakan pengobatan gratis, penyuluhan kesehatan, dan vaksinasi massal.

Adapun pilar Konservasi Lingkungan diwujudkan secara monumental melalui pengelolaan kawasan konservasi alam berskala internasional seperti Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC) di Lampung.

Dari Hutan Merana Menjadi "Firdaus" Harimau Sumatera

Wujud paling monumental dari pemikiran ekologis Tomy Winata terlihat pada tahun 1997. Saat pertama kali menjejakkan kaki di kawasan Tambling, Kabupaten Pesisir Barat, Lampung, TW mendapati jeritan alam yang merana akibat pohon-pohon dibabat pembalak liar, terumbu karang dihancurkan bom ikan, dan satwa langka Harimau Sumatera diburu tanpa ampun. Hatinya tergerak untuk menyelamatkan kawasan tersebut. 

TW membutuhkan waktu hingga lima tahun perjuangan legalitas sampai akhirnya pada tahun 2002, izin pengelolaan kawasan seluas 48.000 hektare yang merupakan bagian dari Taman Nasional Bukit Barisan Selatan (TNBBS) ini resmi digenggam di bawah nama Tambling Wildlife Nature Conservation (TWNC).

Perjuangan mengelola TWNC jauh dari kata mudah karena pos pemantau sempat dibakar akibat kesalahpahaman, tuduhan miring bermunculan, dan ancaman fisik mengintai. Namun, TW memilih membalasnya dengan kesabaran dan edukasi. Warga yang tadinya menggantungkan hidup dari merusak hutan dirangkul dan disadarkan, bahkan anak-anak mereka disekolahkan hingga ke perguruan tinggi ternama seperti Institut Pertanian Bogor (IPB). 

Setiap tahunnya, puluhan miliar rupiah dikucurkan dari kantong pribadinya demi menghidupi operasi TWNC.

Langkah konsisten TW di Tambling selaras dengan konsep Triple Bottom Line yang digagas oleh pakar manajemen John Elkington dalam bukunya "Cannibals with Forks: The Triple Bottom Line of 21st Century Business" (1997). Elkington menegaskan bahwa keberlanjutan bisnis sejati harus berpijak pada tiga pilar utama: Profit (keuntungan ekonomi), People (kesejahteraan sosial), dan Planet (kelestarian lingkungan). 

Di Tambling, TW membuktikan harmoni ketiga pilar tersebut. Dari pilar Planet, citra satelit Tambling yang dulunya gundul memutih kini telah menghijau pekat dan menjadi rumah aman bagi 30 hingga 40 ekor Harimau Sumatera yang terancam punah. Kesuksesan ini membuahkan penghargaan kelas dunia dari Panthera (organisasi konservasi kucing besar internasional di AS), serta pujian dari UNESCO, Bank Dunia, dan media internasional seperti The New York Times. 

Dari pilar People, masyarakat lokal dirangkul menjadi penjaga alam dan diberi akses pendidikan, sedangkan dari pilar Profit, TWNC diarahkan pada pengembangan ekowisata dan pertanian ramah lingkungan agar mandiri secara berkelanjutan tanpa merusak ekosistem.

Gerak Nyata Kepedulian Ekologis

Jika di Tambling pemikiran ekologisnya berbisik lembut pada alam, maka di tengah bencana nasional, kepedulian Tomy Winata melalui AGP selalu proaktif-responsif memberi pertolongan. Sudah menjadi fakta yang diakui banyak pihak bahwa setiap kali gempa bumi, banjir bandang, hingga bencana dahsyat seperti tsunami melanda Tanah Air, relawan dan armada Artha Graha Peduli hampir selalu menjadi yang pertama tiba di lokasi. 

Di saat akses terputus dan kepanikan melanda, helikopter dan bantuan logistik AGP sering kali menjadi jangkar harapan pertama bagi para korban di garis terdepan kemanusiaan. Bahkan saat bencana tsunami melanda Aceh, pesawat AGP menjadi armada tercepat yang berhasil menjangkau dan membantu masyarakat setempat.

Praktik kepemimpinan ekologis ini sangat relevan dengan konsep Land Ethic (Etika Tanah) yang dicetuskan oleh ekolog Aldo Leopold dalam karya klasiknya "A Sand County Almanac" (1949). Leopold menyatakan bahwa etika tidak hanya mengatur hubungan antarmanusia, tetapi juga hubungan manusia dengan tanah, air, tumbuhan, dan hewan. Sebuah tindakan dianggap benar secara etis ketika ia cenderung menjaga integritas, stabilitas, dan keindahan komunitas ekosistem. 

Melalui AGP dan TWNC, Tomy Winata telah melampaui standar Corporate Social Responsibility (CSR) konvensional dan mempraktikkan etika tanah tersebut secara utuh sebagai bentuk pertanggungjawaban moral seorang pemimpin bisnis terhadap Bumi tempat ia berpijak.

Sejarah dunia pernah mencatat nama Theodore Roosevelt, Presiden Amerika Serikat yang memanfaatkan kepemimpinannya untuk melindungi ratusan juta hektar hutan alam, monumen nasional, dan suaka margasatwa dari ancaman eksploitasi industri. Di era modern ini, Indonesia patut bersyukur memiliki sosok pengusaha yang membawa spirit kepemimpinan ekologis serupa seperti TW.

Memasuki usianya kini, jejak yang ditinggalkan TW memberi pelajaran berharga bagi generasi penerus bahwa keberhasilan sejati seorang manusia tidak diukur dari seberapa kaya hingga ia "pergi" dari dunia ini, melainkan seberapa banyak kehidupan yang berhasil ia selamatkan serta sejauh mana Bumi dan Alam Semesta tersenyum karena kebaikannya. 

 

Selamat Ulang Tahun, Pak TW. 

Terima kasih telah terlibat nyata menjaga alam Indonesia. 

 

*) Penulis adalah staf khusus Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri (sejak 1998) dan Komjen Pol (Purn) Gories Mere (sejak 2001), Pendiri & Dirut PT Veritas Dharma Satya (PT VDS) dan Firma Hukum "Veritas Dignitas Salus" (VDS Law Firm)

Komentar