Breaking News

REFLEKSI Belajar Dari / Seperti Air 23 Aug 2021 09:03

Article image
Ilustrasi foto. (Foto: Wallpaper-HD.com)
Air tidak melakukan apapun selain mengalir saja, menghidupi yang lain tanpa berambisi bagi diri sendiri.

Oleh Valens Daki-Soo

 

KITA sering mendengar ungkapan bijak ini, "Mengalirlah seperti air."
Sembilan bulan pertama setelah pembuahan di dalam rahim ibunda, kita tinggal dalam -- sekaligus dipelihara oleh -- cairan amniotik. Itulah "air" yang membungkus kita dengan cinta tanpa syarat (unconditional love).
Sekarang, tubuh fisik kita -- saya tidak sedang bicara tentang "tubuh astral" -- terdiri dari 75 persen air (bahkan otak kita 85 persen). Sisanya hanyalah "air berotot". Maksud saya, betapa air itu 'mendominasi' tubuh fisik kita.

Kebijaksanaan Veda menekankan bahwa tubuh manusia adalah mikrokosmos alam semesta — 'Yat pinde tat brahmande (Anda adalah alam semesta di dalam alam semesta)'. Tidak heran jika lebih dari sekitar 70% tubuh manusia terdiri dari air, begitu pula 70% permukaan bumi. Teks-teks Veda memberikan Varuna, dewa air, tempat tertinggi dalam hierarki.

Abhijita Kulshrestha, seorang penulis India mengemukakan, ada beberapa kebenaran tentang sifat air, yang bila diterapkan pada kehidupan, pasti akan membantu Anda berkembang.

  1. Fluiditas: Hidup seperti air, selalu mengalir. Kita juga berada dalam arus yang konstan pada kontinum waktu — dari pengalaman ke pengalaman. Air yang tergenang menimbulkan bau busuk selama periode waktu tertentu. Hidup juga harus mengalir, agar esensinya tetap hidup — yaitu agar perasaan 'bersemangat' berkembang!
  2. Air selalu menemukan jalan: Tidak masalah apakah solusinya segera terlihat oleh Anda atau tidak, kehidupan akan menemukan jalan seperti halnya air — ia dapat menembus, mengelak, meluap, meresap, tetapi ia menemukan jauh. Air adalah salah satu elemen paling lembut tetapi paling gigih. Anda hanya perlu melihat-lihat atau bertahan cukup lama dan pasti hidup akan menemukan jalannya, seperti air.
  3. Bentuk dan kemampuan beradaptasi: Dibutuhkan bentuk wadah yang dituangkan, diwarnai oleh warna yang tercampur tetapi pada dasarnya tetap sama. Air adalah media yang cepat dan tidak terjerat dengan bentuk sementara. Kebenaran hidup adalah kebenaran roh - keilahiannya, kesatuannya dengan segala sesuatu yang lain. Sama seperti air tetap setia pada esensinya, kehidupan berkembang ketika kebenarannya — manifestasi dari roh — didorong.
  4. Tidak ada yang tidak bisa dibersihkan: Nyanyian aliran gunung, pemandangan samudera yang indah, pancuran pertama setelah musim panas yang terik, deburan ombak di pantai berbatu, pancuran air hangat setelah hari yang panjang , kegembiraan yang menakjubkan dalam es lilin — Tidak ada, sama sekali tidak ada yang tidak bisa dibersihkan oleh air — air menanamkan kesegaran, menanamkan kehidupan.
  5. Perairan sunyi mengalir dalam: Kata-kata mutiara kuno mungkin terdengar klise, tetapi mereka memiliki dunia kebijaksanaan yang tertanam di dalamnya. Ini adalah panggilan untuk duduk dalam keheningan, karena kedalaman pikiran yang bergemuruh hanya dapat dipahami dalam keheningan. Pikiran adalah lautan emosi yang luas dan kebenaran Anda sendiri — mutiara emas — terletak menunggu di tiramnya di kedalaman yang luar biasa.

Sedemikian vitalnya air berperan untuk kehidupan (vital dari kata "vita":kehidupan), sehingga tanpa air tiada kehidupan. Saya membayangkan, kalau saja air itu berkarakter seperti manusia, ditilik dari peran tersebut, pasti air berusaha "berdiri di puncak". Kalau jadi manusia, dengan merasa memiliki peran sehebat itu, ia akan berusaha mencari tempat paling tinggi agar berada di atas segalanya.

Namun, faktanya tidak begitu. Air selalu mencari tempat lebih rendah. Air bersedia menerima tempat paling bawah. Dia hanya 'bersedia' naik ke atas, menjadi segumpal awan untuk kemudian jatuh lagi sebagai hujan. Dia 'naik' untuk 'turun' lagi demi kehidupan.

Remaslah air, Anda tidak akan merasakan apapun. Genggamlah dia, tangan Anda akan menemui kehampaan. Namun, biarkan tangan Anda tetap lemas dan tergeletak tenang di dalamnya, maka Anda akan 'merasakan'nya. Ini analogi yang bagus untuk kebahagiaan. Ketika kita memburunya, kita tak merasakan apapun. Bersikaplah tenang di dalam batin, maka aura bahagia meresap di dalam dan memancar dari diri Anda.

Dari air saya belajar untuk menerima segalanya dengan lapang dada. Air mengajarkan saya untuk terus berbuat baik, meski kebaikan kita mudah dilupakan orang. Dari air saya petik hikmah, teruslah mengalir meski diriku "dilempar" dengan sampah fitnah, kebencian dan sikap tidak layak lainnya. Dari air saya ambil 'filsafat' kehidupan, kita tidak perlu mencari 'tempat tinggi', posisi penting, hanya untuk memuaskan diri dan segala hasrat duniawi. Kalaupun harus naik ke 'langit', itu hendaknya untuk menjadi gumpalan awan yang menjadi hujan berkat buat semua.

Dari air saya belajar menahan diri untuk tidak suka mengadili dan menghakimi orang lain. Justru kehormatan kita terletak pada sikap untuk tidak mencari posisi tertinggi. Ketika Anda bersikap sewajarnya dan tidak menganggap remeh orang lain, Anda akan diterima dengan rasa hormat secara alamiah.

Air tidak melakukan apapun selain mengalir saja, menghidupi yang lain tanpa berambisi bagi diri sendiri.

Semoga hidup Anda tetap bening mengalir di tengah dunia yang kadang diwarnai kekeruhan. Itulah kehidupan.

Salam bahagia.

 

Penulis adalah peminat filsafat-teologi, CEO VDS Group, Pendiri/Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar