INSPIRASI Wakapolri Wahyu Hadiningrat, Buah Kaderisasi di Densus 88/Antiteror Polri 03 Oct 2026 18:03
Pengalaman dan kehebatan seorang senior tidak boleh berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan, nilai, disiplin, dan pengalaman lapangan harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Oleh: Valens Daki-Soo*
Komisaris Jenderal Polisi Wahyu Hadiningrat kini mendapat amanah baru sebagai Wakil Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Wakapolri).
Presiden Prabowo Subianto melantik Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sebagai Wakapolri di Istana Negara, Jakarta, 1 Oktober 2026.
Wahyu menggantikan Komjen Pol Dedi Prasetyo dan akan mendampingi Kapolri Jenderal Pol Suyudi Ario Seto dalam memimpin Korps Bhayangkara.
Bagi saya, perjalanan karier Wahyu Hadiningrat menarik untuk dicermati. Ia bukan hanya perwira tinggi yang memiliki pengalaman panjang di bidang reserse, intelijen dan manajemen kepolisian, tetapi juga pernah berada dalam lingkungan operasi pemberantasan terorisme sejak masa-masa awal pembentukan dan penguatan Densus 88 Antiteror Polri.
Adalah Gories Mere, tokoh reserse dan intelijen Polri yang merintis pembentukan Densus 88. Sebagai staf khusus Jenderal Gories sejak 2001, saya relatif dekat mengikuti perjalanan dan kiprah Densus 88.
Wahyu merupakan lulusan Akpol 1992. Kariernya dimulai dari Polda Jawa Barat dan berkembang melalui berbagai penugasan di bidang reserse. Ia kemudian dipercaya sebagai Kasatgaswil Jawa Barat Densus 88/Antiteror Polri.
Yang menarik, dalam perjalanan tersebut Wahyu pernah terlibat dalam tim yang dibawa Gories Mere dalam perburuan teroris Dr. Azahari. Gories dikenal sebagai salah satu tokoh utama pemberantasan terorisme di lingkungan Polri.
Dari sinilah saya melihat pentingnya proses kaderisasi dalam institusi kepolisian dan organisasi apa saja.
Seorang pemimpin tidak lahir hanya karena pangkat dan jabatan. Ia ditempa oleh pengalaman, tugas berat, disiplin, keberanian mengambil keputusan, kemampuan bekerja dalam tim, serta kesediaan belajar dari para senior.
Saya cukup mengenal Jenderal Wahyu Hadiningrat, meski tidak sangat akrab sebagaimana kedekatan dengan beberapa perwira Densus 88 lainnya (berturut-turut berdasarkan senioritas): Jenderal Benny Mamoto, Jenderal Nikolaus Eko Riwayanto, Jenderal Tito Karnavian, Jenderal Petrus Golose, Jenderal Marthinus Hukom, Jenderal Ibnu Suhendra, Jenderal Herry Heryawan, Jenderal Simson Zeth Ringu dan kawan-kawan.
Pengenalan dan kedekatan itu terbentuk karena sejak sekitar 2004 saya cukup sering “ngumpul” dan berdiskusi bersama mereka di Posko Densus 88. Dari perjumpaan dan interaksi tersebut, saya mengikuti dari dekat dinamika serta perjalanan sejumlah perwira yang kemudian menjadi tokoh penting dalam pemberantasan terorisme di Indonesia.
Oleh karena itu, meskipun saya tidak mengenal Wahyu Hadiningrat secara dekat, saya memiliki apresiasi tersendiri terhadap sosoknya.
Saya menilai Jenderal Wahyu sebagai perwira yang tenang, bekerja senyap, berprestasi, dan memiliki reputasi yang baik. Ia bukan tipe perwira yang harus selalu tampil di depan untuk menunjukkan keberadaannya. Ada kesan bahwa ia lebih banyak bekerja, menjalankan tugas, dan membiarkan hasil yang berbicara.
Karakter seperti ini tentu menarik dalam sebuah institusi yang membutuhkan ketenangan, ketelitian, disiplin, serta kemampuan mengambil keputusan dalam situasi yang tidak selalu mudah.
Perjalanan Wahyu kemudian menunjukkan proses yang panjang: dari lapangan, reserse, penanganan terorisme, kepemimpinan kewilayahan, hingga berbagai jabatan strategis di Mabes Polri.
Wahyu pernah menjadi Kapolres Metro Bekasi dan Kapolres Metro Jakarta Selatan, kemudian menduduki sejumlah posisi strategis, antara lain Wakapolda Metro Jaya, Wakabareskrim Polri, Asrena Kapolri, hingga Astamarena Kapolri sebelum akhirnya dipercaya menjadi Wakapolri. Inilah pentingnya kaderisasi.
Pengalaman dan kehebatan seorang senior tidak berhenti pada dirinya sendiri. Pengetahuan, nilai, disiplin, dan pengalaman lapangan harus diwariskan kepada generasi berikutnya.
Dalam konteks tersebut, Gories Mere dan generasi awal Densus 88 memiliki peran penting dalam membentuk tradisi pemberantasan terorisme yang kemudian diteruskan oleh para perwira generasi berikutnya, termasuk Wahyu Hadiningrat.
Dari seorang perwira yang pernah berada dalam tim operasi antiteror, Wahyu berkembang melalui berbagai jenjang penugasan hingga akhirnya berada di salah satu posisi paling strategis dalam organisasi Polri.
Jabatan Wakapolri tentu bukan sekadar jabatan dan kehormatan, melainkan merupakan amanah besar. Wakapolri harus mampu membantu Kapolri memastikan organisasi berjalan efektif, profesional, disiplin, dan semakin dekat dengan kebutuhan masyarakat.
Oleh karenanya, ucapan selamat kepada Komjen Pol Wahyu Hadiningrat sekaligus merupakan harapan agar pengalaman panjangnya dapat menjadi modal untuk mengabdi lebih besar kepada bangsa dan negara.
Semoga pengalaman panjang dari lapangan, termasuk pengalaman dalam pemberantasan terorisme bersama generasi perintis seperti Jenderal Gories Mere, menjadi bekal berharga bagi Jenderal Wahyu untuk membawa Polri semakin profesional, kuat, humanis, dan dipercaya masyarakat.
Sejarah sebuah institusi tidak hanya dibangun oleh mereka yang berada di puncak, tetapi juga oleh proses panjang kaderisasi dari satu generasi kepada generasi berikutnya.
Perjalanan Komjen Pol. Wahyu Hadiningrat menjadi salah satu contoh bahwa kerja yang tenang, pengabdian yang panjang, prestasi, dan proses kaderisasi dapat membawa seorang perwira menuju amanah kepemimpinan tinggi di tubuh Polri.
Selamat bertugas, Jenderal.
Semoga selalu diberikan kekuatan, kebijaksanaan, kesehatan, dan keteguhan hati dalam menjalankan amanah untuk NKRI di bawah kibaran Sang Merah-Putih.
*) Penulis adalah staf khusus Komjen Pol Gories Mere sejak 2001 hingga purnabhakti; entrepreneur; pengamat pertahanan & keamanan.
Komentar