Breaking News

REFLEKSI Menang atau Kalah, Tunjukkan Karakter Ksatria Sejati 04 Mar 2024 08:33

Article image
Ilustrasi. (Foto: People)
Petarung bermental baja menerima kekalahan dengan lapang jiwa.

Oleh Valens Daki-Soo

Dulu, pada usia 22-26 tahun (idealnya sejak usia 7-8 tahun), saya ikut berlatih di Perguruan Kungfu "Gerak Langit", asuhan Master Lukito Konagamana, pelatih kungfu/wushu nasional saat itu.

Sebagai jebolan frater (calon pastor), beladiri bukan hal yang lazim, karena kami lebih 'enjoy' dengan kitab-kitab filsafat, teologi, anthropologi sampai psikologi.

Namun, saya lama meminati dunia beladiri dan tertarik ikut olahraga ini, karena diinspirasi Bruce Lee dalam suatu tulisan, "Kungfu bukanlah untuk membunuh atau sekadar mematahkan tulang lawan.

Kungfu adalah jalan pengendalian diri." Lalu ditegaskan, "Control your emotion, or it will control you!"

'Suhu' kami, Master Lukito, selalu memberi wejangan, "Kalian belajar bukan untuk menjadi jagoan yang menaklukkan BANYAK orang. Kalian belajar supaya bisa memenangkan pertarungan melawan SATU orang saja: diri Anda sendiri."

Kisah lain, Letjen TNI (Purn) Kiki Syahnakri, seorang jenderal yang semasa aktifnya amat berperan dalam reformasi TNI-AD dan sempat lama saya asistensi, menulis dalam bukunya, "Timor Timur The Untold Story" (buku 'bestseller' di Gramedia Jakarta) tentang doktrin, strategi dan taktik bertempur. Beliau juga menegaskan bagaimana para prajurit harus bersikap terhadap musuh yang kalah.

Pak Kiki semasa berpangkat Mayor dan menjabat Wakil Komandan Batalyon/Wadan Yon 744 (pasukan organik Kodam Udayana yang semuanya terdiri dari putra-putra Timtim dan NTT, dan amat disegani Fretilin lebih daripada Kopassus, karena mereka amat menguasai medan dengan naluri tempur 'alamiah' yang tinggi), pernah mengalami kejadian 'buruk' berikut.

Musuh Fretilin yang ditangkap dalam suatu pertempuran, jika telah menyerah harus diperlakukan dengan baik secara manusiawi. Hal itu juga belakangan diatur dalam Hukum Humaniter Internasional.

Namun anak-anak NTT dan Timtim di Yon 744 dikenal "pemburu" berdarah dingin dan mereka bisa menghabisi tahanan. Pak Kiki mengubah CB (Cara Bertindak) mereka dengan memperlakukan tawanan secara etis dan bersahabat. Alhasil, para 'bekas musuh' itu banyak yang malah ikut menjadi "kombatan", penempur yang gagah berani dan setia.

Poinnya, cara kita memperlakukan lawan/musuh menentukan kualitas hasil pertempuran dan menunjukkan mutu pribadi kita pula.

Para Kerabat, setiap pertandingan niscaya punya hasil akhir: menang atau kalah. Petarung bermental baja menerima kekalahan dengan lapang jiwa.

Pemenang pun mesti bersikap sebagai ksatria sejati.
Saya anak Indonesia asal Flores yang suka kearifan Jawa ini:

"Sugih tanpa banda, ngelmu tanpa aji, ngluruk tanpa bala, menang tanpa ngasorake."
-- Kaya tanpa harta (artinya tanpa hasrat materialistis yang overdosis), berilmu tanpa senjata atau jimat, bergerak ke manapun sendirian tanpa pasukan, menang pun tanpa bersorak-sorai (apalagi meremehkan lawan yang kalah).

Kita bisa belajar tanpa henti untuk menjadi petarung dengan mental ksatria sejati.***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

Komentar