REGIONAL Uskup Agung Ende; Sosok Pemimpin Sederhana dan Simbol Wajah Gereja yang Memilih Ada Bersama Para Korban 17 Aug 2026 12:34
Kehadiran Uskup Budi di tengah umat tersirat pesan bahwa mereka tidak menghadapi bencana sendirian, selalu ada doa dan sentuhan perhatian dari para Gembala yang senantiasa tidak ingin kehilangan umat gembalaannya.
MBAY-NAGEKEO, IndonesiaSatu.co-- Di tengah bencana alam dan duka yang menyelimuti masyarakat Flores pasca gempa bumi dengan magnitudo 7,7 yang mengguncang Nagekeo dan sebagian wilayah Flores, NTT, Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, memilih hadir langsung bersama umat yang terdampak dan masih bertahan di tenda-tenda darurat pengungsian.
Uskup Budi Kleden yang tampil dalam kesederhanaan, mengunjungi lokasi pengungsian saat menjalankan kunjungan pastoral di wilayah Kevikepan Mbay, Sabtu (15/8/2026).
Kehadiran dan pertemuan Uskup Budi dengan para pengungsi menjadi bagian dari perjalanan pastoral sekaligus bentuk nyata kehadiran Gereja dengan masyarakat yang sedang menghadapi bencana dan kesulitan hidup.
Di lokasi pengungsian, Uskup Budi Kleden menyapa dengan ramah dan senyuman khasnya, menjamah anak-anak yang terpaksa meninggalkan rumah dan diselimuti rasa panik dan ketakutan akibat gempa susulan yang terus mengguncang dengan skala kecil maupun sedang.
Kehadiran tersebut bukan sekadar kunjungan formal, tetapi menjadi ruang bagi Gereja untuk mendengar langsung pengalaman, kondisi, dan harapan warga terdampak.
Bagi para pengungsi, kehadiran pemimpin Gereja di tengah situasi sulit menjadi dukungan moral, peneguhan dan kekuatan bagi mereka. Ketika rumah belum dapat ditempati dan gempa susulan masih menghantui, perhatian dan pendampingan menjadi kekuatan tersendiri bagi mereka yang sedang berjuang melewati masa-masa sulit sekarang ini.
Kunjungan dan kehadiran Uskup Budi KledenĀ menumjukkan bahwa pelayanan pastoral tidak berhenti di dalam gereja. Sebaliknya, ketika umat sedang menghadapi bencana, Gereja harus hadir, ada bersama, berdialog, dan menyentuh ruang perasaan mereka bahwa mereka tidak sendirisendiri di tengah situasi sulit yang sedang menghimpit, bahkan situasi duka karena kehilangan anggota keluarga mereka.
Bencana alam gempa yang telah memporak-porandakan Pulau Nusa Bunga, menimbulkan trauma akan tragedi 1992 silam. Tidak sedikit nyawa yang terkubur, sebagian terluka, dan rumah-rumah tempat tinggal menyisahkan puing-puing.
Kini, bencana gempa kembali membuat banyak warga menjalani kehidupan dalam kondisi darurat. Selain kebutuhan logistik dan tempat tinggal sementara, para korban juga membutuhkan pendampingan psikologis dan spiritual untuk menghadapi trauma dan kesulitan hidup.
Dalam situasi sulit seperti itu, kehadiran para tokoh dan pemimpin agama sangat penting dan berarti; memberi keteduhan, membawa kasih yang tulus dan berarti, selain bantuan logistik dan kebutuhan kedaruratan.
Kehadiran Uskup Budi di tengah umat tersirat pesan mendalam bahwa mereka tidak menghadapi bencana sendirian, selalu ada doa dan sentuhan perhatian dari para Gembala yang senantiasa tidak ingin kehilangan umat gembalaannya.
Kunjungan pastoral di Kevikepan Mbay tersebut sekaligus menjadi pesan kuat tentang wajah Gereja yang dekat dengan umatnya, tentang kesederhanaan dan kerendahan hati untuk menjaga api kasih, dan terutama tentang kesetiaan untuk selalu hadir dan ada bersama mereka yang paling rentan.
Di saat bumi Flores masih terus bergetar, rintihan rakyat dan umat masih terus terdengar, Gereja memilih tidak berjarak. Uskup Budi datang, menyapa dalam kesederhanaan, setia mendengar keluhan, rintihan dan harapan mereka, bahkan ikut bersimpuh bersama umat yang sedang memohon agar alam kembali bersahabat dan Tuhan menolong mereka.
--- Guche Montero
Komentar