NASIONAL Kemlu Bentuk Dirjen Diplomasi Ekonomi, Dubes Djumala: Langkah Relevan dan Perlu Diapresiasi 14 Jan 2026 21:27
Pembentukan unit kerja diplomasi ekonomi itu dimaksudkan untuk menegaskan peran Kemlu sebagai strategic enabler dalam melakukan debottlenecking berbagai isu ekonomi krusial.
JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Diplomasi ekonomi tidak boleh direduksi hanya dalam konteks ekonomi bisnis-sektoral semata, tapi harus dipahami dan dilaksanakan dalam perspektif geopolitik dan geoekonomi global.
Karena itu pembentukan kembali direktorat jenderal yang secara khusus menangani diplomasi ekonomi di Kemlu merupakan langkah yang relevan dan perlu diapresiasi.
Hal tersebut ditegaskan oleh Dewan Pakar BPIP Bidang Strategi Hubungan Luar Negeri, Dr. Darmansjah Djumala, menanggapi Pernyataan Pers Tahunan Menteri Luar Negeri 2026, di Ruang Nusantara, Kemlu, 14 Januari 2026.
Unit kerja khusus menangani diplomasi ekonomi itu selevel eselon satu dan diberi nama Direktorat Jenderal Hubungan Ekonomi dan Kerja Sama Pembangunan (HEKSP).
Menlu Sugiono mengungkapkan bahwa pembentukan unit kerja diplomasi ekonomi itu dimaksudkan untuk menegaskan peran Kemlu sebagai strategic enabler dalam melakukan debottlenecking berbagai isu ekonomi krusial.
Dr. Djumala, yang pernah menjabat sebagai Dubes RI untuk Austria dan PBB, mengungkapkan unit diplomasi ekonomi bukan hal baru dalam perjalanan sejarah Kemlu.
”Pada masanya pernah ada unit selevel eselon satu di Kemlu yang khusus menangani diplomasi ekonomi, yaitu Direktur Jenderal Hubungan Ekonomi Luar Negeri (HELN), sebelum dibubarkan pada 2001,” ujarnya melalui keterangan tertulis.
Terkait dihidupkannya kembali ditjen urusan diplomasi ekonomi, Dubes Djumala mengingatkan bahwa pembentukan Ditjen HEKSP Kemlu bukan sekadar penambahaan struktur birokrasi dan kelembagaaan.
”Langkah ini mencerminkan kesadaran bahwa diplomasi ekonomi kembali menjadi jantung kebijakan luar negeri, terutama di tengah dunia yang semakin terfragmentasi oleh rivalitas geopolitik dan geoekonomi global,” katanya.
Dikatakannya, dewasa ini ekonomi internasional tidak lagi beroperasi dalam ruang netral dan teknokratis. Dengan semakin kompleksnya interelasi antara geopolitik dan geoekonomi, diplomasi ekonomi tradisional yang hanya mempromosikan TTI (trade, tourism, investment) terasa usang. Kini isu perdagangan, investasi, pariwisata dan bantuan pembangunan menjadi bagian dari power politics.
Pada bagian lain Dubes Djumala, yang pernah juga bertugas sebagai Kepala Sekretariat Presiden/Sekretaris Presiden pada periode pertama Presiden Jokowi, menggarisbawahi pernyataaan Menlu Sugiono terkait ungkapan “strategic enabler dalam melakukan debottlenecking”.
Menurut Dubes Djumala, ungkapan itu mengandung makna bahwa Kemlu harus menjadi garda terdepan dalam melakukan diplomasi ekonomi di luar negeri dan dalam memfasilitasi kementerian lain menghilangkan hambatan-hambatan dalam diplomasi ekonomi dengan negara mitra kerjasama.
“Ada nuansa peran koordinator dalam menyelaraskan pelaksanaan diplomasi ekonomi di luar negeri dengan kepentingan nasional dalam dinamika rivalitas geopolitik dan geoekonomi global,” ujarnya.
Dubes Djumala mengatakan bahwa dirinya yakin Kemlu mampu melaksanakan fungsi koordinator diplomasi ekonomi karena para diplomatnya terdidik dan terlatih untuk memahami setiap masalah internasional dalam perspektif geopolitik dan geoekonomi dunia.
“Ditengah dunia yang semakin transaksional, Indonesia perlu menegaskan bahwa kerja sama ekonomi bukan hanya soal angka statistik ekspor, investasi dan pariwisata semata. Tetapi juga tentang bagaimana diplomasi ekonomi itu dilaksanakan sehingga membawa kemanfaatan bagi rakyat, mempertahankan kedaulatan kebijakan, dan menjaga kesinambungan kebijakan itu dalam jangka panjang,” tutup Dubes. *
--- F. Hardiman
Komentar