LINGKUNGAN HIDUP Uskup Timika Serukan Penolakan terhadap Perluasan Sawit dan PSN di Papua 01 Jan 2026 23:16
Kritik keras Uskup Timika terhadap oligarki dan kapitalis tersebut secara spesifik diarahkan pada kerusakan lingkungan di Papua.
TIMIKA, IndonesiaSatu.co-– Uskup Keuskupan Timika, Mgr. Bernardus Bofitwos Baru, OSA, melontarkan kritik keras terhadap kerusakan lingkungan di Papua yang dinilainya semakin masif, terutama berkaitan dengan Proyek Strategis Nasional (PSN), termasuk rencana perluasan perkebunan kelapa sawit di Tanah Papua.
Kritik tersebut disampaikan Uskup Bernardus saat Perayaan Ekarist di Gereja Katolik Santa Sesilia SP-2, Timika, Rabu (31/12/2025).
Dalam khotbahnya, Uskup Bernardus menyuarakan keprihatinan mendalam atas perusakan alam yang terjadi demi kepentingan segelintir pihak.
Uskup Bernardus menilai eksploitasi sumber daya alam yang dilakukan secara masif telah menimbulkan penderitaan bagi masyarakat dan kerusakan lingkungan yang parah.
Uskup Bernardus secara tegas mengkritik praktik oligarki dan kapitalisme, yang menurutnya telah merusak hutan-hutan di berbagai wilayah Indonesia, termasuk di Sumatera, hingga menyebabkan bencana banjir yang menelan banyak korban jiwa.
Uskup juga secara terbuka menolak pernyataan Presiden Prabowo Subianto terkait rencana perluasan perkebunan kelapa sawit di Papua, serta mengajak seluruh masyarakat Papua untuk menolak rencana tersebut.
“Saya ajak kita semua untuk tidak tunduk pada Jakarta. Saya ajak kita semua yang ada di tanah Papua untuk menolak dan melawan semua ilusi pembangunan negara yang hanya akan menghancurkan tanah Papua,” seru Uskup Bernardus.
Selain itu, Uskup Timika juga mengkritik para pejabat daerah di Papua; mulai dari Gubernur, Bupati, hingga lembaga perwakilan seperti Majelis Rakyat Papua (MRP) dan DPRD, yang dinilainya lebih berpihak kepada kepentingan oligarki dan kapitalis di Jakarta.
Dalam homilinya, Uskup Bernardus turut mengajak kaum muda Papua untuk tidak hanya berdoa, tetapi juga terlibat dalam aksi nyata demi pembebasan dan keselamatan sesama.
“Tidak hanya berdoa saja, tetapi harus melakukan aksi nyata untuk menyelamatkan lingkungan, terlebih tanah ulayat yang merupakan ‘mama’ bagi orang Papua,” ajaknya.
Kritik keras Uskup Timika terhadap oligarki dan kapitalis tersebut secara spesifik diarahkan pada kerusakan lingkungan di Papua.
Dalam sejumlah kesempatan sebelumnya, Uskup Bernardus juga secara konsisten mengecam PSN serta ekspansi perkebunan kelapa sawit dan tambang nikel yang dinilainya merusak alam Papua.
Ia menyebut praktik tersebut sebagai bentuk “ketamakan” dan “kerakusan” penguasa dan pemilik modal yang mengancam keberlangsungan hidup masyarakat adat Papua.
--- Guche Montero
Komentar