REFLEKSI Nilai Dalam Pertarungan Hidup 05 Feb 2024 11:28
Bersaing seraya berpegang pada nilai-nilai itu adalah refleksi keadaban manusia modern.
Oleh Valens Daki-Soo
Persaingan itu niscaya dan tak terelakkan.
Sejak zaman purba begitulah manusia.
Secera genetis-herediter, dari era paling awal makhluk yang kelak disebut 'manusia' itu bersaing memperebutkan segala: hewan buruan atau makanan, pasangan, tempat tinggal atau ruang hidup.
Apa yang membedakan 'manusia prasejarah' dengan manusia modern dalam hal persaingan?
Kita masih bersaing memperebutkan hal-hal yang sama, dengan kecenderungan "baku hantam" yang mungkin sudah tercetak dalam DNA warisan nenek moyang super primitif dari era 'tempo doeloe banget'.
Yang muda remaja bisa baku rebut pacar, yang lebih tua berebut kuasa alias jabatan, uang dan harta benda.
Jadi, apa yang membedakan kita dengan makhluk purba?
Harusnya ini: NILAI-NILAI. Kita bertarung sebagai ksatria sejati yang patuh kepada akal sehat dan tuntutan nurani.
Bersaing seraya berpegang pada nilai-nilai itu adalah refleksi keadaban manusia modern.
Mungkin saja makhluk purba pun punya kesepakatan atau konsensus ala mereka.
Jangankan manusia. Singa di rimba pun punya "aturan main": sang jantan mengencingi batas wilayah tinggal keluarganya sebagai tanda dan peringatan agar keluarga singa lain tidak menerobos masuk.
Hidup memang perjuangan, pertandingan dan kompetisi. Hidup adalah pertarungan.
Petarung dan pemenang sejati adalah mereka yang tak hanya melihat tujuan lalu bergerak penuh ambisi meraihnya, melainkan juga menghargai proses mencapainya dengan memberi makna dan nilai-nilai sebagai nyawa perjuangan.
Anda adalah pejuang sejati dan pemenang kehidupan jika perjuangan itu dimaknai sebagai cara menghadirkan kebaikan Tuhan, meluhurkan kemanusiaan, memuliakan martabat hidupmu dan sesama. ***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar