Breaking News

REFLEKSI Memaknai Kekalahan 21 Mar 2024 12:08

Article image
Tak ada manusia yang selamanya menang atau selalu kalah.

Oleh Valens Daki-Soo

Refleksi pendek ini tidak diarahkan secara sengaja hanya untuk/tentang para calon yang kalah di ajang Pilpres dan Pileg 2024. Bukankah setiap kita pernah/sering melewati "musim gugur" kekalahan?

Kalah. Apakah kata ini 'menakutkan' Anda? Bikin Anda cemas? Anda merasa tidak aman atau tak nyaman dengan kata ini? Kalau ya, mari kita lihat bersama.

Kegagalan adalah bagian dari kehidupan, dan kita sering melakukan kesalahan setiap hari. Bagaimana kita mengatasinya? Atau lebih baik lagi, bagaimana kita harus mengatasinya?

Akademisi dan media arus utama cenderung menawarkan solusi sederhana: Jangan biarkan hal tersebut memengaruhi Anda dan memikirkan bagaimana keadaan bisa menjadi lebih buruk (“The Best Way to Deal with Failure,” theconversation.com (25 Oktober 2017).

Meskipun “merasakan kegagalan” bisa menjadi hal yang baik, hal ini tidak mengubah fakta bahwa hal ini bisa menyakitkan.

Ada alasan mengapa orang cenderung secara naluriah merasionalisasi atau memiliki pemikiran untuk melindungi diri setelah mereka melakukan kesalahan.

Akan sangat melemahkan jika Anda berfokus pada seberapa buruk perasaan Anda setelah setiap kegagalan, besar dan kecil. Jadi terserah pada Anda untuk memutuskan kegagalan mana yang ingin Anda perbaiki, dan kegagalan mana yang harus Anda lindungi.

Dari pengalaman pribadi maupun terutama mereka yang telah sukses -- mereka yang patut dijadikan contoh, dapat kita betik pelajaran ini: pengalaman kalah adalah fase pemerkuatan diri.

Kalah adalah momentum konsolidasi, karena ketika menang orang sering lupa diri, "lupa daratan dan lautan". Tatkala kalah, orang menjadi lebih mawas diri, terdorong menaikkan "level of spiritual energy", memicu peningkatan "daya tempur" (dalam militer, Daya Tempur terdiri dari Daya Gerak dan Daya Tembak), sehingga bisa menang pada pertarungan atau perjuangan berikutnya.

Tak ada manusia yang selamanya menang atau selalu kalah. Setiap kali kita mengalami "musim gugur" kekalahan dan kegagalan lalu kita berjuang lagi, yakinlah, akan datang "musim semi" kemenangan dan kesuksesan.

Itu sebabnya, orang yang matang tetap tenang dan bijak, entah lagi menang ataupun sedang kalah. Memang, segala sesuatu ada saatnya.

 

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar