Breaking News

INTERNASIONAL Tragedi Penembakan Pesawat AS 1996, AS Dakwa Mantan Presiden Kuba Raul Castro 22 May 2026 00:14

Article image
Raul Castro mengangkat lengan presiden baru Kuba, Miguel Diaz-Canel setelah Dewan Nasional resmi mengangkat politisi berusia 57 tahun itu sebagai presiden di Havana pada 19 April 2018. (Foto: HO/www.cubadebate.cu/AFP)
"Tuduhan tersebut tidak memiliki dasar hukum dan menambah berkas yang mereka rekayasa untuk membenarkan tindakan bodoh berupa agresi militer terhadap Kuba," tulis Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel.

HAVANA, IndonesiaSatu.co-- Amerika Serikat mendakwa mantan pemimpin Kuba, Raul Castro dengan tuduhan pembunuhan atas jatuhnya dua pesawat sipil pada 1996. Dakwaan AS ini memicu spekulasi bahwa Presiden Donald Trump akan mencoba menggulingkan rezim negara komunis tersebut.

Castro adalah adik laki-laki dari Fidel Castro, mendiang musuh bebuyutan AS yang memimpin revolusi Kuba pada 1959 dan kini masih memiliki pengaruh kuat di negara itu.

"Kami memperkirakan dia akan datang ke sini atas kemauannya sendiri atau dengan cara lain dan masuk penjara," kata Pelaksana Tugas Jaksa Agung, Todd Blanche dalam konferensi pers di Miami, dikutip dari AFP, Rabu (20/5/2026) melansir Kompas.com.

Selain pembunuhan, Castro juga didakwa dengan konspirasi untuk membunuh warga AS dan perusakan pesawat terbang.

Pemerintah AS sebelumnya memanfaatkan dakwaan domestik untuk membenarkan aksi militer yang menggulingkan dan menangkap presiden Venezuela, Nicolas Maduro, sekutu setia Kuba.

Respons Pemerintah Kuba

Dalam sebuah pernyataan, pemerintah Kuba mengatakan, penembakan jatuh pesawat pada 1996 adalah pembelaan diri yang sah terhadap pelanggaran wilayah udara.

"Tuduhan tersebut tidak memiliki dasar hukum dan menambah berkas yang mereka rekayasa untuk membenarkan tindakan bodoh berupa agresi militer terhadap Kuba," tulis Presiden Kuba, Miguel Diaz-Canel.

Lima warga Kuba lainnya juga didakwa, termasuk pilot angkatan udara yang menembak jatuh pesawat-pesawat tersebut. Empat orang tewas dalam insiden tahun 1996 silam itu yang menyebabkan hubungan kedua negara memburuk.

Dua dekade kemudian, Raul Castro bergabung dengan presiden AS Barack Obama dalam upaya untuk berdamai.

Presiden Trump memuji dakwaan tersebut sebagai momen yang sangat besar, tetapi meremehkan prospek untuk mengambil tindakan terhadap Kuba yang ekonominya sedang hancur akibat blokade minyak AS.

"Tidak akan ada peningkatan ketegangan. Saya rasa tidak perlu. Lihat, tempat ini berantakan. Ini kacau, dan mereka seperti kehilangan kendali," kata Trump kepada wartawan.

Politisi berusia 79 tahun itu membalikkan upaya Obama untuk memperbaiki hubungan dan terus memperketat sanksi terhadap Kuba.

Trump telah berulang kali memberi sinyal bahwa pemerintah Kuba bisa menjadi sasaran berikutnya setelah Venezuela.

Awal bulan ini, Trump bahkan mengatakan Washington akan mengambil alih pulau Karibia yang yang berjarak sekitar 145 kilometer dari Florida itu. 

Tawaran AS untuk Kuba 

Dalam pesan video kepada rakyat Kuba, Menteri Luar Negeri Marco Rubio menuduh kepemimpinan Havana melakukan pencurian, korupsi, dan penindasan.

"Presiden Trump menawarkan jalan baru antara AS dan Kuba yang baru," kata Rubio dalam pesannya pada hari warga Kuba-AS memperingati kemerdekaan pulau itu dari Spanyol.

"Kuba baru di mana Anda memiliki kesempatan nyata untuk memilih siapa yang memerintah negara Anda dan memilih untuk menggantinya jika mereka tidak melakukan pekerjaan dengan baik," lanjut Rubio.

Penggulingan Maduro telah memberikan pukulan berat bagi Kuba, memutus pasokan minyak Venezuela gratis dan memicu krisis energi.

Rubio telah menawarkan bantuan sebesar 100 juta Dollar AS kepada Kuba jika negara itu mengambil langkah-langkah untuk membuka diri.

"Saat ini, satu-satunya hal yang menghalangi masa depan yang lebih baik adalah mereka yang mengendalikan negara Anda," ujar Rubio.

--- Guche Montero

Komentar