Breaking News

OPINI Apa Yang Selalu Menarik dari Mgr Vincentius Sensi Potokota? 27 Nov 2023 10:50

Article image
Mgr Vincentius Sensi Potokota. (Foto: Istimewa)
Bilamana saya dipandang tidak berlebihan, masih akan banyak dilahirkan uskup-uskup (bahkan mungkin Kardinal) dari Ibu bernama Ritapiret. Itulah kebanggaan.

Oleh Mgr Hilarion Datus Lega

 

Ketika berjumpa langsung Mgr Vincent Sensi Potokota di Mataloko, 24 September 2023, saya membatin: Uskup Agung Ende ini tidak bakal lama lagi hidupnya. Ia nampak parah.

Masih suka tersenyum manis, khas dia. Tapi jelas ia menyembunyikan kesakitan. Ia tdk dapat merayakan sampai akhir ekaristi pembukaan Munas UNIO itu.

 Akan tetapi masih ikut sebagian resepsi pembukaan malam itu dan luar biasa: ikut sesi pertama 25 September. Sensi yang saya kenal seperti akan selesai dengan hidupnya di dunia fana ini.

Saya bersyukur masih sempat mengunjungi dia di RS Carolus, Jakarta, 25 Oktober 2023.

Dahsyat. Lain dari perjumpaan di Mataloko persis sebulan lalu. Wajahnya merah, tidak pucat. Mengobrol lancar, tanpa ditanya.

Singkat kata: Sensi makin sembuh seperti sedia kala. Ternyata itu pertemuan terakhir sampai dengan maut menjemputnya Minggu, 19 Nopember 2023.

 

Apa yang selalu menarik dari Sensi?

Bagi saya tentu. Pertama, penampilan fisik atletisnya yang (amat) padu dengan ketampanannya.

Terpaut empat tahun dalam usia tahbisan, Sensi bagi saya orang yang dalam bahasa generasi  Z sekarang: cuakepp buangettt. Hidup bersama di Ritapiret empat sampai lima tahun.

Kedua, ia tidak pernah diragukan dalam hal kepemimpinan. Sebagai mahasiswa di urusan Senat dan sebagai Frater, ia pernah Ketua Umum.

Sensi adalah juga dirigen handal dan pernah menjadi kapten kesebelasan  sepakbola Ritapiret, ketika berhadapan dengan PSN (Ngada) dalam laga uji coba menjelang El Tari Memorial Cup.

Kedudukan akhirnya imbang 2 - 2. Paling berkesan: gol penyeimbang dicetak dengan heading (baca: tandukan) jitu Sensi. Ketika kesebelasan kami tertinggal 1 - 2.

Ketiga, terus terang saya kenal intensif Sensi. Ia salah seorang rekan senior yang episkopabilis.

Meski saya  lebih dahulu menjadi Uskup (2003), saya yakin Sensi bakal menjadi Uskup pula (2006). Ia uskup pertama Keuskupan Maumere.

Lantaran tugas yang sama setiap tahun pasti berjumpa sejak 2006 itu dalam rapat tahunan Konferensi Waligereja Indonesia (KWI).

Pertemanan seperti seiring seperjuangan. Dari rekan uskup NTT yang suka sekali saya candai (baca: ganggu-ganggu), kecuali Mgr. Frans Kopong Kung, ya Sensi itulah.

Sensi dari angkatan imamat 1980, Kopong dari 1982, dan saya dari 1984. Dekat-dekatlah. Itulah pertemanan.

Satu yang mengikat kami bersama, hemat saya, adalah bahwa kami berbangga menjadi Uskup dari sebuah alma mater yg sama: Ritapiret.

 Lama sekali sesudah Mgr Izak Doera menjadi Uskup di Sintang KalBar (1977), baru datang Mgr Longinus da Cunha sebagai Uskup Agung Ende (1996). Ini dua alumni kebanggan Ritapiret.

Mereka ini seperti 'bidan' yang melahirkan dan 'guru' yang meloloskan serta 'ilham' yang memunculkan barisan uskup-uskup jebolan Ritapiret: Benyamin Bria (2000 di Denpasar); Kopong tadi (2001 di Larantuka); saya (2003 di Sorong); Sensi itu (2006 di Maumere; kemudian ditransfer ke Ende, 2007); Domi Saku (2007 di Atambua).

Hampir berturutan muncul Silvester San; Hubert Leteng; Norberto Amaral; dan Edwald Sedu; serta Sipri Hormat.

Bilamana saya dipandang tidak berlebihan, masih akan banyak dilahirkan uskup-uskup (bahkan mungkin Kardinal) dari Ibu bernama Ritapiret. Itulah kebanggaan.

Terakhir, saya tulis ini sebetulnya sehubungan dengan rasa bangga saya akan Mgr. Vincent Sensi Potokota yang baru seminggu lalu meninggal dunia dalam damai Tuhan.

Beristirahatlah Sensi dalam keabadian. RIP.

Manokwari, 26 Nov.  2023. Hari raya Kristus Raja Semesta Alam). ***

 

Penulis adalah  Uskup Manokwari-Sorong

Komentar