Breaking News

INTERNASIONAL Turki Bergejolak! Generasi Muda Turun ke Jalan Lawan Presiden Erdogan 02 Apr 2025 11:26

Article image
Ratusan ribu rakyat Turki didominasi generasi muda turun ke jalan mengkritik kebijakan Presiden Erdogan. (Foto: Ist)
Recep Tayip Erdogan diduga menggunakan tangan besinya untuk menghentikan langkah rival paling populernya saat ini, Ekrem Imamoglu, maju dalam kontestasi Pilpres mendatang.

ISTANBUL, IndonesiaSatu.co -- Generasi muda Turki berada di garis depan protes massa terhadap pemerintahan Presiden Tayyip Erdogan. Mereka bersikeras menuntut perubahan di Turki, terutama kepada rezim Erdogan yang semakin otoriter.

Ratusan ribu warga Turki menggelar unjuk rasa di Istanbul pada Sabtu (29/3/2025) untuk menentang pemenjaraan Wali Kota Ekrem Imamoglu. Ini merupakan demonstrasi terbesar yang pernah terjadi di Turki dalam lebih dari satu dekade.

Demonstrasi meletus setelah Wali Kota Istanbul Ekrem Imamoglu, seorang tokoh oposisi yang popular di Turki dipenjara sambil menunggu persidangan atas tuduhan korupsi. Tidak seperti generasi yang lebih tua, generasi muda mengaku tidak gentar terhadap risiko penindakan dan pembungkaman dari pemerintah Turki.

“Saya pikir tumbuh di bawah satu rezim saja membuat kita menjadi generasi yang mencari perubahan, mencari bukti bahwa kita hidup dalam demokrasi,” kata Yezan Atesyan, seorang mahasiswa berusia 20 tahun di Universitas Teknik Timur Tengah (METU).

“Gagasan tentang kekuasaan yang bertahan selamanya membuat kita takut,” lanjutnya.

Recep Tayip Erdogan diduga menggunakan tangan besinya untuk menghentikan langkah rival paling populernya saat ini, Ekrem Imamoglu, maju dalam kontestasi Pilpres mendatang.

Pasalnya, Imamoglu bukan saja dipenjarakan dengan ragam tuduhan kriminal, mulai korupsi hingga hubungan dengan jejaring terorisme, tetapi juga dicabut ijazah sarjananya.

Ratusan ribu warga Turki di seluruh negeri telah mengindahkan seruan oposisi untuk melakukan protes sejak Imamoglu ditahan minggu lalu. Protes sebagian besar berlangsung damai, tetapi lebih dari 2.000 orang telah ditahan.

Oposisi utama Partai Rakyat Republik (CHP), partai oposisi lainnya, kelompok hak asasi manusia, dan beberapa kekuatan Barat semuanya mengatakan kasus terhadap Imamoglu adalah upaya yang dipolitisasi untuk menghilangkan potensi ancaman elektoral terhadap Erdogan.

Di sisi lain, pemerintah menyangkal adanya pengaruh atas peradilan dan mengatakan pengadilan bersifat independen.

Mahasiswa dari seluruh Turki turun ke jalan, menghadapi blokade polisi dan gas air mata. Rekaman drone dari METU menangkap bentrokan antara pengunjuk rasa dan pasukan keamanan negara.

Atesyan mengatakan masyarakat menjadi sasaran dalam tindakan keras tersebut: "Tidak hanya kaum minoritas, tidak hanya perempuan, tidak hanya komunitas LGBT — ini ditujukan kepada kita semua."

Selain frustrasi politik, kesulitan ekonomi telah memicu kerusuhan. Inflasi dan pengangguran yang tinggi telah membuat kaum muda merasa masa depan mereka semakin menjauh.

"Saya lulus pada tahun 2024, tetapi saya tidak dapat menemukan pekerjaan, dan keluarga saya berjuang secara finansial," kata pengunjuk rasa berusia 25 tahun Duygu pada rapat umum oposisi di Istanbul.

Duygu mengaku khawatir akan keselamatannya tetapi juga khawatir tentang teman-temannya.

“Beberapa dari mereka telah ditahan,” ungkapnya.

Pemerintah menolak protes tersebut karena bermotif politik, tetapi kerusuhan yang didorong oleh kaum muda menandakan perpecahan yang semakin besar.

“Imamoglu mewakili harapan. Kemungkinan perubahan nyata,”tegasnya.

 ---R.Kono

Komentar