Breaking News

BUDAYA Apresiasi Festival Reba Ngada Jakarta, Bupati Andreas Segera Teken SK Penetapan sebagai Festival Tahunan 21 Feb 2023 10:58

Article image
Suasana Festival Reba Ngada Diaspora Jabodetabek 2023, Anjungan NTT-TMII, Sabtu (18/2/2023). (Foto: sandy)
Kegiatan tahunan Festival Reba Ngada Jabodetabik ini sangat penting bagi generasi muda di Jabodetabek untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai luhur budaya Ngada.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co – Pemerintah Daerah Kabupaten Ngada (Pemda Ngada) akan menetapkan Festival Reba Ngada Jabodetabek sebagai event tahunan dan dimasukkan dalam kalender tetap program festival budaya yang didukung Pemda Ngada. 

“Saya selaku Bupati Pemerintah Kabupaten Ngada, akan menetapkan dalam surat keputusan, agar Reba untuk wilayah Jakarta, Bogor,Tangerang, Bekasi, masuk dalam kalender tetap setiap tahun,” kata Bupati Ngada Andreas Paru saat memberikan sambutan di sela acara Festival Reba Ngada 2023 di Anjungan NTT, TMII, Jakarta, Sabtu malam (18/2/2023).

Menurut Bupati Andreas, kegiatan tahunan Festival Reba Ngada Jabodetabik ini sangat penting bagi generasi muda di Jabodetabek untuk memahami dan menginternalisasi nilai-nilai luhur budaya Ngada melalui perayaan Reba, sebagai bagian inti dari tradisi nenek moyang yang telah diwariskan dan dilaksanakan secara turun temurun.

“Ini (Festival Reba) penting, karena generasi kita, anak-anak cucu kita, dalam situasi kondisi Jakarta yang hingar-bingar ini, kalau tidak kita lakukan langkah-langkah strategis untuk melestarikan Reba, dan tarian-tarian, maka itu akan punah. Oleh karena itu Pemerintah Kabupaten Ngada akan menetapkan ini agar jadi kalender tetap yang akan dilakukan (setiap tahun). Nanti akan kita koordinasikan dengan Ketua Paguyuban (IKBN Jakarta) tepatnya, bahwa pada bulan Februari kita akan tuangkan dalam surat keputusan, sehingga kita akan laksanakan secara rutin,” jelas Bupati Andreas.

Dia menambahkan, penetapan Festival Reba Jabodetabek untu masuk dalam kalender tetap sangat berasalan. “Kenapa kita harus laksanakan karena di sini ada kita (Ata Ngada), ada yang harus kita jaga bersama,” tegasnya.

Untuk itu, Bupati Andreas sangat mengapresiasi kepada semua pihak yang terlibat dalam acara Festival Reba Ngada 2023. “Khususnya kepada senior-senior, di mana saya melihat ada rangkaian acara dari mulai Misa Inkulturasi sungguh-sungguh luar biasa, dengan tidak melupakan nilai dan makna dari pada Reba yang selama ini kita laksanakan di Kabupaten Ngada. Terima kasih. Saya bangga dan warga Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi, Kabupaten Ngada kalian hebat dan luar biasa,” ungkap Bupati Andreas.

Di kesempatan yang sama, Bupati Anderas menyampaikan bahwa kekuatan masyarakat Ngada dalam menjaga tradisi, termasuk penyelenggaraan Reba yang digelar hampir di setiap kampung adat di wilayah Kabupaten Ngada, bahkan di kota metropolitan Jakarta, maka menjadi sangat pantas dan layak jika Pemerintah Republik Indonesia sejak tahun 2018 telah menetapkan tradisi Reba di Kabupaten Ngada sebagai warisan budaya non benda. “Sangat pantas dan layak kita saksikan bersama bagaimana kemeriahan dari Festival Reba Ngada yang ditampilkan oleh warga Jakarta, Bogor, Tangerang, Bekasi. Apalagi kalau ditampilkan di kampung,” sambungnya.

Demikian juga, lanjut Bupati Andreas, bahwa pada tahun 2021 lalu, Pemerintah Kabupaten Ngada juga menerimam piagam penetapan tarian Jai sebagai warisan budaya non benda. “Dan belum lama ini, di tahun 2022 kami juga hadir di Jakarta, untuk menerima penetapan Ngada sebagai Kabupaten Terbaik Pemelihara Kebudayaan,” ungkap Bupati Andreas.

Adapun penerima penghargaan Kabupaten Terbaik Pemelihara Kebudayaan hanya ditujukan bagi tiga kabupaten yaitu Kabupaten Ngada, Kabupaten Ponorogo, dan Kabupaten Dharmasraya.

Peran Generasi Muda

Sementara itu, Wakil Gubernur Nusa Tenggara Timur Josef Nae soi yang juga hadir dalam Festival Reba Ngada Jabodetabek ini berharap generasi muda harus terus terlibat dalam setiap perayaan adat. Dengan cara ini, regenerasi pelaku adat akan terjadi. Secara jangka panjang, jika pelaku adat ada, maka budaya itu dengan sendirinya akan lestari.

Pihaknya juga menjelaskan saat ini di setiap kabupaten di NTT diwajibkan memiliki setidaknya satu festival budaya. Festival Reba hanya satu dari sekian banyak ekspresi budaya lain yang ada di NTT. "Hal ini dilakukan karena kami mau menurunkan nilai-nilai budaya ini kepada generasi muda. Tentu saja tidak dengan cara tradisional lagi," katanya.

Dia meyakini waktu yang terus berjalan dan berubah juga membuat segala sesuatunya berubah. Oleh karena itu, perlu ada penyesuaian agar budaya bisa lebih dekat kepada anak muda. Meskipun demikian, perubahan tertentu tidak boleh menghilangkan nilai-nilai hakiki dalam budaya tersebut.

Nilai-nilai hakiki tersebut ialah hubungan antara manusia dengan Tuhan, sesama manusia, alam, dan menghormati arwah yang sudah berpulang. Menurutnya, adat bisa dimodernisasi, tetapi bukan menghilangkan eksistensi dari adat tersebut. ***

 

--- Sandy Javia

Komentar