REFLEKSI Kita Bisa, Meski Kita Orang Biasa (Sebuah Pengalaman tentang "Mulai dari Nol") 27 Jun 2024 18:31
Kita bisa maju kalau kita mau berjuang dan menjaga sikap (attitude) yang baik. Karakter lebih penting daripada gelar.
Oleh Valens Daki-Soo
Saya terpicu komentar wartawan senior, pak Primus Dorimulu untuk "sharing" sekelumit pengalaman terkait bisnis beberapa waktu lalu.
Sebenarnya saya ini jadi pebisnis macam kebetulan saja. Tapi kalau direfleksi dalam terang iman, mungkin itulah "Dei providentia", penyelenggaraan Tuhan.
Soalnya, saya ini kosong-melompong dari segi ekonomi/bisnis karena sekolah hanya di seminari (Seminari Menengah Mataloko dan Seminari Tinggi Ledalero). Ambil SH pun hanya untuk bisa lebih mengerti hukum, meski akhirnya bikin kantor pengacara.
Kerja-kerja awal saya jauh dari bisnis.
Mulanya jadi wartawan Berita Yudha atas rekomendasi Om Valens Doy (Alm), orang baik dan wartawan Kompas yang saat itu jalin kerja sama dengan pengusaha Bambang Yoga Soegama (putra Jenderal Yoga Soegama, Kepala Bakin legendaris era Orba) sebagai investor yang mau ambilalih manajemen Berita Yudha, koran kecil milik TNI AD.
Setelah itu saya direkrut Dubes Keliling RI Urusan Timtim Pak Lopes da Cruz sebagai staf beliau di Kemlu RI, Jln. Pejambon. Tugas saya adalah menulis makalah, pidato, juga surat-surat laporan beliau kepada Pak Harto dan Menlu Ali Alatas.
Juga sambil rangkap membantu Brigjen (Marinir) Rusdi di Bais TNI (terakhir putra Madura ini pensiun dengan pangkat Mayjen Mar).
Ini semua semata karena saya bisa menulis (jadi, adik-adik muda yang berbakat menulis, teruslah mengasah kemampuan menulis).
Belakangan saya diminta Pak Kiki Syahnakri (waktu itu Asisten Operasi/Asops KSAD, berpangkat Mayjen TNI) untuk bantu beliau juga, sambi tetap bantu Pak Lopes.
Hingga Pak Kiki jadi Panglima Penguasa Darurat Militer Timtim (1999), Pangdam IX/Udayana (2000), Wakil KSAD berpangkat Letjen TNI (2000-2002), saya terus setia bantu beliau. Lagi-lagi karena bisa menulis.
Sambil terus bantu Pak Kiki yang sejak pensiun 2002 dari TNI menjadi Komisaris Utama Bank Artha Graha (sampai kini), saya diminta Pak Gories Mere bantu beliau, awalnya di Satgas Bom lalu di Densus 88/AT, juga kerja-kerja pribadi beliau, hingga sekarang ini.
Pada tahun 2010, Ibu Henny Nangoi (Wakil Dirut Bank Artha Graha Internasional, Tbk), salah satu kepercayaan Pak Tomy Winata (pemilik AG Network/Group), undang saya ke kantornya di lantai 5 Gedung AG.
Beliau minta saya "mengajar" di Diklat Bank AG. Saya terkejut karena saya tidak paham soal perbankan sama sekali. Bu Henny (orang Kristen yang taat, asal Manado, ambil MBA di Manila) beri saya semangat bahwa saya bisa mengajar/beri pelatihan tentang "character building". Mendengar itu, saya agak "terhibur" karena merasa mungkin bisa bicara soal topik ini.
Agak lucunya, karena tidak pernah mengajar, saya tampil perdana di hadapan para peserta Diklat Bank AG (para kepala cabang) lebih sebagai orator politik, bukan guru atau trainer. Tepuk tangan bertalu-talu karena mereka terbakar semangat saya rupanya.
(Kelak, Divisi Training & Consulting menjadi salah satu bagian dari PT Veritas Dharma Satya/PT VDS yang saya dirikan).
Selanjutnya, Bu Henny dan Pak Alex Susanto (Direktur SDM Bank AG) minta saya bikin PT (PT VDS) untuk tangani manajemen para sopir AG (ratusan orang). Mulanya saya tolak karena merasa tidak punya bakat bisnis dan tidak berlatar belakang sekolah bisnis. Saya hanya bisa menulis.
Dalam doa saya mohon petunjuk Tuhan, apakah ini berkat dan kehendak-Nya. Lalu saya merasa dikuatkan dan, maju!
Ternyata bisnis ini mendongkrak ekonomi pribadi dan banyak orang di sekitar saya.
Tak lama berselang, seorang pengusaha besar yang punya ribuan hektar tanah di Karawang, kebun kelapa sawit di Kalimantan, sahabat dekat Pak Kiki, minta saya tangani sekuriti di grup usahanya. Beliau ini yang, antara lain, punya Mal Tangerang City, Hotel Novotel dan Mercure, juga kawasan bisnis terpadu yang terbesar di Karawang, Galuh Mas (ada perumahan, mal, hotel dll).
Saya dapat sedikit jatah untuk tangani sekuriti. Maka saya bikin PT VDS Sekuriti, karena bisnis sekuriti harus ditangani PT tersendiri.
Jadi saya tak pernah minta bisnis kepada siapapun, tapi diberi.
Di sinilah saya merasa yakin, ini semata karena kasih karunia dan belaskasih Tuhan. Soalnya, saya benar-benar tak punya minat bisnis mulanya.
1 Desember 2015 saya bikin media online IndonesiaSatu.co sebagai wujud idealisme untuk ikut merawat semangat "satu dalam keanekaan", meski hanya dengan menulis.
Saya merekrut beberapa eks frater sebagai wartawan, Bung Simon Leya (mantan wartawan yang pernah bekerja di medianya Bang Primus Dorimulu) menjadi Pemred. Oleh karena media harus diterbitkan oleh badan usaha yang mandiri, saya bentuklah PT Veritas Media Bangsa.
Dengan dukungan teman-teman muda, kami pun membentuk VDS & Partners Law Office.
Terima kasih untuk banyak orang baik yang masuk dalam kehidupan saya, termasuk pak Primus Dorimulu, yang dengan latar belakang jurnalis dan pemred beberapa media ekonomi, banyak memberi inspirasi dan ilmu tentang bisnis.
Tentu, saya bukanlah apa-apa dibanding banyak orang yang sukses luar biasa.
Pesan tulisan ini hanyalah: kita bisa maju kalau kita mau berjuang dan menjaga sikap (attitude) yang baik. Karakter lebih penting daripada gelar. Kejujuran lebih utama ketimbang sekolah tinggi (meski sekolah tinggi adalah keuntungan dan bisa menjadi kelebihan). ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar