PENDIDIKAN Pimpin Perayaan HUT Berdirinya Seminari Mataloko ke-95, Uskup Agung Ende Launching Perayaan Satu Abad 16 Sep 2024 18:55
"Manusia yang komunikatif, mempunyai kompetensi dan yang dapat dipercaya karena ada keserasian dengan apa yang dikatakan dan yang dilakukan," simpul Uskup Budi.
BAJAWA, IndonesiaSatu.co-- Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD, secara resmi mencanangkan gerakan menyongsong satu abad berdirinta Seminari St. Johanes Berkhmans Todabelu-Mataloko.
Pencanangan Gerakan Satu Abad berdirinya Seminari Todabelu Matalako tersebut bertepatan dengan puncak perayaan 95 tahun atau Perayaan Pesta Family (Pesfam) berdirinya Seminari St. Johanes Berkhmans Todabelu-Mataloko, Minggu (15/9/2024).
Melansir florespos.net, Pencanangan diawali dengan perayaan Ekaristi dan dilanjutkan dengan pernyataan pencanangan oleh Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD didampingi Vikep Bajawa, (RD. Gabriel Idrus), Vikep Ende (RD. Edy Dopo), Ketua Panitia Perayaan Satu Abad (Paulus Soliwoa), Ketua Komite (Seli Djawa), Praeses Seminari Mataloko, perwakilan alumni serta disaksikan sejumlah Imam, perwakilan orang tua, panitia dan para siswa Seminari Mataloko.
Seminari: Tempat Mengalami Kasih
Dalam khotbahnya, Uskup Budi Kleden mengatakan bahwa 95 tahun berdirinya Seminari Mataloko dan pencanangan satu abad berdirinya Seminari merupakan tempat persemaian dan pertumbuhan benih panggilan untuk menjadi imam.
"Setiap kali datang ke tempat seperti ini, hati kita dan juga tentunya hati semua orang diliputi rasa syukur sambil mengenang tempat atau lembaga dan orang-orang yang telah mengambil peran penting dalam mendidik calon imam," ungkapnya.
Uskup Budi mengibaratkan Seminari seperti seorang ibu; di mana tempat mengalami kasih pertama selama 9 bulan.
"Sebuah pengalaman yang begitu menentukan watak seorang anak manusia; di mana lembaga-lembaga pendidikan selanjutnya disebut almamater dan merupakan tempat belajar, memperoleh nilai-nilai penting juga wawasan, melatih diri dengan keterampilan yang dibutuhkan untuk hidup," katanya.
“Kita kenang dengan rasa syukur pada orang-orang yang mengorbankan dirinya membentuk kepribadian Seminaris,” lanjutnya.
Spirit 7C
Pada kesempatan tersebut, Uskup Budi merumuskannya dalam semangat 7C (dalam bahasa Inggris), yakni;
Conective; yaitu terkoneksi dengan Tuhan, berakar dalam iman yang mendalam akan Allah.
Orang-orang yang dibentuk kepribadiannya di Seminari adalah manusia beriman dan sadar akan dirinya sebagai yang tercipta dan terpilih Allah.
Copassion; atau bela rasa, bahwa orang tidak tinggal oleh kenyamanan diri sendiri tetapi mempunyai bela rasa, terutama bagi mereka yang miskin dan sederhana.
Commitment; orang-orang yang memiliki komitmen terhadap janji-janjinya.
Janji yang diikrarkan sebagai seorang Imam maupun sebagai suami istri, pejabat publik haruslah mempunyai komitmen untuk menghidupi apa yang sudah dijanjikan.
Community; berpikir tentang komunitas.
Berpikir dengan tidak memaksakan kehendak sendiri, namun untuk kepentingan umum.
Tidak membiarkan diri terkurung dalam kesempitan untuk kepentingan diri sendiri namun berpikir untuk kepentingan komunitas.
Communicative; yang berarti orang-orang yang bisa berkomunikasi.
“Iman itu untuk kita bagikan dan komunikasikan. Seorang Imam adalah pewarta dan mengkomunikasikan kedalaman kerohaniannya kepada orang,” ungkapnya.
"Komunikasi harus dilakukan dengan bahasa yang gampang dimengerti dan tidak melukai orang lain serta memungkinkan orang untuk memiliki rasa percaya diri dan ada rekonsiliasi bila terjadi perpecahan," sambungnya.
Competen; berkompeten dalam pendidikan intelektual dan spiritual juga keterampilan sehingga menjadi orang yang berkompetensi.
"Bukan hanya dengan kata-kata, namun yang terutama adalah dengan tingkah laku," pesan Uskup.
Credible; yakni orang yang dapat dipercaya.
"Harus ada keserasian antara apa yang dihidupi dan dilakukan di mana serasi antara kata dan tindakan," ungkap Uskup.
Uskup Budi menekankan, perayaam Dies Natalis ke-95 dan Pencanangan Satu Abad Seminari St. Johanes Berkhmans Todabelu-Mataloko, perlu dimanfaatkan sebagai satu ungkapan syukur pada semua yang telah menjadi bagian dari keluarga besar Seminari St. Johanes Berkhmans Todabelu-Mataloko dan semua yang telah berkontribusi dalam sejarah panjang kehadiran lembaga tersebut.
“Kita bulatkan tekad agar 5 tahun mendatang perayaan 100 tahun nanti, merupakan kesempatan istimewa untuk membaharui komitmen menjadikan Seminari Mataloko menjalankan 7 C tersebut,” harapnya.
Gereja dan masyarakat, lanjut Uskup Budi, membutuhkan orang-orang yang sungguh sadar akan pentingnya relasi dengan Tuhan, memiliki bela rasa, memiliki komitmen terhadap apa yang telah dijanjikan, berpikir lebih luas daripada kepentingan dirinya sendiri.
"Manusia yang komunikatif, mempunyai kompetensi dan yang dapat dipercaya karena ada keserasian dengan apa yang dikatakan dan yang dilakukan," simpulnya.
--- Guche Montero
Komentar