TAJUK Indonesia: Komunitas Solider 18 Jun 2018 03:09
Seseorang selalu terkesan dengan “kosakata” (pandangan) yang ditawarkan oleh mitra bicaranya. Ia selalu siap terlibat dalam intersubjektivitas (percakapan antar subjek) yang saling menghormati “kosakata-kosakata” yang lain.
INDONESIA adalah salah satu tamansari kemajemukan dunia. Dalam kaca mata geopolitik, Indonesia merupakan arena strategis yang mempertemukan pelbagai suku (Jawa, Batak, Bugis, Flores, Bali dan lain-lain) dan etnis (India, Cina, Arab, dan lain-lain) sejak dahulu kala. Penelitian para ahli linguistik mencatat lebih dari 1500 bahasa etnik di Indonesia, terdapat enam agama di Indonesia, dan aneka perbedaan kultural lainnya.
Fakta kebinekaan tersebut jika tidak diolah secara serius dapat mengancam keutuhan Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), atau dapat menimbulkan penderitaan dan konflik. Pada situasi ini, pandangan Rorty tentang sikap ironis-liberal sangat relevan jika dihadapkan dengan fakta kebhinekan bangsa. Dalam komunitas yang solider, seseorang tidak menganggap “kosakata-nya” sebagai yang paling benar, memaksakan kemutlakkan pandangan sendiri, atau meremehkan pandangan yang lainnya.
Sebaliknya, seseorang selalu terkesan dengan “kosakata” yang ditawarkan oleh mitra bicaranya. Ia selalu siap terlibat dalam intersubjektivitas (percakapan antar subjek) yang saling menghormati “kosakata-kosakata” yang lain.
Warga Negara dalam intersubjektivitas dapat menjadi seorang ironis yang tidak pernah yakin akan dirinya sendiri justru karena ia sadar bahwa istilah-istilah yang dipakai untuk mendeskripsikan diri sendiri bisa berubah, selalu sadar akan sifat kebetulan kosa kata mereka dan sebab itu sadar akan kebetulan dan kerapuhan diri mereka sendiri.
Selain itu, komunitas yang solider dalam ranah publik selalu memberikan kebebasan kepada setiap orang dalam persuasi, bukan ancaman. Ruang komunikasi intersubjektif yang bebas ini memberi batasan etis tidak mendatangkan penderitaan bagi yang lain. Kebebasan tidak dapat digunakan sewenang-wenang demi kepentingan diri, sebaliknya merugikan yang lain.
Fakta kebhinekaan Indonesia menyaratkan adanya solidaritas bersama. Sebagai satu komunitas yang solider, setiap warga Negara Indonesia dapat meningkatkan kepekaan dan imajinasi terhadap potensi dan aktualitas penderitaan sesama warga lainnya. Sikap bela rasa ini menciptakan rasa senasib-sepenanggungan: penderitaan, penghinaan, ataupun kekejaman yang akan dan telah dialami juga menjadi tanggung jawab dai yang lainnya.
Konektivitas kepekaan bangsa akan melampaui solidaritas primordial yang dapat menyebabkan munculnya konflik. Solidaritas memperluas rasa kekitaan sebagai satu komunitas sangat penting bagi penyelesaian tantangan dan persoalan yang timbul dari fakta kebhinekaan tersebut. Mari bersolider membangun bangsa!
Salam Redaksi IndonesiaSatu.co
Komentar