Breaking News

AGAMA Muktamar Pemikiran Cak Nur: Warisan Itu Bukan Hanya Jargon, Tapi Harus Diimplementasikan 26 Oct 2023 22:44

Article image
Universitas Paramadina menggelar acara Muktamar Pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A (Cak Nur) di Jakarta, Rabu (25/10/2023). (Foto: ist)
Cak Nur adalah sosok penerjemah nyata kaidah kita semua untuk terus merawat tradisi yang baik tetapi ingin juga mengadopsi modernitas, bahkan pasca modernitas.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Universitas Paramadina menggelar acara Muktamar Pemikiran Prof. Dr. Nurcholish Madjid, M.A (Cak Nur) di Jakarta, Rabu (25/10/2023). Acara yang diselenggarakan secara hybrid ini dihadiri oleh ratusan peserta yang terdiri dari mahasiswa dan masyarakat umum.

Kepala Balitbang dan Diklat Kemenag RI, Prof. Dr. Suyitno, M.Ag. dalam sambutan mewakili Menteri Agama RI menyatakan bahwa muktamar pemikiran Cak Nur ini diselenggarakan di sebuah kampus peradaban yang inklusif, dan pluralis.

“Karena itu, kalau berbicara tentang Cak Nur pasti idiomatik itu yang muncul. Tugas berat kita semua sesungguhnya bagaimana legacy (warisan) itu terus menjadi sesuatu yang sifatnya bukan jargon, tetapi terimplementasi sungguh-sungguh dan riil,” ujarnya.

Cak Nur merupakan simbol perpaduan Muhammadiyah dan NU. Beliau juga berasal dari tradisi pesantren yang sangat kuat. Cak Nur berasal dari Jombang, Jawa Timur, dan belajar di Gontor. Dia sangat kuat sebagai tokoh dengan pandangan-pandangan berbasis pada spiritualitas, nilai-nilai keislaman, maupun nilai keagamaan yang kuat.

“Cak Nur juga merepresentasikan modernitas dari proses genealogis, dari proses akademik sehingga orang bisa menyebut Fazlur Rahman-nya Indonesia. Ia sangat dibutuhkan di hari ini. Mengusung ide yang inklusif, memanusiakan manusia, tidak memandang orang karena persoalan ras, etnis, suku dan agama. Bagi kami di Kementerian Agama banyak yang bisa kami adopsi gagasan beliau,” jelasnya.

“Cak Nur adalah sosok penerjemah nyata kaidah kita semua untuk terus merawat tradisi yang baik tetapi ingin juga mengadopsi modernitas, bahkan pasca modernitas,” sambungnya.

Rektor Universitas Paramadina, Prof. Didik J. Rachbini M.Sc., Ph.D. menyatakan bahwa Universitas Paramadina berupaya melestarikan pemikiran Cak Nur dalam kurikulum mata kuliah tentang keislaman, keindonesiaan dan kemodernan.

“Di kampus warisan Cak Nur ini mendorong Islam yang toleran, Islam dan demokrasi, pendidikan dan pemikiran kritis penyemaian dunia intelektual, modernisme islam, dan pluralisme kebhinekaan,” bebernya. 

A.Khoirul Umam, Ph.D dalam pengantar moderasinya mengungkapkan bahwa muktamar ini adalah kesempatan berharga untuk  melacak kembali dan mengkontektualisasikan pemikiran Cak Nur di tengah tantangan bangsa yang semakin kompleks saat ini.

“Beliau adalah man of ideas, man of ethics sekaligus man of actions. Cak Nur menggabungkan itu semua kemudian menghadirkan pemikiran yang spektrumnya melampaui batas-batas keilmuan. Memiliki pengaruh dalam konteks sosial, politik budaya dan demokrasi di Indonesia,” ucapnya.

Sekjen PP Muhammadiyah, Prof. Dr. Abdul Mu’ti memaparkan bahwa dalam tulisan-tulisan Cak Nur berbicara tentang masyarakat yang egalitarian atau masyarakat yang memiliki kesamaan dan kesetaraan antar manusia yang menjadi misi penting dari ajaran agama Islam.

“Cak Nur menjelaskan tauhid sebagai fondasi untuk membangun inklusivisme. Ia menjelaskan dengan akar pemikiran menarik, tauhid itu membawa pesan liberasi kemanusian dan transendensi dalam berbagai aspek kehidupan dan bagaimana itu menjadi fondasi membangun masyarakat madani dan egalitarian,” imbuhnya.   

Sementara itu, Wakil Ketua PB NU, Ulil Abshar Abdalla mengungkapkan kekhawatirannya terkait tantangan mengkomunikasikan gagasan pemikiran Cak Nur dengan generasi sekarang.

“Pemikiran tokoh seperti Cak Nur dan generasinya Gus Dur, Buya Syafi’i Ma’arif, Dawam Rahardjo, Johan Effendi, Jalaludin Rahmat apakah dibaca dan dipahami generasi baru? Bagi generasi baru tulisannya terasa asing,” ujarnya.

Ulil membeberkan latar belakang yang membentuk pemikiran Cak Nur. “Cak Nur itu mengagumi Kota Madinah zaman nabi, sebagai lambang dari kehidupan plural dan multikultural. Kemudian Indonesia, karena ada bahasa Melayu yang menjadi bahasa nasional yang egaliter. Yang terakhir Amerika, negara yang dibangun kaum imigran dari berbagi tempat beragam sebagai melting pot, panci peleburan unsur beragam yang melebur menjadi bangsa baru,” ujarnya. 

 

Cak Nur Adalah Seorang Teolog

Prof. Romo Franz Magnis Suseno mengatakan bahwa Cak Nur merupakan salah satu tokoh terkenal yang memiliki kontroversi karena menyuarakan pembaruan secara berulang kali.

“Terlebih kala itu Cak Nur menyerukan ‘Islam Yes, Partai Islam No’. Cak Nur melihat Islam di Indonesia tidak akan maju jika fokus dengan partai politik. Ia menegaskan ‘Islam perlu mendukung negara sekuler’. Cak Nur menyadari agama merupakan pemain dalam perpolitikan saat itu,” Romo Magnis.

“Bagi Cak Nur yang amat penting adalah keterbukaan Islam terhadap modernitas. Ia meyakini Islam bisa dan harus semodern-modernnya. Islam secara hakiki agama yang terbuka, toleran, pluralis, dan demokratis karena hadir di tengah modernitas. Bagi saya Cak Nur adalah seorang Teolog,” tambahnya.

Dekan Fakultas Pendidikan UIII Prof. Nina Nurmila, MA, Ph.D memaparkan bahwa Islam dalam pemikiran Cak Nur merupakan rahmatan lil alamin yaitu semua manusia, laki-laki dan perempuan serta seisi alam termasuk tumbuhan dan hewan.

Islam dianggap sebagai agama yang inklusif karena mendorong perdamaian, toleransi, dan keadilan tentu dengan keadilan gender juga dihadirkan oleh Cak Nur.

“Menurut Cak Nur nilai-nilai modernitas tidak bertentangan dengan Islam. Modern dalam arti dapat beradaptasi dengan perubahan zaman dan teknologi. Cak Nur sebenarnya tidak banyak membahas mengenai isu perempuan dalam karyanya, namun pemikirannya progresif dan konstektual sehingga dapat memberi ruang bagi inklusivitas dan kesetaraan gender serta kebebasan berekspresi bagi perempuan,” pungkasnya. ***

--- F. Hardiman

Komentar