Breaking News

INTERNASIONAL Dewan Pakar BPIP, Djumala: Kunjungan Menlu Iran ke China Berpotensi Redakan Ketegangan AS-Iran 08 May 2026 10:12

Article image
Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala. (Foto: Ist)
Dalam konteks itu saya melihat China berpotensi berperan sebagai mediator, sebab China pernah menghimbau agar Iran mendengarkan suara internasional soal Selat Hormuz.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Kunjungan Menteri Luar Negeri (Menlu) Iran Abbas Araghchi ke Beijing memberikan harapan bagi potensi peredaan ketegangan di Selat Hormuz antara AS dan Iran. Betapa tidak, China memiliki modalitas politik, militer dan ekonomi untuk berperan sebagai pihak yang menengahi konflik AS-Iran.

Demikian pernyataan Dewan Pakar Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Darmansjah Djumala, melalui pernyataan tertulis yang diterima di Jakarta, Jumat (8/5/2026).

Media pada 6 Mei 2026 memberitakan bahwa Menlu Iran memulai langkah diplomatik pertama ke China sejak pecahnya perang antara AS-Iran yang meletus pada 28 Februari 2026 lalu.

Menlu Araghchi bertemu dengan Menlu China Wang Yi membahas hubungan bilateral serta perkembangan regional dan internasional, termasuk situasi Timur Tengah yang tegang. AS  mendesak Beijing memanfaatkan pengaruhnya terhadap Iran agar membuka kembali Selat Hormuz.

Lebih jauh Dubes Djumala menegaskan bahwa perang yang dipicu oleh serangan udara AS-Israel terhadap target militer dan pemerintahan Iran – yang kemudian direspons Iran dengan serangan rudal, drone, serta penutupan Selat Hormuz – ternyata telah mengganggu perdagangan global.

Djumala menegaskan, China sebagai importir utama minyak Iran dan sekutu dekatnya, memiliki daya tekan politik, militer dan ekonomi terhadap Iran. China bisa memaikan pengaruhnya itu untuk menjadi meredakan ketegangan antara kedua negara.

Dubes Djumala, yang pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Austria dan PBB, menengarai Iran sedang memperkuat posisinya melalui aliansi dengan China untuk menghadapi tekanan unilateral AS di bawah Presiden Trump. 

Ketika Iran menutup Selat Hormuz, AS meresponnya dengan melakukan blokade laut di Teluk Oman untuk memutus akses kapal-kapal internasional ke pelabuhan-pelabuhan di pantai Selatan Iran.

Dubes Djumala mengingatkan penutupan Selat Hormuz dan blokade laut akan berdampak signifikan terhadar alur perdagangan dan ekspor energi dari negara-negar Teluk ke berbagai belahan dunia.

Tindakan tersebut pada gilirannya akan mengganggu stabilitas ekonomi dunia yaitu meningkatnya harga minyak dunia.

Djumala berharap agar pertemuan Menlu Iran dan Menlu China dapat menghasilkan pemahaman yang sama bahwa tindakan menutup saluran energi dunia di Selat Hormuz dan blokade laut tidak hanya merugikan Iran dan AS, tetapi juga akan berdampak buruk terhadap ekonomi dunia secara keseluruhan.

Dalam konteks itu saya melihat China berpotensi berperan sebagai mediator, sebab China pernah menghimbau agar Iran mendengarkan suara internasional soal Selat Hormuz,” kata Djumala.

Seperti diberitakan, Presiden Trump merencanakan untuk berkunjung ke China pada pertengahan Mei ini.

”Dunia berharap pertemuan tingkat tinggi antara Trump dan Jinping nanti memberikan secercah harapan bagi peredaan ketegangan antara AS dan Iran di Timur Tengah, khusunya di Selat Hormuz,” pungkas Dubes Djumala. *

--- F. Hardiman

Komentar