REFLEKSI Pentingnya Kekuatan Karakter 11 Jul 2023 20:48
Tanpa karakter yang baik dan kuat, Anda mustahil menjadi pemimpin yang baik dan kuat di segala bidang dan lini kehidupan.
Oleh Valens Daki-Soo
Ungkapan prinsipil ini perlu selalu diingat, "Character is everything." Ya, karakter adalah segalanya. Dalam berbagai aspek kehidupan dan dari berbagai sudut pandang, kualitas kepribadian seseorang ditentukan oleh karakternya. Tanpa kekuatan karakter, seorang individu tak bisa menjadi pribadi yang mandiri, bebas dan sukses dalam hidupnya.
Sedemikian penting dan mutlaknya karakter yang baik, jika itu digadaikan demi uang, kekuasaan atau apapun, Anda kehilangan segalanya. Mengapa segalanya? Karena karakter menjadi basis utama kepribadian setiap manusia. Tanpa karakter yang baik dan kuat, Anda mustahil menjadi pemimpin yang baik dan kuat di segala bidang dan lini kehidupan.
Jenderal Norman Schwarzkopf yang legendaris dari Amerika Serikat pernah berujar, "Pemimpin yang baik punya dua hal penting ini: karakter dan kompetensi. Jika salah satunya boleh diambil/dihapus, itu adalah kompetensi. Karakter harus tinggal tetap."
Sekadar ilustrasi ringan, konon para perempuan punya intuisi yang lebih peka alias tajam untuk membaca karakter seseorang, khususnya pria. Seramah-ramahnya wajah Anda sebagai pria, mereka bisa bedakan itu keramahan sejati ataukah sekadar topeng yang dipasang dalam rangka "operasi khusus" alias 'pedekate' (pendekatan) untuk memikat lalu merengkuh hati sang pujaan sebagai "target operasi" (TO) cinta.
Pembentukan karakter bukan perkara satu-dua tahun. "Character building" adalah proses penempaan yang tak pernah usai (never ending process), bahkan hingga usia hidup Anda berakhir. Karakter seseorang mulai tumbuh dan dibentuk sejak awal kehidupannya di rahim sang ibunda. Secara genetis, orang tua menurunkan sebagian dari karakter mereka ke dalam diri anak mereka. Demikianlah proses itu berlanjut hingga seterusnya. Dalam iklim keluarga yang baik, damai dan penuh cinta, karakter seorang anak dibentuk untuk menjadi baik, damai dan penuh cinta pula.
Sebaliknya, dalam keluarga yang minus cinta kasih bahkan diwarnai kekerasan dan sadisme, sang anak mengalami proses pembentukan karakter yang negatif dan destruktif. Banyak tokoh kejahatan dalam sejarah manusia lahir dan dibesarkan dalam atmosfir keluarga yang tidak sehat dan melukai secara psikospiritual.
Itu sebabnya pendidikan menjadi sektor yang sangat penting dan utama (leading sector) dalam proses pembentukan, penempaan dan pematangan karakter seseorang. Lingkungan pendidikan yang baik, apalagi dibarengi lingkungan sosial yang sehat dan positif merupakan taman yang subur bagi mekarnya kepribadian yang baik. Karakter yang mulia dan terpuji adalah buah dari kombinasi pembinaan dan penempaan pribadi di lingkungan keluarga, lingkungan pendidikan, dan lingkungan sosial/kemasyarakatan.
Tentu saja, peran agama pun sangat penting dan dapat berpengaruh sangat positif bagi tumbuh-kembangnya karakter seorang anak manusia. Meskipun sering terjadi juga penyimpangan atau deviasi karena alasan-alasan tertentu, peran agama (dan agamawan) dapat amat positif bagi terbentuknya karakter atau kepribadian yang luhur-mulia. Jadi, kita berharap para pemuka agama apapun menjadi teladan atau panutan yang layak diikuti oleh anak-anak dan kaum muda yang sedang mencari jati dirinya. Banyak kali krisis jati diri terjadi karena kaum muda kehilangan atau ketiadaan contoh-teladan yang baik dan patut digugu.
Sebagai "sharing" pribadi, sebisa mungkin saya berusaha menerapkan soal pentingnya karakter dalam hidup pribadi, juga dalam berbisnis dan berpolitik. Saya mungkin suka bercanda, gemar bernyanyi dan menari, hobi bermusik, mungkin mudah senyum dan tertawa juga.
Namun, ketika menyangkut hal-hal prinsipil seperti nilai-nilai yang diyakini, saya akan menjadi batu karang yang kukuh.
Di lingkungan bisnis saya tegaskan tak ada kompromi soal kejujuran, tanggung jawab dan dedikasi. Sedekat apapun saya bisa berhentikan seseorang jika garis ini dilanggar.
Saya amat diinspirasikan oleh ayah saya, seorang guru (pensiunan) yang karakternya mengagumkan: jujur, lurus, tegas tapi betapa tenang dan rendah hati. Berbeda dengan saya setidaknya dalam satu hal ini: saya energik berlebih terutama kalau lagi kerja (tidak stop jika belum tuntas), bernyanyi dan menari.
Kekuatan karakter adalah modal utama seorang pribadi, apalagi pemimpin. Jadi bila Anda mau memilih pemimpin, seyogianya tak mudah terpukau pada rupa dan kata. Telisiklah rekam jejak dan karakternya.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar