OPINI 'Jadilah Imam (dan Awam) yang Sungguh-Sungguh!' - Sekeping Memori Tentang Mendiang Bapa Uskup Sensi 22 Nov 2023 20:29
Semoga para imam sungguh menjadi saksi Kristus yang meneguhkan, menghibur, menuntun, mengoreksi dan mendukung kami umat gembalaan mereka.
Oleh Valens Daki-Soo
SEBENARNYA orang-orang lain memiliki lebih banyak pengalaman pribadi dengan sosok Mgr. Sensi, sapaan almarhum Uskup Agung Ende Mgr. Vincentius Sensi Potokota. Sebagai frater pada masa itu, saya bukanlah anak didik/binaan beliau secara langsung, karena saya frater biarawan Societas Verbi Divini atau Serikat Sabda Allah (SVD) Seminari Tinggi Ledalero, sementara Romo Sensi adalah pembina frater projo atau calon imam diosesan di Seminari Tinggi Ritapiret. Romo Sensi waktu itu pembina para frater projo lintas diosesan yang menjalani fase persiapan Tahun Orientasi Rohani (TOR) di Lela, berjarak sekitar 30 menit perjalanan pakai bemo (angkot) dari Ledalero.
Suatu hari, tahun 1988, saat kami frater novis II SVD di Seminari Tinggi Ledalero, saya dipanggil Pater Andreas Mua, SVD, magister (pembina utama) kami di Novisiat SVD Ledalero. Novisiat adalah fase awal pendidikan sebagai frater (calon imam) sebelum menjalani tahapan studi Filsafat dan Teologi beberapa tahun di sekolah tinggi filsafat (meski hanya disebut filsafat dan teologi -- yang terdiri dari sejumlah cabangnya, sebenarnya para calon imam dibekali pula berbagai ilmu lainnya seperti anthropologi, sosiologi, psikologi, islamologi dan studi tentang agama pada umumnya, bahkan juga ilmu politik).
Oleh teman-teman sesama frater (konfratres) SVD, saya kebetulan dipercayakan jadi Ketua Novis II. Oleh karena itu Magister Pater Ande Mua panggil saya untuk infokan ini, "Frater, esok sore ada pertemuan dengan Romo Sensi. Beliau akan 'sharing' dengan kalian. Tolong atur dengan baik."
Keesokan harinya, pada senja yang tenang, teduh dan damai di Novisiat SVD tercinta, kami bertemu dengan Romo Sensi. Saya belum kenal beliau secara pribadi. Yang saya dengar adalah beliau ahli psikologi, khususnya konseling (counselling).
Romo Sensi adalah pembicara yang menarik. Imam muda ini runtut dan elok dalam diksi atau pilihan katanya. Tuturannya sering dihiasi senyuman. Kami disuguhi soal spiritualitas sebagai calon imam plus biarawan. Beliau bukan biarawan tapi imam projo, namun mengerti baik tentang bagaimana (seharusnya) hidup sebagai calon imam-biarawan yang juga calon imam-misionaris.
Tibalah saat tanya jawab. Seorang frater bertanya ringan kepada Romo Sensi, "Romo, sebagai remaja, bagaimana kami bisa menahan godaan atau mengolah ketertarikan kepada perempuan?"
Romo Sensi tersenyum sekilas mendengar pertanyaan itu. Namun wajahnya kembali serius dan menjawab, "Baik, pertanyaan yang menarik sesuai usia kalian. Pertama, saya mesti koreksi: kalian bukan lagi remaja, tapi dewasa-muda. Jadi, bersikaplah sebagai orang yang beranjak kian dewasa secara fisik maupun mental-psikologis. Kedua, cara untuk mengendalikan diri dalam afeksi terhadap perempuan adalah selalu ingat ke manapun kalian pergi bahwa kalian adalah calon imam. Tanamkan di dalam batok kepala kalian bahwa kalian terpanggil untuk menapaki jalan sunyi ini untuk suatu misi atau tujuan yang harganya sangat tinggi."
Ucapan Romo Sensi singkat tapi menyengat. Tenang tapi terasa menggelegar di dalam kalbu kami.
Romo Sensi lalu melanjutkan, "Ingat, suatu saat, ketika kamu menjadi imam, jadilah imam yang sungguh-sungguh. Dalam arti, kalian menjadi imam dengan kesadaran penuh, selalu dan di mana saja, bahwa kamu dipanggil dan diutus ke tengah dunia untuk mewartakan sabda Tuhan, untuk menjadi saksi Kristus, untuk menghadirkan wajah Allah yang mencintai semua manusia."
Nah, inilah pesan kunci Romo Sensi yang bahkan saat ini, puluhan tahun setelah itu, masih terngiang di relung batin saya, meski saya tidak jadi imam...
Saya pikir, harapan dan cetusan hati Romo Sensi tentang "menjadi imam yang sungguh-sungguh" itu perlu saya bagikan kepada semua imam dewasa ini. Para imam masa kini lebih mudah terpapar godaan dengan begitu kencang dan cepatnya era digital melanda kita. Jika tempo dulu imam-imam hanya hidup dengan doa dan karya dari hari ke hari, pada era digital ini para imam sudah harus terjun juga ke dalamnya. Para imam seyogianya hanya menggunakan gawai (gadget) seperti telepon genggam (HP) dan sebagainya sebagai sarana pewartaan. Suatu medium yang dapat dimanfaatkan untuk memancarkan sinar-sinar Kabar Gembira (Injil) kepada segala kalangan.
Semoga para imam sungguh menjadi saksi Kristus yang meneguhkan, menghibur, menuntun, mengoreksi dan mendukung kami umat gembalaan mereka. Peran ini sungguh relevan dan kontekstual dengan dinamika dan spirit kemajuan zaman (Zeitgeist) yang berubah dengan sangat cepat ini.
Namun, harapan dan himbauan Bapa Uskup Sensi itu -- jika dibaca dalam konteks lebih luas -- tidak hanya berlaku bagi para imam. Kaum awam Katolik pun perlu bahkan niscaya mesti menjadi "saksi Kristus yang sungguh-sungguh" dalam peran, fungsi, posisi dan tugas masing-masing. Kaum awam masa kini ditantang untuk terus mengasah diri dan menempa kepribadian, tidak saja dari segi kompetensi profesional, tetap juga bahkan terutama dalam kewajiban menjaga dan mengaktualisasi nilai-nilai etis-moral dalam aneka rupa profesi mereka.
Ada satu poin menarik yang perlu diangkat dalam catatan "In Memoriam" ini. Mgr. Sensi juga punya perhatian dan kepedulian khusus pada aspek nasionalisme, kehidupan bangsa dan negara. Beliau menghayati visi kebangsaan dan spirit keindonesiaan. Itulah sebabnya beliau secara khusus mengirim seorang imam muda dari Keuskupan Agung Ende, RD. Rofinus Neto Wuli yang akrab disapa Romo Ronny. Imam yang gaya khotbahnya seperti orator ini belajar di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), kawah candradimuka para calon pemimpin nasional di berbagai level dan lini. Romo Ronny bahkan menjadi lulusan terbaik dengan predikat "cum laude". Sang romo pun diizinkan Mgr. Sensi meneruskan studi di Universitas Pertahanan (Unhan) hingga meraih S2 M.Si (Han) dan S3 (Doktor) dari Universitas Negeri Jakarta. Romo Ronny lima tahun menjadi Pastor Bantuan Militer/TNI dan Polri (Pasbanmilpol) di Ordinariat Castrensis Indonesia atau Keuskupan TNI/Polri, membantu Uskup TNI/Polri Ignasius Kardinal Suharyo, yang sehari-hari Uskup Agung Jakarta. Kiprah sang romo sukses tentu karena dukungan Mgr. Sensi.
Suatu ketika, saya menjemput Bapa Uskup Sensi dari wisma keuskupan menuju tempat pertemuan dengan para alumni Seminari Mataloko (Alsemat). Saya bercerita dengan nada bangga tentang kiprah Romo Ronny yang menonjol di Lemhannas, Unhan dan di Keuskupan TNI/Polri. Bapa Uskup Sensi dengan nada bercanda menyahut, "Itu Ronny punya mau-mau. Pasti dia kuliahi itu tentara-tentara." Saya tertawa dan meyakini Uskup Sensi pun bangga dengan para imamnya yang sungguh-sungguh.
Besar harapan saya, Bapa Uskup Budi Kleden melanjutkan visi dan spirit ini.
***
Masih ada beberapa kenangan yang membekas dalam memori saya tentang Bapa Uskup Sensi. Akan selalu diingat pesan dan nasihatnya kepada saya terkait suatu "badai kehidupan" yang pernah menerpa saya sekian tahun lampau. Kebijaksanaan dan empatinya sangat menguatkan jiwa. Pada posisi seorang konselor yang mengerti baik psikologi dan sebagai imam yang penuh pengertian, beliau menempatkan sesama sebagai subyek dan bukan obyek. Masalah batin atau problem psikologis dibedahnya dengan tenang tanpa nada menyalahkan atau menuding salah satu pihak. Beliau mengerti bahwa pribadi yang sedang bermasalah perlu dikuatkan, diteguhkan, bukan dilemahkan dan diciutkan hatinya.
Kita perlu belajar dari Monsinyur Sensi tentang sikap menghadapi penderitaan. Ini sangat penting karena selama hidup di dunia yang fana-sementara ini, kita tak bebas dari derita dan duka. Mungkin itu sebabnya senior kami di Ledalero yang sekarang pimpinan tertinggi (superior general) SVD sejagat, Pater Dr. Paul Budi Kleden, SVD pernah menulis buku "Membongkar Derita". ( _Saat tulisan ini diserahkan kepada editor, Pater Budi Kleden telah menjadi Uskup Agung Ende_ ).
Ya, hidup dan penderitaan adalah satu paket keniscayaan. Duka dan derita adalah bagian integral dari kehidupan. Rasa sakit karena penolakan, kehilangan orang yang dicintai, kegagalan usaha, konflik antar pribadi, didera penyakit, dan berbagai bentuk derita lainnya adalah satu adukan/campuran dari wajah manusiawi kita. Itu sebabnya kita perlu menghadapi semuanya dengan tenang dan bijaksana, dengan hati kuat dan jiwa perkasa.
Hal itulah yang ditunjukkan secara luar biasa oleh Yang Mulia Mgr. Sensi di ujung akhir hidupnya. Sejumlah penyakit menderanya di usia 72 tahun, harus berbulan-bulan menahan perihnya rasa sakit dan harus ditanggungnya sendiri. Tak seorang dari kita yang bisa mengambil-alih deritanya. Namun, beliau tetap tegar dengan begitu mengagumkan. Air mataku menetes menonton video Bapa Uskup Sensi memimpin sendiri misa temu UNIO (persatuan imam projo Indonesia) di Mataloko, Ngada, Flores beberapa bulan lalu.
Dengan tongkat episkopalnya dia berdiri tenang meski wajahnya sudah sangat berubah karena deraan penyakit. Ketampanannya sudah sirna, yang tersisa adalah wajah kuyu. Namun sinar matanya masih memancarkan kekuatan jiwa. Sikapnya menunjukkan ketabahan pribadi yang patut jadi teladan.
Terima kasih, Bapa Uskup Sensi, yang dalam penderitaan jelang akhir hidupmu, masih ingin berada di tengah para imam dan umat gembalaannya.
***
Selain memori yang berwarna sedih, saya mengenang sisi lain Bapa Uskup. Beliau imam yang serius namun tetap punya rasa humor, punya wajah yang selalu tersenyum (smiling face).
Terkenang cerita, suatu ketika kami (staf saya Simon Leya dan Ryano Djogo serta saya sendiri) mendampingi Bapa Uskup makan malam dengan Jenderal Gories Mere di sebuah restoran kawasan SCBD, Jakarta, tahun 2018.
Saat itu Bapa Uskup "sharing" ke Pak GM tentang suatu aset Keuskupan Agung Ende berupa tanah dan bangunan di Jakarta yang bermasalah. Atas arahan Pak GM, VDS Law Office ditugaskan menangani kasus itu.
Dari wisma uskup, Mgr. Sensi dijemput dan diantar pakai mobil operasional kami Innova berplat B 979 VDS oleh Bung Ryano. Bapa Uskup sempat tanya, "Wah, VDS ini namanya Valens kah?" Ryano menjawab, "Tidak, Bapa Uskup. Itu singkatan dari PT Veritas Dharma Satya." Lantas Bapa Uskup menukas sambil tertawa kecil, "Ah, itu Valens mau gara-gara saja. Itu nama dia." Untuk kerabat di luar NTT, gara-gara itu kalau di Flores artinya "bergaya".
Bahagia di Surga, Bapa Uskup Sensi terkasih.
Kerendahan hati, kehangatan senyum, jasa baik dan karya baktimu kami kenang dalam doa dan memori. ***
Penulis adalah:
Mantan Frater SVD Ledalero
Entrepreneur dan politisi
Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Staf Khusus Kepala BIN Letjen TNI Arie J. Kumaat (1998-2000)
Staf Khusus Wakil Kepala Staf TNI-AD Letjen TNI Kiki Syahnakri (2000-2002)
Staf Khusus Komjen Pol Gories Mere, Pendiri Densus 88/Antiteror Polri (2002 hingga kini)
Tenaga Ahli Kantor Staf Khusus Presiden Bidang Intelijen & Keamanan (2015-2020)
Komentar