Breaking News

PENDIDIKAN Kurikulum yang Bertanya 20 Aug 2025 10:34

Article image
Orb, Mesin Pemindai Identitas Manusia (Sumber: Time Magazine)
Dalam Kurikulum Merdeka, yang saat ini sudah terdengar sayup-sayup dibunuh euforia Deep Learning, sebenarnya ikhtiar menjadikan pembelajaran sebagai jalan menemukan jati diri yang otentik sudah mulai dilakukan.

Oleh: Heribertus Jani*


Are you human? Apakah Anda seorang manusia? Demikian judul majalah Time edisi 23 Juni 2025. Judul ini mengacu pada cara kerja Orb, sebuah perangkat pintar yang berfungsi memindai identitas manusia. Mesin AI berbentuk bola yang oleh Sam Altman, salah satu pendirinya, dijagokan sebagai sarana untuk mempertahankan keistimewaan dan peran sentral manusia ini, merekam identitas seseorang hanya dengan menunjukkan iris mata. Dalam hitungan detik, orang akan menerima kode unik yang dikirimkan Orb ke World App, aplikasi khusus yang sudah dipasangkan sebelumnya di telepon seluler. Saat itulah yang bersangkutan secara resmi dianggap sebagai verified human, ‘manusia terverifikasi’. Kapan pun ia masuk ke sistem daring yang mewajibkan verifikasi dengan sistem proof of personhood Orb, ia akan dikenal sebagai manusia yang nyata dan unik, bukan mesin, bot, atau AI.

Meski disebut-sebut telah memverifikasi setidaknya 12 juta orang yang tersebar di 23 negara dan digadang-gadang akan memverifikasi sebanyak 50 juta orang hingga akhir 2025 (Time, 23/6/2025), di Indonesia Orb sudah dihentikan operasionalnya oleh Kementerian Komunikasi dan Digital karena soal izinan dan isu keamanan data pribadi.

Namun, fokus tulisan ini bukan pada perlu atau tidaknya kita mengadopsi bola pemindai ciptaan perusahaan Tools for Humanity ini. Yang akan dibahas di sini adalah klaim para pengembangnya bahwa Orb bisa mempertahankan keistimewaan atau keunikan setiap pribadi. Klaim ini mengingatkan kita pada misi yang diusung Deep Learning atau pembelajaran mendalam yang sedang digencarkan di Indonesia hari-hari ini. Dalam naskah akademiknya, pembelajaran mendalam disebut sebagai “pendekatan yang terfokus pada peserta didik sesuai dengan keunikan dan karakteristik mereka” (p. 14).

Sudah pasti bahwa keduanya berbeda secara substansial. Jika Orb merepresentasikan kepasrahan manusia di hadapan teknologi, deep learning adalah wujud keaktifan manusia membangun dan merawat esensi identitasnya agar tak teralienasi oleh teknologi.

Siapa Anda?

Sungguhpun terkesan filosofis, pertanyaan ‘Apakah Anda seorang manusia?’ adalah pertanyaan teknis belaka. Itu sama sekali bukan isyarat agar orang merenung dan merefleksikan keberadaannya sebagai manusia. Mereka yang telah menjadi ‘manusia terverifikasi’ tidak memberi diri untuk dipindai karena dorongan kesadaran intelektual dan moral yang mereka miliki. Yang terjadi sesungguhnya adalah manusia didefinisikan oleh mesin, bukan oleh kesadaran pribadi yang bersangkutan.

Sebab itu, jika bermaksud untuk menempatkan manusia sebagai entitas yang istimewa dan tak bisa disingkirkan begitu saja oleh AI, pertanyaan yang lebih tepat sebetulnya adalah ‘siapakah Anda?’ Atau dalam rumusan yang lebih reflektif: ‘siapakah aku?’. Ini pertanyaan tua yang relevan sepanjang zaman. Dalam tradisi filsafat Barat, pertanyaan ini banyak terinspirasi dari ajaran kuno yang terukir di Kuil Apollo di Delphi: Gn?thi Seauton (kenalilah dirimu sendiri).
Pertanyaan yang sama juga tidak lari jauh dari inti berbagai tradisi filsafat dan spiritual Timur. Dalam sufisme, misalnya, dikenal ungkapan ‘Barang siapa mengenal dirinya, ia akan mengenal Tuhannya’. Demikian juga ajaran anatta (tanpa diri) dalam Buddhisme yang merupakan jalan untuk mengenal diri sebagai entitas yang tidak permanen. Jadi, manusia menjadi khas, unik, dan istimewa hanya sejauh ia mengenal dirinya sendiri.

Berpikir reflektif

Namun tentu dalam dunia pendidikan pertanyaan ‘siapa Anda?’ dan jawaban yang diberikan setiap peserta didik atas pertanyaan itu tidak terjadi begitu saja secara alamiah. Di sini pendidik memainkan peran penting. Dengan pendampingan pendidik, setiap peserta didik menyelami jati dirinya hingga tidak saja mampu mengidentifikasi keistimewaan dan keunikan diri, tetapi juga sanggup mengaitkan semua informasi (pengetahuan) yang diterima dengan pengalaman pribadi dan konteks identitas dirinya. Pemikir pendidikan John Dewey (1933) menyebut pendekatan ini sebagai reflective thinking.

Perlunya pengenalan keistimewaan dan keunikan ini yang kemudian melahirkan konsep personalising education (OECD, 2006). Ketika pendekatan massal ala one-size-fits-all tidak menyentuh sudut-sudut personal, menyesuaikan pembelajaran sesuai persona (keunikan dan keistimewaan) setiap peserta didik adalah keharusan. Yang unik dan istimewa dalam hal ini bukan saja potensi dan karakter pribadi tetapi juga budaya dan semua konteks sosial yang menjadi latar kehidupan setiap orang (UNESCO, 2006).

Hari ini, ketika AI meniru hampir semua potensi manusia, kesanggupan berpikir reflektif menjadi keterampilan dasar yang perlu dimiliki setiap individu. Saat AI dengan mudah mengenali dan mengolah pola umum dari data-data yang dihasilkan manusia, alih-alih pasrah, manusia dituntut tetap berdiri sebagai makhluk khas dan unik bermodalkan kesadaran diri, emosi, dan nilai-nilai personal (dari agama, budaya, lingkungan sosial, dll.) yang tidak bisa begitu saja direplikasi oleh mesin. Meminjam Heidegger (1962), manusia bukan sekadar das Zeug (alat) atau data, melainkan Dasein yakni makhluk yang sanggup memahami dan menafsir makna keberadaannya sendiri.

Karena itu, pendidikan tidak bisa direduksi sekadar penguasaan teknologi atas nama digitalisasi. Tidak pula disempitkan hanya pada kesibukan memproduksi dan mendistribusi konten pembelajaran secara daring atas nama berbagi, atau disimplifikasi sebatas hiruk pikuk memburu sebanyak mungkin mitra belajar atas nama kolaborasi. Semua itu penting, namun di era ketika ilmu pengetahuan bisa didapatkan dengan mudah dari mana-mana, pendidikan pertama-tama harus dilihat sebagai perjalanan ke dalam diri sendiri. Teknologi dan metodologi hanya alat bantu untuk melayani manusia (peserta didik) sebagai subjek utama.

Saat manusia mengesampingkan kekhasan eksistensialnya dan larut dalam pola-pola standar yang dikendalikan oleh sistem digital, tanpa sadar ia tereduksi menjadi sebatas bagian dari data massal, kehilangan dimensi kemanusiaan yang otentik. Kondisi inilah yang rentan membuat manusia lebih mudah tergantikan oleh AI yang bekerja lebih cepat dan efisien.

Tantangan

Dalam Kurikulum Merdeka, yang saat ini sudah terdengar sayup-sayup dibunuh euforia Deep Learning, sebenarnya ikhtiar menjadikan pembelajaran sebagai jalan menemukan jati diri yang otentik sudah mulai dilakukan. Istilah seperti asesmen diagnostik sebagai proses pemindaian awal untuk menemukan bakat, minat, dan kecenderungan gaya belajar setiap peserta didik sudah mulai populer bahkan diterapkan di sebagian Sekolah Penggerak. Pembelajaran terdiferensiasi sebagai strategi melayani kebutuhan belajar dan keanekaragaman potensi setiap siswa juga sudah disosialisasikan meluas dengan biaya yang tak sedikit. Demikian pula dengan sebutan pembelajaran kontekstual dan bermakna yang mengusung misi menjadikan ilmu pengetahuan dekat dan relevan dengan kehidupan sehari-hari sudah mulai terdengar gemanya.

Sayang, sorotan yang kuat pada Deep Learning membuat semua itu seakan hanya proyek mangkrak menteri sebelumnya. Tak terhindarkan, meski diperkenalkan hanya sebagai salah satu pendekatan belajar Kurikulum Merdeka, pamor Deep Learning melejit bersama ingar bingar pelatihan yang mulai digencarkan.
Guru-guru tentu bingung dijejali berbagai istilah baru padahal yang lama belum tentu tuntas dipahami. Karena itu, dalam sosialisasi Deep Learning pemerintah wajib selalu memberikan penjelasan utuh mengenai Kurikulum Merdeka. Meskipun tetap yang lebih penting adalah apa pun nama kurikulum atau pendekatannya, menggali keunikan karakteristik setiap peserta didik adalah keharusan, dan caranya tak lain adalah dengan terus bertanya.

Penulis adalah Dosen Universitas Prasetiya Mulya

Komentar