REFLEKSI Hidup: Mengambil Keputusan 03 Aug 2024 09:37
Sebagai pemimpin, belajar mengambil keputusan yang baik tanpa ragu-ragu atau menunda-nunda adalah kemampuan yang dapat membedakan Anda dari rekan-rekan Anda.
Oleh Valens Daki-Soo
Hidup adalah rangkaian momentum pengambilan keputusan. Kita tidak bisa mengelak dari itu. Tidak mengambil keputusan adalah juga sebentuk pengambilan keputusan: memutuskan untuk tidak mengambil keputusan.
Pertanyaannya, kapan saat yang tepat untuk membuat keputusan penting? Atau, bagaimana seyogianya kondisi batin tatkala kita mesti mengambil keputusan besar?
Pertama, sedapat mungkin pikiran dan perasaan kita bebas dari tekanan emosional, misalnya tidak dalam kondisi "galau". Rasa galau mengaburkan suasana batin dan bikin kita kehilangan rasionalitas yang jernih.
Kedua, kearifan klasik menasihati kita agar "dalam kebimbangan jangan ambil keputusan apapun!" Artinya, ambillah keputusan ketika kita merasa tenang, teguh dan yakin diri.
Ketiga, keputusan dapat diambil setelah pertimbangan multiaspek dilakukan. Begitu keputusan diambil setelah pertimbangan matang, silakan eksekusi dengan berani, tegas dan konsisten.
Keempat, kita tak mungkin bisa memuaskan semua orang. Jika ada pihak/orang yang tidak puas dengan keputusan kita, itu problem mereka, bukan urusan kita.
Kelima, 'last but not least', libatkan Daya Ilahi, Tuhan Mahabijak, dalam setiap keputusan dan upaya mengeksekusinya.
Martin G. Moore dalam artikelnya berjudul "How to Make Great Decisions, Quickly," (Harvard Business Review, 22/3/2022) berpendapat, sebagai pemimpin, belajar mengambil keputusan yang baik tanpa ragu-ragu atau menunda-nunda adalah kemampuan yang dapat membedakan Anda dari rekan-rekan Anda.
Sementara orang lain bimbang dalam memilih pilihan yang sulit, tim Anda mungkin memenuhi tenggat waktu dan memberikan hasil yang memberikan nilai sebenarnya. Itu adalah sesuatu yang akan membuat Anda — dan tim — diperhatikan.
Satu-satunya cara pasti untuk mengevaluasi efektivitas suatu keputusan adalah dengan menilai hasilnya. Seiring berjalannya waktu, Anda akan mengetahui apakah suatu keputusan itu baik, buruk, atau biasa-biasa saja.
Namun jika Anda hanya mengandalkan analisis retrospektif, jalan menuju keputusan yang lebih baik bisa jadi sulit: Melihat ke belakang sangat rentan terhadap bias atribusi.
Oleh karena itu, jika Anda memiliki daftar atribut untuk mengevaluasi suatu keputusan secara prospektif (seperti yang diberikan di bawah), Anda dapat memperkirakan terlebih dahulu apakah keputusan tersebut akan baik atau tidak. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar