Breaking News

POLITIK Ilham Akbar Habibie: Kompromi Politik Bukan Bagi-Bagi Kue 09 Feb 2024 12:58

Article image
Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara (FDN) Ilham Akbar Habibie. (Foto: Simon Leya)
Pada hemat Ilham, kata kunci kompetisi dalam konteks ekonomi atau politik adalah suatu keharusan, dengan catatan harus fair.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co -- Ketua Dewan Penasihat Forum Dialog Nusantara (FDN) Ilham Akbar Habibie mengatakan, kompromi adalah perhatian dari pemerintah kepada yang menjadi bagian dari non-pemerintah.

Tapi kalau kompromi artinya kita bagi-bagi kue, kita bagi-bagi kekuasaan, maka semua yang menjadi mandat kita untuk membawa negara ke suatu tujuan yang telah kita sepakati, itu bukan suatu kompromi yang baik.

Ilham mengatakan ini ketika menutup panel talkshow bertajuk "Pilpres dan Memulihkan Distorsi Kompetisi Menjadi Kompromi" yang diselanggarakan FDN di Perpustakaan Habibie & Ainun, Rabu (7/2/2024).

Panel diskusi tersebut dibuka secara resmi oleh Direktur Eksekutif FDN Justino Djogo, MA, MBA.

Menurut Ilham, ada hal-hal yang tidak bisa kita kompromikan. Jadi jangan kita lihat kompetisi itu otomatis menjadi kompromi.

Dikatakannya, kompetisi perlu untuk menghasilkan yang terbaik dengan catatan kompetisi yang bersih, fair, adil, etika-moral, apapun, yang menjadi kualitas itu bagus.

"Kalau kompromi artinya bagi-bagi kue dan tidak mencapai tujuan, nah di situ masalahnya," tegas Ilham.

Dijelaskan Ilham, kompetisi merupakan suatu asas dari demokrasi. Biasanya di dunia ini, demokrasi selalu dibarengi dengan fiar competition. Fair competition akan menghasilkan yang terbaik.

Ilham memberi contoh dalam bidang ekonomi. Kalau sebuah perusahaan menjadi terlalu besar, maka dia cenderung untuk unfair, tidak sehat.

Karena itu, oleh sebuah lembaga seperti KPPU, perusahaan tersebut dipecah. Ini mungkin tidak sering terjadi di Indonesia, tapi banyak dilakukan di Amerika Serikat dan banyak negara barat.

Pada hemat Ilham, kata kunci kompetisi dalam konteks ekonomi atau politik adalah suatu keharusan, dengan catatan harus fair. Kalau tidak, kompetisi tidak akan berfungsi sebagai suatu mekanisme untuk menghasilkan yang terbaik.

Kalau dalam konteks politik, tegasnya lagi, kompetisi terutama adalah ide, program, dan sebagainya dalam suatu negara untuk mencapai suatu tujuan. Tujuan kita adalah Indonesia Emas.

Sebagai rakyat, kita tidak hanya memilih yang paling pintar, paling kita bisa percaya, tapi dia juga punya suatu program untuk membawa kita ke mana, ke suatu arah.

"Siapa yang paling dipercaya, bukan orangnya saja, tapi program, kemampuan, reputasi, itu semua menjadi suatu paket. Dan kalau sudah dipilih, ada yang menang," papar Ilham

Disebut kompromi kalau terjadi dalam suatu pemerintahan, ada yang masuk pemerintahan, ada yang masuk oposisi, maka pemerintah memutuskan atau mengimplementasikan apa yang menjadi mandatnya.

Karena dia menang dalam kompetisi, maka ide itulah yang didukung. Namun yang kalah patut diperhatikan.

"Menurut saya, di situlah komprominya."

Tampil menjadi pembicaraan dalam forum tersebut di antaranya Sudirman Said (Co. Captain Paslon No. 1; Muhammad Siroj (anggota dewan pakar Paslon No. 2; Hasto Kristiyanto (Sekretaris Eksekutif Paslon No. 3); Heru Dewanto (Wakil Sekretaris Eksekutif Paslon No. 3).***

--- Simon Leya

Komentar