Breaking News

REFLEKSI Percaya Diri, (Tetapi) Bukan Tinggi Hati 26 Feb 2016 03:47

Article image
Pribadi yang rendah hati menghadirkan kesejukan seperti embun pagi. (Foto: welth.my)
Percaya diri tak berarti merasa lebih baik dan hebat ketimbang orang lain. Kalaupun memiliki banyak bakat dan kelebihan, sebenarnya itu 'petunjuk' bahwa Anda dihadirkan ke dunia untuk lebih banyak melayani sesama.

Banyak orang sukses yang saya kenal mempunyai kualitas pribadi ini: mereka hebat di bidangnya, cerdas mengurai persoalan dan meracik solusinya, jeli melihat dan menangkap -- bahkan menciptakan -- peluang, pantang menyerah, dan tak pernah kehabisan daya tahan. Selain itu, mereka percaya diri dan 'tahan banting' menghadapi aneka tantangan. Meski berbeda-beda keyakinan religius, beberapa di antaranya saya kenal sangat mengimani Tuhan.

Kepercayaan diri (self-confidence) adalah salah satu modal dasar dalam perjuangan mewujudkan impian. Sungguh, bukan uang, bukan modal finansial yang kerap menjadi hambatan meraih keberhasilan, melainkan sikap pribadi. Banyak orang yang begitu potensial namun gagal maju karena memiliki masalah dengan "sikap", termasuk sikap kurang rendah hati.

Namun, percaya diri tidak sekadar berarti berjalan dengan kepala tegak dan busung dada. Banyak orang tampak kokoh di luar tapi keropos di dalam. Percaya diri tak berarti selalu 'kuat perkasa' dalam segala situasi kehidupan.

Pribadi yang percaya diri kadang terseok dan bisa rubuh juga dalam kesakitan, namun ini yang membedakan mereka dari orang berkarakter lemah: mereka tidak pernah menyerah.

Anda adalah pribadi hebat karena sejak dari rahim ibunda telah menunjukkan keunggulan natural. Anda mestinya percaya diri karena telah mampu bertahan dan sanggup menunggangi gelombang-gelombang badai kehidupan. Anda harus percaya diri karena terlahir dengan misi menjadi pribadi yang berarti bagi sesama dalam ziarah hidup ini.

Anda layak percaya diri karena martabat tinggi yang terberi oleh Sang Khalik Sejati.

Namun, percaya diri tak sama dengan menganggap diri lebih baik dan hebat ketimbang orang lain. Kalaupun memiliki banyak bakat dan kelebihan, sebenarnya itu 'petunjuk' bahwa Anda dihadirkan ke dunia untuk lebih banyak melayani sesama dan alam ini. Segala kemampuan dan apapun yang Anda miliki tak bisa menjadi landasan untuk 'terbang tinggi' tanpa dukungan saudara-saudarimu yang lain.

Jadi, jika Anda menilai diri sendiri lebih bermartabat, lebih mantap, lebih 'oke' dibandingkan yang lain, itu tanda hidup Anda sedang dilumuri dengan kotoran kecongkakan hati. Manakala Anda tidak menaruh hormat dan kesantunan yang patut kepada sesamamu dalam kata dan perbuatan, Anda sedang memamerkan "kerendahan pribadi", bukan kerendahan hati.

Rendah hati dan percaya diri itu bersandingan, bukan berlawanan. Pribadi yang matang biasanya percaya diri sekaligus rendah hati. Dia yakin pada potensi, kapasitas, dan kualitas dirinya. Dia tahu bakat, kemampuan dan kekuatan pribadinya. Dia begitu yakin Tuhan amat mencintainya. Serentak, pada saat bersamaan, dia pun menyadari bahwa dia bisa bertumbuh dan hanya bisa bertumbuh dalam korelasi dan interaksi dengan sesamanya. Dia mafhum sepenuhnya, tak mungkin dia bisa bergerak naik tanpa topangan dan dorongan dari sekitarnya.

Pribadi yang percaya diri menghormati sesamanya, dan bersedia belajar dari kelebihan maupun kekurangan mereka. Orang yang percaya diri sekaligus rendah hati biasanya menerima dan memperlakukan sesama dengan sikap respek dari hati.

Memang, tak ada yang patut disombongkan, karena segala sesuatu yang kita miliki hanyalah pinjaman.

Sikap terbaik adalah terus berbagi dan saling memberi agar kita bisa menyulam kebahagiaan dengan benang sutera cinta yang memperindah kehidupan.***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

--- Valens Daki-Soo

Komentar