Breaking News

AGAMA Duta Besar Vatikan untuk Indonesia Resmi Buka Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia 2025 05 Nov 2025 22:22

Article image
Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Benjamin, OSC, membawakan homili dalam Ekaristi pembukaan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2025. (Foto: Dok. Tim Pubdok SAGKI 2025)
Uskup Anton mengingatkan pentingnya Gereja terlibat dan peka terhadap persoalan kemanusiaan yang dihadapi bangsa.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Duta Besar Vatikan untuk Indonesia, Mgr. Piero Pioppo, secara resmi membuka kegiatan Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) tahun 2025 yang diselenggarakan di Hotel Mercure Convention Center, Ancol, Jakarta Utara, Senin (3/11/2025).

Kegiatan SAGKI 2025 akan berlangsung selama lima hari (3-7 November), dihadiri oleh 374 orang; yang terdiri dari 254 laki-laki (termasuk 41 uskup aktif dan 4 uskup emeritus) serta 120 perempuan dari 38 Keuskupan dan satu Keuskupan TNI/Polri.

Adapun tema SAGKI tahun 2025 yakni:  “Berjalan Bersama sebagai Peziarah Pengharapan: Menjadi Gereja Sinodal yang Misioner untuk Perdamaian.”

Berpartisipasi dalam Misi Gereja

Dalam kotbahnya pada perayaan Ekaristi pembukaan, Ketua Konferensi Waligereja Indonesia (KWI), Mgr. Antonius Subianto Benjamin, OSC, menekankan bahwa salah satu unsur penting Sidang Agung Gereja Katolik Indonesia (SAGKI) adalah Gereja Sinodal; yakni Gereja yang mau mendengarkan-- yang muda mendengarkan yang tua, yang tua mendengarkan yang muda. 

"Inilah keberagaman dalam Gereja. Dalam kasih, tidak ada satu pun yang dikecualikan, tidak didengarkan, atau tidak mendengarkan. Semua orang dipanggil untuk berpartisipasi dalam misi,” kata Uskup Anton, melansir Indonesia. ucanews.com 

Menyinggung Tema, Uskup Anton mengatakan bahwa Gereja Katolik Indonesia ingin memperkuat komitmen Sinode Para Uskup untuk membangun Gereja yang sinodal melalui persekutuan, partisipasi, dan perutusan.

Uskup Anton mengutip pesan Paus Leo XIV dalam Misa Penutupan Yubelium Sinode pada 26 Oktober 2025 yang lalu; bahwa relasi dalam Gereja hendaknya tidak didasari oleh logika kekuasaan dan hierarki, melainkan oleh logika kasih dan semangat berjalan bersama secara sinodal.

Uskup Anton lalu mengajak seluruh umat Katolik di Indonesia untuk mendengarkan Roh Kudus dengan semangat dialog, persaudaraan, dan keberanian (parehesia) untuk berbicara tentang kebenaran secara terbuka dan jujur.

"Sikap inilah yang dapat membantu Gereja menanggapi panggilan untuk berjalan bersama mencari Allah. Kearifan ini menuntut kebebasan batin, kerendahan hati, doa, dan kepercayaan," katanya.

“Kita tidak dapat membentuk Gereja sinodal yang misioner jika tertutup pada Roh Kudus atau masih terikat pada rasa bangga diri yang berlebihan, memikirkan diri sendiri, keuskupan sendiri, pulau sendiri, atau daerah sendiri,” lanjutnya.

Kegiatan pembukaan dan perayaan Ekaristi diwarnai oleh corak keberagaman; para peserta SAGKI mengenakan pakaian adat daerah masing-masing.

Doa Umat dalam Ekaristi pembukaan juga dibawakan dalam sejumlah bahasa daerah; Papua, Manado, Jawa, Bali dan Dayak.

Tarian dan lagu daerah dari Sumatera hingga Papua turut disuguhkan dalam acara tersebut sehingga menambah semarak suasana pembukaan SAGKI 2025.

Implementasi Deklarasi Istiqlal

Uskup Anton menegaskan pentingnya komitmen Gereja Katolik Indonesia untuk melanjutkan semangat Deklarasi Istiqlal dalam SAGKI 2025 ini.

“Semoga SAGKI 2025 ini menghasilkan kearifan gerejawi sinodal yang memihak kaum periferi, baik secara geografis maupun psikologis, yang menjadi kekuatan bersama dalam memperjuangkan keadilan dan perdamaian, meningkatkan martabat manusia dengan menindaklanjuti Deklarasi Istiqlal,” ajak Uskup Bandung tersebut.

Uskup Anton menyebut, Deklarasi Istiqlal yang ditandatangani oleh mendiang Paus Fransiskus dan Imam Besar Masjid Istiqlal  Nasaruddin Umar, menjadi pijakan bersama dalam mengatasi dehumanisasi dan krisis lingkungan demi keutuhan ciptaan.

Adapun Deklarasi Istiqlal–Vatikan ditandatangani di Masjid Istiqlal, Jakarta, saat kunjungan Paus Fransiskus ke Indonesia pada September 2024 lalu. 

Uskup Anton mengharapkan agar SAGKI 2025menghasilkan kebijaksanaan Gereja yang relevan dan kontekstual dengan kehidupan umat dan masyarakat luas.

Ia mengingatkan agar seluruh proses sidang tidak berhenti pada formalitas, tetapi berbuah pada keputusan yang berakar pada kasih dan keadilan.

“Sidang ini diharapkan menjadi harapan dan perdamaian bagi mereka yang tak punya, yang tak diperhitungkan, dan yang hidupnya bergantung pada harapan terhadap kita,” ujarnya.

Sebagai bagian dari dinamika sinodal yang terbuka, kata Mgr. Anton, SAGKI juga menjadi ruang bagi Gereja untuk mendengarkan berbagai pergulatan sosial di Indonesia.

Dalam semangat itu, Uskup Anton mengingatkan pentingnya Gereja terlibat dan peka terhadap persoalan kemanusiaan yang dihadapi bangsa.

Dengan semangat tersebut, SAGKI 2025 menjadi tonggak penting bagi Gereja Katolik Indonesia untuk terus menghadirkan terang iman di tengah masyarakat yang majemuk, memperteguh komitmen kebangsaan, dan menumbuhkan harapan baru bagi umat serta bangsa Indonesia.

Hadir mendampingi Duta Besar Vatikan untuk Indonesia dalam acara pembukaan yakni Ketua KWI, Mgr. Antonius Subianto Benjamin, OSC; Dirjen Bimas Katolik, Suparman; dan Ketua Panitia, RD. Alfonsus Widhiwiryawan, SX.

--- Guche Montero

Komentar