REFLEKSI Belajar dari Ayub: Tetap Tegar Meski Kehilangan Segala 01 Aug 2024 16:57
Tuhan telah menjaga api hidupku tak padam, energi jiwaku tak sirna, semangat hatiku makin bernyala.
Oleh Valens Daki-Soo
Banyak orang, khususnya tokoh-tokoh besar, menulis berdasarkan pengalaman sukses mereka. Sebaliknya, saya menulis justru berangkat dari pengalaman kegagalan, kejatuhan bahkan mungkin kehancuran yang pernah dialami. Harapan saya, ada sesama yang memetik hikmah, nilai dan manfaat bagi hidupnya.
Orang bijak bilang, "Daripada menunggu diri sendiri gagal baru belajar, lebih baik lebih dulu belajar dari kegagalan orang lain."
Terdorong niat agar hidup saya bermanfaat bagi sesama, sekecil apapun manfaat itu, selalu ada setitik doa tiap kali saya menulis 'status' di Facebook, semoga tulisanku berguna khususnya bagi mereka yang sedang bergulat dalam derita, kepahitan, ketidakpastian, kegamangan, bahkan kegagalan hidup.
Semuanya bermula dari pengalaman pribadiku yang sedemikian berat, sehingga seorang sahabat mencoba menghibur saya dengan mengisahkan kembali "pengalaman Ayub". Itu terjadi pada tahun 2004.
Dalam kisah religius klasik (seperti digambarkan dalam Alkitab), Ayub adalah seorang saleh yang begitu mencintai Tuhan namun mengalami aneka ujian luar biasa. Dia kehilangan semua: keluarga, harta, ladang, ternak, pekerjaan, pengaruh dan nama baik. Segalanya hancur berantakan, dan dia tidak punya apa-apa lagi.
Hanya satu yang tetap dimiliki: sumbu iman yang terus bernyala, bagai api yang tak bisa padam meski dihempas-hempas angin malam.
Dalam ketekunan dan kesabaran yang luar biasa, Ayub akhirnya menerima kembali segala sesuatu yang telah hilang itu berlipat ganda. Tuhan begitu mencintainya, dan deritanya pun usai sudah.
"Ya, tapi saya bukan Ayub," begitu saya berucap dengan nada getir kepada sang sahabat. Resistensi atau penolakan terhadap pengalaman yang menyakitkan itu manusiawi.
Saya sempat protes keras kepada Tuhan, "Ada apa ini, Tuhan? Salah saya apa? Mengapa ini menimpa saya? Mengapa pula saya yang disalahkan, padahal saya gak 'ngerti' apa yang sebenarnya terjadi? Di manakah Engkau, Tuhan? Engkau benar ada kan? Tapi mengapa Engkau diam saja?"
Ya, sahabatku itu salah membandingkan saya dengan Nabi Ayub. Berbeda dengan Ayub yang begitu saleh, takwa dan pasrahkan segalanya kepada Tuhan, saya malah protes, marah, kecewa dan tidak menerima rentetan pengalaman "kehilangan eksistensial" yang mendera saya bertubi-tubi.
Agustus 2004, saudari kandungku terkasih (adik yang kedua) meninggal akibat kecelakaan/ditabrak ketika dibonceng sepeda motor oleh seorang adik sepupu kami dalam perjalanan Nangaroro-Bajawa. Hanya beberapa hari dirawat di RSU Ende dalam kondisi koma, adik saya -- Carolina (disapa Lince) -- berpulang tanpa pernah sempat terjaga. Kabut dukacita menyelimuti keluarga kami, air mata Ibunda seakan terus membanjir.
Hanya empat puluh hari setelah ditinggalkan adik kandung tercinta, saya mesti hadapi lagi kejadian tak terduga: 'kehilangan' istri dan anak. Dukacita karena kepergian adik belum usai, air mata belumlah kering dalam keluarga kami, musibah ini terjadi bagai palu godam meremuk hati. Dalam kondisi limbung saya terus bertanya kepada Tuhan, "Ya Tuhan, ini apa lagi? Mengapa semuanya terjadi?"
Dua bulan setelah kejadian tersebut, saya pun dinyatakan berhenti dari perusahaan tempat kerja yang selama itu merupakan sumber utama penghasilan saya. Di perusahaan suplai peralatan militer itu, saya diberi posisi sebagai Manajer Marketing. Oleh karena kehilangan konsentrasi kerja, pimpinan kantor memanggil saya dan dengan bahasa santun diplomatis bertutur, "Pak Valens, kami bersimpati pada kesulitan Bapak saat ini. Namun, perusahaan harus jalan terus, untuk sementara Bapak istirahat dulu."
Sejak itu saya 'istirahat' seterusnya alias keluar dari kantor tersebut. Selain kehilangan sumber utama pendapatan, saya mesti rela tak punya mobil lagi dan nyaris pula kehilangan rumah.
Dalam kondisi megap-megap secara ekonomis, Tuhan menolong saya melalui Pak Kiki Syahnakri (Letjen TNI Purn, mantan Wakil KSAD) dan istrinya, Bu Ratna Syahnakri. Beruntung, saya sudah menjadi staf beliau sejak masih aktif di Mabes AD. Hingga kini saya sudah menganggap mereka keluarga/orang tua saya. Semoga keluarga ini selalu dalam lindungan Tuhan. Amin.
Saya juga dibantu Pak Gories Mere yang mengajari saya banyak hal tentang dunia terorisme, dan memotivasi saya untuk maju terus.
Dengan membantu kedua tokoh tersebut, saya melangkah lagi, meski kadang tertatih-tatih, belum sepenuhnya keluar dari "kelimbungan eksistensial" akibat tragedi hidup.
Perjalanan setelah itu bagaikan "pengalaman di gurun kehidupan" yang kersang, tandus, panas terik dibakar matahari, dijauhi banyak teman dekat, rubuhnya nama baik, penistaan, fitnah dan penolakan.
Dulu saya memang bersekolah di seminari, sebuah lembaga pendidikan calon pastor/imam, dan kehidupan kami sebagai calon imam amat kental diwarnai doa. Namun, rasanya tidak pernah saya mengalami "situasi doa" sepanjang waktu, seperti saya alami waktu menderita 'kesesakan hidup' seperti kala itu.
Tiap saat hatiku berteriak dalam sunyi, meminta kepada Yang Ilahi, agar menolongku melintasi badai hidup ini.
Malam-malam yang panjang saya lewati dalam sepi. Ya, malam panjang dan kelam, karena saya selalu menanti fajar pagi cepat datang lagi.
Malam panjang saya lewati dengan doa tanpa henti, kadang tertidur dalam posisi seperti bersimpuh meditasi, dengan lilin-lilin yang bernyala setia hingga padam sendiri.
Hari-hari silih berganti, segala berita dan gosip datang dan pergi, posisi saya tetap sendiri dengan keyakinan di hati, apapun yang dikatakan orang lain, kebenaran pasti menyatakan diri pada saatnya nanti.
Saya memang beragama, saya mengimani Sang Pencipta. Namun, saya begitu mengalami kehadiran dan kekuatan cinta-Nya justru saat dihadang amukan badai, diterpa gelombang keras yang nyaris mematahkan tiang-tiang pertahanan diri.
Malam-malam panjang dalam perjalanan, bagai langit tanpa bintang, dan bulan terkubur begitu dalam. Ya, bulan terkubur dalam kebohongan dan manipulasi fakta, kebenaran seakan kalah melawan kepalsuan.
Di tengah samudera kebimbangan yang gelap gulita, bintang penuntun mampu menenangkan resah jiwa.
Saya berterima kasih kepada para sahabat yang menyertai dan mendampingiku saat hidup begitu berat.
Saya mengalami kasih sejati dari kedua orang tua yang mencintaiku tanpa syarat, memberiku selimut cinta yang bikin hatiku tetap hangat.
Saya berutang budi kepada para kerabat -- sedikit orang yang begitu ikhlas -- yang tanpa bosan meneguhkan keyakinanku bahwa segalanya pasti lewat.
Dalam memori ini, saya kenang adik bungsuku yang tampan dan kecintaan kami, Bento (telah berpulang ke haribaan Tuhan, 2013 silam). Bento adalah adik yang tak pernah mau pergi jauh dari kakak sulungnya yang menderita.
Roda hidup terus berputar, badai perlahan mereda, harapan mulai menggantung di cakrawala, hati yang remuk telah menguat bahkan kian membaja.
Tuhan telah menjaga api hidupku tak padam, energi jiwaku tak sirna, semangat hatiku makin bernyala.
Kasih Tuhan melimpah-ruah, mukjizat-Nya nyata tak terkira, orang-orang baik berdatangan membawa berkat, pribadi-pribadi berhati tulus menjadikanku sahabat.
Kini, saya bersyukur untuk segalanya dengan hati riang, jiwaku bernyanyi seperti bunga-bunga liar di padang, yakin dan percaya kasih-setia Tuhan selalu hadir dalam untung dan malang.
Saya berdoa untuk para kerabat, semoga sehat sejahtera dan bahagia dalam ziarah kehidupan ini.***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar