BERITA Enam Gunung Erupsi Bersamaan pada 31 Agustus, Berikut Penjelasan PVMBG 04 Sep 2026 20:57
Fenomena tersebut tidak menunjukkan adanya satu rangkaian erupsi besar secara serentak dan tidak serta-merta berhubungan dengan gempa tektonik.
BANDUNG, IndonesiaSatu.co-- Enam gunung api di Indonesia mengalami erupsi secara bersamaan pada 31 Agustus 2026.
Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) memastikan erupsi tersebut tidak saling memicu.
"Ada enam gunung yang erupsi pada 31 Agustus," ucap Kepala PVMBG, Siti Sumilah Rita Susilawati saat konferensi pers di kantor Badan Geologi, Kota Bandung, Rabu (2/9/2026).
Enam gunung api tersebut yakni Gunung Ibu di Maluku Utara, Gunung Semeru di Jawa Timur, Gunung Lewotobi Laki-laki dan Gunung Ili Lewotolok di Nusa Tenggara Timur, Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, serta Gunung Sinabung di Sumatera Utara.
Rita menjelaskan, Indonesia berada di kawasan Cincin Api Pasifik (Ring of Fire) dan memiliki 127 gunung api aktif. Dalam kondisi tertentu, beberapa gunung api dapat mengalami erupsi pada hari yang sama atau dalam waktu berdekatan.
Menurut dia, kondisi tersebut merupakan bagian dari dinamika aktivitas vulkanik di Indonesia.
Setiap Gunung Punya "Dapur" Masing-masing Rita menegaskan, kedekatan waktu erupsi enam gunung tersebut tidak menunjukkan bahwa gunung-gunung itu saling terhubung ataupun saling memicu.
Setiap gunung memiliki sistem magma, karakter, dan perkembangan aktivitas masing-masing.
"Kalau bahasa sederhananya, dapurnya itu masing-masing, dapurnya itu sendiri-sendiri. Dan proses menuju erupsi antara satu gunung dengan gunung yang lainnya itu juga berbeda-beda," jelasnya.
PVMBG juga tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu keenam gunung tersebut erupsi pada tanggal yang sama.
"Kami tidak menemukan bukti adanya satu proses geologi yang memicu seluruh erupsi tersebut secara bersamaan di tanggal 31 Agustus," katanya.
Erupsi Tak Otomatis Dipicu Gempa
Rita juga menjelaskan hubungan antara gempa bumi dan aktivitas gunung api. Menurut dia, gempa bumi dan aktivitas vulkanik merupakan dua proses geologi yang berbeda. Dalam kondisi tertentu, gempa bumi memang dapat memengaruhi gunung api, terutama jika gunung tersebut sedang aktif atau mendekati kondisi erupsi. Namun, gempa bumi tidak otomatis menyebabkan gunung api erupsi.
"Hubungan antara gempa bumi dan erupsi juga tidak dapat disimpulkan hanya karena keduanya terjadi dalam waktu yang berdekatan. Hubungan tersebut harus dibuktikan melalui perubahan data pemantauan, seperti peningkatan kegempaan didalam gunung, perubahan bentuk tubuh gunung, peningkatan pelepasan gas, dan perubahan suhu," jelasnya.
PVMBG terus memantau aktivitas gunung api melalui jaringan pos pengamatan gunung api. Rita mengatakan, penentuan peningkatan aktivitas gunung api tidak hanya didasarkan pada tinggi kolom erupsi yang terlihat.
Badan Geologi menganalisis berbagai data, seperti kegempaan di dalam gunung, perubahan bentuk tubuh gunung, pelepasan gas, suhu kawah, kondisi kawah, pola erupsi, pengamatan visual, dan data satelit.
Rita juga memaparkan perkembangan aktivitas sejumlah gunung api hingga Rabu (2/9/2026) pagi.
Salah satunya Gunung Sinabung di Sumatera Utara yang mengalami kenaikan status dari Level II (Waspada) menjadi Level III (Siaga) pada 31 Agustus 2026 sekitar pukul 12.00 WIB.
Peningkatan status dilakukan setelah hasil pemantauan menunjukkan peningkatan kegempaan yang kemudian diikuti erupsi pada pukul 10.17 WIB. Erupsi tersebut menghasilkan kolom abu setinggi sekitar 3.500 meter di atas puncak yang bergerak ke arah timur dan tenggara.
Berdasarkan pengamatan pada 1 September 2026, asap kawah berwarna putih hingga kelabu teramati setinggi sekitar 100-300 meter di atas puncak. Aktivitas kegempaan vulkanik dan getaran terus-menerus juga masih terekam.
Sementara itu, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III (Siaga), yang berlaku sejak 2 Juli 2026. Pada 31 Agustus 2026, Gunung Anak Krakatau kembali mengalami erupsi dengan kolom erupsi sekitar 200 meter di atas puncak. Hingga Rabu pagi, status dan rekomendasi gunung tersebut belum berubah.
Badan Geologi meminta masyarakat dan wisatawan tidak beraktivitas di desa-desa yang telah direlokasi, dalam radius 3 kilometer dari puncak Gunung Sinabung, serta radius 6 kilometer pada sektor selatan dan timur.
Masyarakat yang tinggal di sekitar sungai yang berhulu di Gunung Sinabung juga diminta mewaspadai kemungkinan lahar saat hujan.
Warga Diminta Tidak Panik
Rita memahami kekhawatiran masyarakat, khususnya di wilayah pesisir Banten dan Lampung, mengenai kemungkinan tsunami akibat aktivitas Gunung Anak Krakatau.
Namun, ia menegaskan bahwa erupsi Gunung Anak Krakatau tidak otomatis menimbulkan tsunami. Karena itu, Rita meminta masyarakat tidak panik atau menyimpulkan kondisi gunung api hanya berdasarkan banyaknya gunung yang mengalami erupsi maupun potongan foto dan video yang beredar di media sosial.
Masyarakat diimbau memahami kondisi gunung api di wilayah masing-masing, termasuk tingkat aktivitas dan rekomendasi yang dikeluarkan oleh PVMBG.
Badan Geologi terus memantau aktivitas gunung api di Indonesia dan akan memperbarui status serta rekomendasi apabila terdapat perubahan aktivitas yang signifikan.
Badan Geologi menegaskan, erupsi beberapa gunung api dalam waktu berdekatan merupakan dinamika kondisi kegunungapian di Indonesia. Fenomena tersebut tidak menunjukkan adanya satu rangkaian erupsi besar secara serentak dan tidak serta-merta berhubungan dengan gempa tektonik.
--- Guche Montero
Komentar