Breaking News

REFLEKSI Lebih Baik Tulis Motivasi Ketimbang Nyinyir 25 Jun 2024 21:22

Article image
Ilustrasi. (Foto: Lamy.com)
Mari kita bikin hidup di dunia ini lebih bercorak cinta kasih dan damai sejahtera, apalagi kehidupan manusia dewasa ini sedang dilanda aneka kesukaran termasuk beban berat ekonomi.

Oleh Valens Daki-Soo

"Kita adalah apa yang kita tulis," itulah adagium di era medsos ini. Apa yang Anda tulis, apapun itu, dapat mencerminkan jatidiri, sifat, karakter, dan orientasi hidup Anda. Apalagi para pakar psikologi, terutama pakar 'psycho-cybernetics', mengatakan (dalam sejumlah buku) ucapan atau kata-kata kita menjadi daya gerak dan daya dorong untuk "menjadi (si)apakah" kita ini.

Oleh karena itulah, saya dengan sengaja memilih menjadi penyebar semangat/spirit dan energi positif dengan menulis kata-kata motivasional di medsos apapun: Facebook, X (Twitter), Instagram dan TikTok. Kalaupun tidak dibaca orang, setidaknya saya sendiri menjadi motivator bagi diri sendiri.

Tentang kekuatan kata-kata, coba Anda lakukan eksperimen ini: Bangun pagi afirmasikan ulang kali kepada diri sendiri bahwa Anda sehat, kuat, bahagia dan kaya, berlimpah berkat. Saya pastikan Anda merasa lebih nyaman, damai dan kongruen dengan diri sendiri. Persis itulah yang saya alami selama ini dari waktu ke waktu. Setiap saat saya merasa energi positif saya meluap dari dalam jiwa, menyemburkan spirit yang luar biasa ke segala arah.

Namun, jika Anda lakukan eksperimen ini: setiap malam sebelum tidur ataupun saat bangun pagi afirmasikan ucapan negatif, "Saya tertekan, lemah, sakit, terluka, benci dan iri!" -- Anda akan tidur malam dengan rasa gelisah dan marah entah kepada siapa. Atau bangun tidur dengan rasa tak berdaya, gak bertenaga, lemas, pesimis dan "hopeless" (tak berpengharapan).

Jadi, Anda tak perlu membaca buku-buku Rhonda Byrne (penulis "The Secret" dan beberapa buku lainnya) sampai tuntas hanya untuk memahami dahsyatnya kekuatan kata-kata. Jika Anda bicara dengan lembut kepada pasangan Anda bahwa Anda mencintainya atau bahwa dia layak dicintai, ucapan itu akan kembali kepada Anda dalam wujud kondisi batin yang damai dan bahagia.

Sebaliknya, bila Anda melontarkan kata-kata kasar, menyakiti dan melukai sesama Anda (siapapun dia), energi negatif dari perkataan Anda itu niscaya memantul-balik kepada suasana batin Anda: keruh, penuh rasa dengki, iri dan benci terhadap sesama (dan lingkungan sekitar) ataupun marah kepada diri sendiri.

Ini adalah dampak dari Hukum Tarik-Menarik (The Law of Attraction), suatu hukum alam yang sepasti gravitasi. Terminus ini sebenarnya similar bahkan identik dengan Hukum Karma atau Hukum Tabur-Tuai: Anda pasti menuai apa yang Anda tabur, niscaya memetik apa yang Anda tanam.

Itulah sebabnya, sejak awal menceburkan diri di kolam medsos khususnya FB akhir 2010, saya lebih banyak menulis refleksi yang motivasional-inspiratif. Saya tidak peduli apakah dibaca orang atau tidak, disukai (di-like) atau gak. Itu sama sekali bukan urusan saya, karena yang saya yakini adalah saya ingin terus berbagi kebaikan dalam kata dan perbuatan.

Tentu, ini semua bukan hanya omongan belaka. Saya melakukan itu dari hal kecil seperti sekadar tersenyum tulus kepada sesama hingga menolong orang yang kesusahan, entah kesulitan uang, sakit, memberi beasiswa, dan sebagainya.

Mengapa saya perlu katakan ini? Sebab hal itu membedakan "motivator amatir" seperti saya ini dengan motivator profesional yang memang hidup dari "ladang motivasi". Yang profesional dibayar, sementara kami/saya yang amatiran tak dibayar. Saya hanya bahagia jika bisa berbagi kebaikan, dan tentu bersyukur karena tak sedikit orang yang mengirim pesan WA ataupun ke Messenger saya bahwa mereka sangat terbantu dengan apa yang saya tulis.
Itu sudah lebih dari cukup.

Mari kita bikin hidup di dunia ini lebih bercorak cinta kasih dan damai sejahtera, apalagi kehidupan manusia dewasa ini sedang dilanda aneka kesukaran termasuk beban berat ekonomi. Mari kita berbagi kebaikan termasuk dengan menulis motivasi, ketimbang nyinyir dan menulis negatif tentang sesama. "Negatif" itu pasti destruktif. Beda dengan kritis-korektif. ***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar