Breaking News

ENERGI Krisis Harga Minyak, Bisa Menjadi Momentum Penghematan, Efisiensi dan Konsolidasi Fiskal 12 Apr 2026 20:59

Article image
Energi angin. (Foto: ist)
Akselerasi hilirisasi dan industrialisasi berbasis SDA juga mendapat momentum yang bagus. Windfall profit juga dapat menjadi sumber pembiayaan transisi energi menuju energi hijau.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co  - Diskusi di media sosial dan media online tentang dampak krisis harga minyak karena perang AS-Israel versus Iran seperti mau kiamat.  Padahal guncangan global dari fluktuasi harga minyak pernah terjadi berkali-kali sejak masa Soeharto, Gusdur, SBY sampai Jokowi. Sekarang secara nyata kita menghadapinya. 

Ekonom INDEF, Prof. Didik J Rachbini, Ph.D. mengatakan, perspektif Indonesia dalam menghadapi guncangan tersebut harus ”out f the box” dengan melihat bahwa di balik krisis juga ada peluang. 

”Kita harus memanfaatkan Krisis Harga Minyak: Penguatan Sektor ’Natural Hedge’ (sumberdaya alam) Indonesia. Dalam menghadapi krisis, Indonesia memiliki keunggulan struktural dalam sektor berbasis sumber daya alam karena sektor ini mampu berperan sebagai sebagai ’shock absorber’ saat terjadi krisis energi global,” ujarnya melalui pernyataan pers di Jakarta. 

Rektor Universitas Paramadina mengatakan, kebijakan yang tepat akan menentukan sektor-sektor tersebut hanya menjadi “penyelamat jangka pendek” dan bahkan dapat justru menjadi fondasi transformasi ekonomi jangka panjang.

Krisis harga minyak ini, kata Didik, jelas di hadapan mata akan menekan perekonomian Indonesia melalui peningkatan biaya energi, tekanan fiskal subsidi, dan pelemahan nilai tukar. Namun di balik tekanan tersebut terdapat sejumlah sektor yang justru menunjukkan ketahanan (resilience) bahkan menjadi pemenang (winner) dalam kondisi tersebut.

Sektor-sektor tersebut meliputi sektor pertambangan batubara, minyak bumi, gas, dan panas bumi, bijih logam (nikel, timah, bauksit) dan  perkebunan (CPO dan karet).

Didik mengatakan, semua sektor tersebut basis inputnya domestik rupiah tetapi outputnya ekspor menghasilkan valuta asing, dollar, yen atau yuan, yang sekaligus keuntungan dari depresiasi nilai tukar. 

”Kita harus membuat kebijakan dan memberikan rekomendasi strategis untuk mengoptimalkan momentum tersebut guna memperkuat ketahanan ekonomi nasional,” katanya. 

Impor minyak mentah dan BBM, kata Didik, sangat rentan terhadap kenaikan harga minyak global. Hal tersebut juga berakibat pada tekanan transaksi berjalan, beban subsidi di dalam fiskal besar dan ada dampak deresiasi rupiah. 

Tetapi pada saat yang sama, sektor berbasis sumber daya alam (SDA) tertentu justru mengalami ”windfall effect”. Seperti pada masa SBY, yaitu ketika harga minyak naik tinggi, justru sektor ini mampu mendorong ekonomi tumbuh tinggi sekitar 6,5 persen.

Ini terjadi karena memanfaatkan harga komoditas global ikut naik dengan permintaan ekspor meningkat. Karena depresiasi otomatis meningkatkan daya saing ekspor semakin kuat.

 

Ini Sumberdaya Alam yang Menguntungkan

Apa saja sektor yang resilien dan peluang natural “Natural Hedge” yang menguntungkan?

Pertama, kata Didik, adalah pertambangan batubara, yang merupakan substitusi langsung terhadap energi minyak di dalam negeri.  

Permintaan global meningkat saat harga minyak tinggi menjadi peluang meningkatkan devisa dan penerimaan negara sebagai windfall tax. 

Kedua, dengan harga naik peningkatan lifting minyak minyak, gas, dan panas bumi bisa ditingkatkan karena secara relatif ongkos produksi menjadi murah. 

Ketiga, tambang bijih logam, seperti  nikel, timah, dan bauksit. Permintaan pada masa normal sangat tinggi dan lebih tinggi harganya pada saat krisis untuk memenuhi kebutuhan industri global (EV, elektronik, konstruksi).

Keempat, sumber daya alam yang sukses dalam pengembangannya adalah perkebunan CPO, karet, kakao, kopi dan lainnya. 

Produk CPO, kata Didik, berperan strategis sebagai substitusi energi (biofuel). Dinamika ekspor dominan, diuntungkan oleh depresiasi rupiah. Semua itu adalah berkah dari Tuhan meskipun krisis tetapi kita punya bantalan natural hedging. 

”Jadi semua potensi tersebut harus masuk kerangka kebijakan agar sektor ini menjadi ’Winner’.  Sektor ini sebagai Natural Hedge dimana depresiasi rupiah meningkatkan pendapatan ekspor dalam rupiah. Struktur biaya domestik tidak berubah, sebagian besar biaya produksi berbasis lokal dan tidak tertekan oleh impor mahal,” imbuhnya.

Karena itu, kata Didik, pemerintah tidak boleh menyerah dengan tekanan krisis harga minyak ini. Pasalnya karena kita memiliki natural hedge ini dan mutlak harus kebijakan dalam bentuk Srategi Fiskal Adaptif dengan mengoptimalisasi penerimaan negara dari windfall profit tersebut.

Pengusaha harus berkorban menahan keuntungan tersebut. Sebab, pasal 33 UUD 1945 menyatakan bumi air dan kekayaan alam dimanfaatkan sebesar-besar untuk kemakmuran rakyat.

Jadi, pengusaha tidak rugi ketika pemerintah mengambil tambahan keuntungan akibat dari krisis harga minyak, namun harus dilakukan dengan transparan.

”Danantara juga mendapat windfall profit dimana perusahaan negara yang bergerak di sektor ini mendapat manfaat. Hasil dari penerimaan secara otpimal dipakai untuk mengatasi krisis ini,” katanya.

 

Pemerintah Harus Cerdas

Bagi pemerintah yang cerdas, menurut Didik, krisis ini justru menjadi peluang untuk transformasi menuju pertumbuhan 6-7 persen. Karena itu, pemerintah harus melakukan kebijakan hilirisasi dan peningkatan nilai tambah dari produk tersebut, sehingga mendapat momentum tepat dengan orientasi ekspor sekuat mungkin.

Pertumbuhan ekonomi Indonesia tidak akan bisa melewati 5 persen jika hanya mengandalkan sektor domestik dan pengeluaran pemerintah. Karena itu, pemerintah harus mempercepat hilirisasi nikel, bauksit, kakao, rumput laut, perikanan, CPO dan sebagainya. 

Jadi transformasi tersebut adalah mengunggulkan resource based industry, yakni mendorong industrialisasi berbasis SDA (smelter, biofuel, green industry).

Didik mengatakan, kebijakan dan strategi transisi energi bahkan bisa mendapatkan momentum pada saat krisis ini. Karena itu, kita harus membuat kebijakan dengan mengunakan momentum ’windfall’ untuk mendanai transisi menuju ekonomi rendah karbon, sekaligus mengntegrasikan sektor “winner” ke dalam roadmap green economy.

”Jadi, krisis harga minyak tidak harus menjadi beban, melainkan dapat menjadi momentum penghematan, efisiensi dan konsolidasi fiskal. Akselerasi hilirisasi dan  industrialisasi berbasis SDA juga mendapat momentum yang bagus. Windfall profit juga dapat menjadi sumber pembiayaan transisi energi menuju energi hijau,” pungkasnya. *

 

 

 

--- F. Hardiman

Komentar