INTERNASIONAL Amerika Serikat Luncurkan Serangan Militer Skala Besar kepada Milisi Houthi, Yaman 16 Mar 2025 09:14
Trump memperingatkan "hujan neraka akan turun" kepada milisi Houthi jika mereka tidak berhenti. Trump juga memperingatkan Iran, pendukung utama Houthi, bahwa negara itu perlu segera menghentikan dukungan kepada kelompok itu.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump meluncurkan serangan militer berskala besar terhadap milisi Houthi Yaman pada hari Sabtu (16/3/2025). Serangan tersebut merupakan reaksi atas atas serangan Houthi kepada armada dan kapal kontainer Amerika Serikat di Laut Merah.
“Serangan Houthi terhadap kapal-kapal Amerika tidak akan ditoleransi. Kami akan menggunakan kekuatan mematikan yang sangat besar sampai kami mencapai tujuan kami," tulis Trump.
Trump memperingatkan "hujan neraka akan turun" kepada milisi Houthi jika mereka tidak berhenti. Trump juga memperingatkan Iran, pendukung utama Houthi, bahwa negara itu perlu segera menghentikan dukungan kepada kelompok itu.
"Amerika akan meminta pertanggungjawaban penuh kepada Anda dan, kami tidak akan bersikap baik tentang hal itu," tegas Trump.
Serangan yang sedang berlangsung akan berlangsung selama berhari-hari dan bahkan mungkin berminggu-minggu merupakan operasi militer AS terbesar di Timur Tengah sejak Trump menjabat pada bulan Januari.
Pada saat bersamaan Amerika Serikat meningkatkan tekanan sanksi terhadap Teheran sambil mencoba membawanya ke meja perundingan mengenai program nuklirnya.
Setidaknya 13 warga sipil tewas dan sembilan lainnya terluka dalam serangan AS di ibu kota Yaman, Sanaa, menurut kementerian kesehatan yang dikelola Houthi.
Biro politik Houthi menggambarkan serangan itu sebagai "kejahatan perang" dan mengatakan serangan AS juga meluas ke provinsi utara Saada.
"Angkatan bersenjata Yaman kami sepenuhnya siap untuk menanggapi eskalasi dengan eskalasi," ujar juru bicara Houthi dalam sebuah pernyataan.
Warga di Sanaa mengatakan serangan itu menghantam sebuah gedung di kubu Houthi.
"Ledakan itu dahsyat dan mengguncang lingkungan itu seperti gempa bumi. Ini membuat wanita dan anak-anak kami ketakutan," salah seorang warga, yang menyebut namanya Abdullah Yahia, mengatakan kepada Reuters.
Houthi, gerakan bersenjata yang menguasai sebagian besar Yaman selama dekade terakhir, telah melancarkan lebih dari 100 serangan yang menargetkan pengiriman sejak November 2023, mengganggu perdagangan global dan membuat militer AS melakukan kampanye yang mahal untuk mencegat rudal dan drone yang membakar persediaan pertahanan udara AS.
Houthi mengatakan serangan itu sebagai bentuk solidaritas dengan Palestina atas perang Israel dengan Hamas di Gaza.
Sekutu Iran lainnya, Hamas di Gaza dan Hizbullah di Lebanon, telah sangat dilemahkan oleh Israel sejak dimulainya konflik Gaza. Bashar al-Assad dari Suriah, yang sangat dekat dengan Teheran, digulingkan oleh pemberontak pada bulan Desember.
Namun, Houthi Yaman tetap tangguh dan sering melakukan serangan, menenggelamkan dua kapal, menyita satu kapal lagi, dan menewaskan sedikitnya empat pelaut dalam serangan yang mengganggu pengiriman global, memaksa perusahaan untuk mengubah rute ke perjalanan yang lebih jauh dan lebih mahal di sekitar Afrika selatan.
Pemerintahan AS sebelumnya di bawah Presiden Joe Biden telah berupaya untuk melemahkan kemampuan Houthi untuk menyerang kapal-kapal di lepas pantainya tetapi membatasi tindakan AS.
Pejabat AS, yang berbicara dengan syarat anonim, mengatakan Trump telah mengizinkan pendekatan yang lebih agresif.
Serangan dilakukan oleh pesawat tempur dari kapal induk Harry S. Truman, yang berada di Laut Merah, kata para pejabat.
Komando Pusat militer AS, yang mengawasi pasukan di Timur Tengah, menggambarkan serangan hari Sabtu sebagai awal dari operasi berskala besar di Yaman.
"Serangan Houthi terhadap kapal & pesawat Amerika (dan pasukan kita!) tidak akan ditoleransi; dan Iran, dermawan mereka, sedang waspada," tulis Menteri Pertahanan Pete Hegseth di X.
---R.Kono
Komentar