REFLEKSI Menyikapi (dan Mengakui) Kelemahan Diri 26 Aug 2024 10:19
Setiap pribadi dan semua orang pasti punya kekurangan dan kelemahan.
Oleh Valens Daki-Soo
Dulu, waktu di SD dan SMP -- bahkan mungkin sampai sekarang -- saya 'buruk' dalam menggambar. Kalau disuruh menggambar oleh guru, beliau sulit bedakan gambar saya: "Ini sapi atau kucing?"
Saya pun sulit mengucapkan "r", sering jadi tertawaan teman-teman. Masuk Kelas I SD pada usia lima tahun, masih terbayang dengan jelas, guru-guru suka 'gemas' pada cara saya membacakan puisi dengan penuh gaya tetapi kesulitan membunyikan huruf "r".
Di bangku SD dan SMP, les (mata pelajaran) yang paling saya 'benci' adalah Matematik. Ketika ibu guru mengajar Matematik, saya malah berfantasi tentang gunung, laut atau memancing. Di bangku SMP, target fantasi saya beranjak lebih 'canggih': gadis cantik di SMP Kartini, yang tak jauh letaknya dari sekolah kami, lembaga pendidikan khusus para calon imam Katolik. SMP Kartini adalah SMP swasta populer saat itu yang hanya dihuni para siswi/perempuan. Harap maklum, usia SMP itu baru mulai puber.
Namun jika tiba jadwal les bahasa, entah bahasa Indonesia, Inggris, atau Jerman, juga Latin, mata saya bersinar-sinar bahkan merasa 'rugi' kalau lonceng berdentang tanda selesai.
-- Dengan penuh terima kasih, salut saya kepada Bapak Mikhael Remi, guru bahasa Indonesia yang 'legendaris' di Seminari Mataloko, Bapak Thobias Djadji, guru bahasa Inggris yang selalu memukau dalam mengajar, Pater Alfons Engels (alm), pastor asal Jerman yang kadang bikin bingung karena memulai pelajaran dengan bahasa Jerman, tanpa kami paham maksudnya.
Setiap pribadi dan semua orang pasti punya kekurangan dan kelemahan. Kita mungkin punya kemampuan atau berbakat dalam satu-dua atau beberapa hal, tetapi kita pasti "awam" alias punya kekurangan atau kelemahan dalam banyak hal lain. Itu sebabnya, menyombongkan diri karena kemampuan tertentu merupakan sikap yang tak berdasar.
Bagaimana kekurangan dan kelemahan itu disikapi?
Pertama, kita mengakui diri sebagai manusia yang tetap terbatas meski memiliki berbagai kemampuan. Para penganjur "positive thinking" memang menyarankan kita memandang diri secara positif dan bahwa "potensi kemajuan kita tidak terbatas". Namun, Itu tidak berarti kita mengingkari kekurangan manusiawi kita. Jika kita 'sempurna', kita bukan lagi manusia, bukan?
Kedua, segala kekurangan mendorong kita menjadi "manusia pembelajar" tanpa henti. Tas dan mobil saya cukup penuh buku seperti 'anak sekolah', itu bukan karena 'sok akademis', tetapi memang saya merasa haus pengetahuan untuk menambal berbagai kekurangan saya. Berkat 'Google' dan sebagainya, Anda bisa membaca buku dengan cara yang lebih canggih ketimbang saya.
Ketiga, kekurangan itu manusiawi, namun saya tidak ingin 'terkurung' dalam keterbatasan. Oleh karenanya saya berusaha berpikir bebas, melampaui "jebakan" (trap) cara berpikir yang mengungkung diri dalam kotak pengap dan memblokade jalan menuju kemajuan. Mendengarkan lebih banyak orang lain -- terutama mereka yang lebih berpengalaman -- adalah sikap bijak.
Keempat, menerima dan berdamai dengan kekurangan-kekurangan yang memang tak bisa diubah. Saya, misalnya, menerima ketidakmampuan mengucapkan huruf "r" secara sempurna. Menerima diri sebagai orang yang tidak berbakat matematis (namun tetap belajar secara otodidak untuk lebih baik, karena sebenarnya matematik adalah ilmu yang tidak sukar dengan berbasis formula-formula yang jelas dan pasti) dan lain-lain.
Kelima, seraya selalu bersyukur kepada Tuhan Sang Pemberi, kita berusaha mengolah segala potensi, bakat dan kemampuan agar dari "batu dalam lumpur bumi" bisa menjadi "emas yang kemilau" bagi sesama.
Setiap dan semua kita punya kekurangan dan kelemahan. Itu sebabnya kita hidup dengan "misi" ini: saling menambahkan untuk mengisi kekurangan, saling memperkuat untuk memperkecil kelemahan.***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar