Breaking News

OPINI In Memoriam: Gonzalo dan Nagekeo yang Kehilangan Pemimpin-Pelayan 04 Oct 2026 19:57

Article image
Almarhum Gonzalo Gratianus Muga Sada. (Foto: Ist)
Hari ini kursi Wakil Bupati Nagekeo langsung kosong, sepi. Namun, jejak sang pemimpin tidak tertinggal di kursi kekuasaan. Dia membekas dalam ingatan orang-orang yang pernah dilayaninya.

Oleh: Valens Daki-Soo*

 

Rakyat dan daerah Nagekeo, Flores, Nusa Tenggara Timur, sedang dilanda duka. Mereka kehilangan Wakil Bupati Gratianus Gonzalo Muga Sada -- biasa dipanggil Pak Gonzalo -- pada Sabtu, 3 Oktober 2026 malam. 

Kepergiannya begitu mendadak dan karena itu mengejutkan. Gonzalo mengembuskan napas terakhir di RSUD Aeramo, setelah sebelumnya mendapat penanganan medis. 

Ratap tangis yang tampak dalam video-video yang beredar di media sosial memperlihatkan betapa dalam duka yang dirasakan masyarakat Nagekeo.

Secara pribadi, saya hanya beberapa kali berjumpa dengan Pak Gonzalo. Karena itu, saya tentu tidak bisa menulis mendetil tentang dirinya seperti mereka yang sangat dekat, yang hidup dan bekerja bersamanya setiap hari.

Namun, saya tetap merasa perlu menulis obituari sederhana ini karena suatu alasan yang kuat.

Gonzalo berpulang ketika dirinya sedang berada di tengah kesibukan menata kembali Nagekeo yang porak-poranda akibat gempa dahsyat 15 Agustus 2026. Bencana itu merenggut banyak korban jiwa, menghancurkan dan merusak puluhan ribu rumah, serta membuat begitu banyak warga harus mengungsi. 

Di tengah situasi sulit itu, Gonzalo hadir menjalankan tugasnya. Bahkan sehari sebelum kepergiannya, ia masih menjalankan tugas di lapangan, memantau pekerjaan perbaikan jalan yang rusak di wilayah Aemali-Danga, Desa Rendu Tutubhada, Kecamatan Aesesa.

Oleh karena itulah, bagi saya, Gonzalo bukan sekadar seorang pejabat yang kebetulan meninggal ketika sedang menjalankan tugas. Dia meninggalkan kesan sebagai seorang abdi negara dan pelayan masyarakat yang memberikan dirinya bagi rakyat dan daerahnya hingga napas penghabisan. 

Saya perlu ulangi: Pak Gonzalo pergi ketika sedang bekerja untuk rakyat yang dipimpin dan dilayaninya.

Banyak orang memberi kesaksian bahwa Gonzalo adalah pemimpin yang rendah hati dan sangat merakyat. Dia tidak pilih kasih dalam memberikan perhatian. Dia selalu hadir ketika diundang, baik dalam acara sukacita maupun kedukaan. 

Dalam beberapa kali pertemuan, termasuk suatu pertemuan pribadi di Mbay, ibukota Nagekeo, saya sendiri mendapat kesan bahwa Pak Gonzalo memiliki karakter yang baik, tulus dan penuh tanggung jawab. Dia menunjukkan sikap respek atau rasa hormat kepada siapapun teman bicaranya. 

Mungkin justru di situlah letak kekuatan seorang pemimpin. Bukan pada seberapa tinggi kursinya, tetapi pada seberapa rendah dia bersedia membungkuk untuk mendengar dan merasakan denyut kehidupan orang-orang yang dilayaninya.

Tentang kepemimpinan, saya teringat figur hebat Nelson Mandela. Dalam warisan pemikirannya, kepemimpinan tidak dimaknai sebagai dominasi atas orang lain, melainkan sebagai pelayanan. Mandela menekankan pentingnya membangun masyarakat melalui persatuan, rekonsiliasi, dialog, pemulihan martabat, dan keterlibatan semua orang. 

Barangkali kita tidak perlu mencari teori kepemimpinan yang terlalu rumit untuk memahami sosok Gonzalo. Cukup melihat bagaimana dia selalu hadir di tengah masyarakat.

Banyak tugas dan urusan yang semestinya dilaksanakan oleh kepala daerah harus pula diembannya sebagai wakil kepala daerah. Dalam situasi Nagekeo yang sedang menghadapi masa pemulihan pascagempa, tanggung jawab itu tentu tidak ringan. 

Namun dia tetap hadir, tetap bergerak, tetap bekerja, sampai akhirnya tubuhnya tidak lagi mampu melanjutkan perjalanan.

Nagekeo kehilangan seorang pemimpin. Tetapi lebih dari itu, Nagekeo kehilangan seorang sosok yang dirasakan dekat oleh banyak orang.

Kematian memang selalu datang membawa kesunyian dan kepedihan yang tidak mudah diterima. 

Marcus Aurelius, filsuf Stoik sekaligus Kaisar Romawi, berkali-kali merenungkan kematian dalam "Meditations". Baginya, manusia harus menyadari bahwa hidup ini sementara dan karena itu yang terutama bukanlah berapa lama seseorang hidup, melainkan bagaimana ia menjalani hidupnya dengan kebajikan, tanggung jawab dan tujuan.

Kepergian Gonzalo mengingatkan kita pada hal yang sederhana tetapi sering dilupakan. Yaitu bahwa jabatan akan berakhir, kekuasaan akan berlalu, tetapi kebaikan yang ditanamkan kepada sesama dapat tinggal jauh lebih lama daripada kehidupan seseorang.

Hari ini kursi Wakil Bupati Nagekeo langsung kosong, sepi. Namun, jejak seorang pemimpin tidak hanya tertinggal di kursi kekuasaan. Dia membekas dalam ingatan orang-orang yang pernah ditemuinya, dalam tangan yang pernah dijabatnya, dalam warga yang pernah didengarnya, dalam keluarga yang pernah didatanginya ketika berduka, dan dalam masyarakat yang pernah merasakan kehadirannya.

Gonzalo mungkin tidak sempat menyelesaikan seluruh pekerjaan yang ingin dilakukan untuk Nagekeo. Dia mungkin masih memiliki banyak rencana, harapan dan cita-cita bagi daerah yang dicintainya. Tetapi kehidupan memang tidak selalu memberi manusia kesempatan untuk menyelesaikan semua yang direncanakannya.

Kita hanya bisa memberikan yang terbaik selama kesempatan itu masih ada.

Tampaknya, itulah yang dilakukan Gonzalo. Dia memberikan dirinya secara total dan tuntas bagi Nagekeo.

Kepada keluarga yang ditinggalkan, kepada Bupati Simplisius Donatus, jajaran Pemerintah Kabupaten Nagekeo, dan seluruh masyarakat Nagekeo, saya menyampaikan turut berdukacita yang sedalam-dalamnya.

Semoga segala kebaikan dan pengabdian almarhum menjadi warisan moral bagi mereka yang meneruskan pekerjaan besar membangun Nagekeo.

Terima kasih dan selamat jalan, Pak Gonzalo.

 Requiescat in Pace

 

*) Penulis adalah putra bangsa asal Nagekeo; entrepreneur dan politisi; aktif di Kantor Staf Khusus Presiden RI Bidang Intelijen & Keamanan (2015–2019)

Komentar