Breaking News

INSPIRASI Uskup Budi Kleden Pimpin Ekaristi dan Launching Buku Peringatan Setahun Mendiang Uskup Sensi Potokota di SMA Katolik Regina Pacis Bajawa 23 Nov 2024 20:54

Article image
Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD saat memimpin Perayaan Peringatan satu tahun meninggalnya Mgr. Vincentius Sensi Potokota di lapangan tengah SMA Katolik Regina Pacis Bajawa. (Foto: Che/IndonesiaSatu.co)
"Kedamaian hanya mungkin datang dari orang-orang yang memelihara budaya kehidupan, dari orang-orang yang memiliki sikap yang jelas dalam hidup, dari orang-orang yang memiliki kerendahan hati dan cara yang tepat untuk menegur," kata Uskup Budi.

BAJAWA, IndonesiaSatu.co-- Uskup Agung Ende, Mgr. Paul Budi Kleden, SVD, memimpin perayaan Ekaristi peringatan arwah satu tahun mendiang Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota.

Perayaan dengan tema "Menjadi Saksi yang Setia dan Benar" itu berlangsung di lapangan tengah SMA Katolik Regina Pacis Bajawa, Kabupaten Ngada, Sabtu (23/11/2024).

Transformasi

Dalam kotbahnya, Uskup Budi Kleden menekankan pentingnya transformasi hidup bagi setiap orang beriman, lembaga pendidikan, juga Gereja Universal.

Terinspirasi bacaan dari Kitab Wahyu, Uskup Budi Kleden menekankan tiga hal fundamental dalam hidup kita, yakni;

Pertama, kita diingatkan untuk selalu sadar bahwa kita harus punya sikap yang jelas dalam hidup.

"Sikap yang jelas; tidak panas, tidak dingin, tidak 'suam-suam kuku'. Dengan sikap yang jelas, kita tidak mudah terombang-ambing, mudah menjadi objek dari mereka yang mempropagandakan apa yang menjadi ideologi mereka sendiri. Dan proses pendidikn di lembaga ini berorientasi pada hal ini; agar kita menjadi pribadi-pribadi yang memiliki sikap yang jelas sebagai orng beriman yang berguna bagi masyarakat," ungkap Uskup Budi.

Kedua, memelihara budaya kehidupan.

Uskup Budi berpesan, setiap kita dituntun untuk menggunakan semua talenta, menghidupkan semua talenta yang Tuhan berikan demi kebaikan diri sendiri dan orang lain.

"Seperti pesan kepada jemaat yang berbuat seolah-olah hidup meski banyak dari kepribadian mereka yang mati, kita mesti memberikan daya hidup, menggunakan talenta-talenta diri demi kebaikan bersama. Budaya kehidupan tidak semata sebagai pribadi, tetapi juga dalam konteks hidup bersama sebagai komunitas dan lembaga pendidikan seperti ini agar apa yang sudah Tuhan berikan, dapat tumbuh bersama," pesan Uskup.

"Kita harus mengupayakan untuk menghentikan budaya kematian, budaya saling mematikan, dengan kebiasaan-kebiasaan saling mem-bullying, mengolok, menjatuhkan. Juga dalam hidup bermasyarakat, kita memiliki tanggung jawab untuk tidak saling menjatuhkan. Kita dipanggil untuk memelihara budaya kehidupan," pesan Uskup Budi.

Ketiga, kerendahan hati untuk dikoreksi.

Uskup Budi berpesan agar butuh kerendahan hati untuk menerima teguran dari orang-orang yang melihat bahwa kita sudah berada pada jalan yang salah.

"Berada ada lingkungn pendidikan, kita perlu membiarkan diri dibentuk, ditegur, dikoreksi, baik dalm bentuk lisan maupun tertulis. Teguran yang datang dengan dasar kasih, perhatian dan cinta, tentu memiliki daya transformatif, daya mengubah sebagaimana yang dilakukan oleh Yesus," kata Uskup Budi.

Selanjutnya, terinspirasi dari Bacaan Injil Lukas yang mengangkat perumpamaan tentang Zakheus, Uskup Budi menerangkan bahwa Zakheus (dalam bahasa Yunani) berarti bersih, suci, murni karena dibersihkan, dan dimurnikan.

"Pesan penting dari perjumpaan Yesus dan Zakheus yakni transformasi. Zakheus mau membuka diri terhadap Sabda Tuhan, terhadap sapaan Yesus. Kita semua, termasuk lembaga pendidikan Regina Pacis ini, perlu membuka diri kepada sapaan Yesus sehingga kita boleh mengalami transformasi dalam diri dan hidup kita," kata Uskup Budi.

Pada penutup kotbahnya, Uskup Budi mengajak semua umat yang hadir dalam perayaan tersebut sebagai bentuk dedikasi kepada Regina Pacis: Ratu Perdamaian.

"Kedamaian hanya mungkin datang dari orang-orang yang memelihara budaya kehidupan, dari orang-orang yang memiliki sikap yang jelas dalam hidup, dari orang-orang yang memiliki kerendahan hati dan cara yang tepat untuk menegur," kata Uskup Budi.

"Semoga dengan Doa Uskup Sensi yang mengasihi kita dan tang kita cintai, kita semua yang ada di lembaga ini dan yang terikat dengan lembaga ini, tumbuh menjadi orang-orang yang mempromosikan perdamaian di tengah masyarakat yang gampang tercerai-berai dan mudah tergoda oleh konflik karena berbagai isu. Semoga kita menjadi insan-insan pembawa damai di tengah masyarakat dalam gereja kita," ajak Uskup Budi menutup kotbahnya.

Disaksikan media ini, hadir dalam perayaan tersebut Vikep Bajawa, RD. Gabriel Idrus dan para imam konselebrantes, para biarawan-biarawati, UNIO Keuskupan Agung Ende, STIPER Flores Bajawa, jajaran OPD lingkup Pemda Ngada, Pimpinan dan Anggota DPRD Ngada, para tokoh masyarakat, para kepala sekolah dari setiap jenjang pendidikan, para guru, segenap civitas SMA Katolik Regina Pacis Bajawa, serta tamu undangan.

Perayaan ekaristi dimeriahkan oleh Koor yang dibawakan para siswa-siswi SMA Katolik Regina Pacis Bajawa.

--- Guche Montero

Komentar