PENDIDIKAN Prof Joel Hodge: Teologi Publik Harus Jadi Inspirasi Perjuangan Melawan Ketidakadilan 30 Sep 2024 00:49
"Dialog adalah bagian penting dalam kehidupan kristiani. Dalam berdialog, kita akan saling memberi dan menerima," katanya.
MAUMERE, IndonesiaSatu.co-- "Teologi publik dapat terus dikembangkan dan dijadikan sebagai inspirasi perjuangan untuk keadilan dan kemanusian. Teologi publik juga menginspirasikan orang untuk melawan berbagai bentuk ketidakadilan dan pelecehan terhadap kemanusiaan."
Demikian sari pemikiran dari dua narasumber yang tampil pada hari kedua Konferensi Internasional dengan Tema: "Public Theology for the Indonesian Context” yang diselenggarakan oleh Institut Filsafat dan Teknologi Kreatif (IFTK) Ledalero, bertempat di Auditorium Maximum, Kampus II IFTK Ledalero, Jalan Wairklau, Maumere, Flores, NTT, Sabtu (28/9/2024) melansir website ledalero.ac.id
Prof. Joel Hodge dari Australian Catholic University membawakan materinya "Doing Public Theology Today: the Victim Modernity and the Return of the Secred" (Melakukan Teologi Publik Dewasa Ini: Korban Modernitas dan Kembalinya Yang Tersembunyi".
Joel menegaskan pentingnya teologi dalam kehidupan manusia.
"Teologi publik itu memuat ide-ide kritis dalam memperjuangkan keadilan dan kemanusiaan, termasuk juga bersikap kritis terhadap bahaya-bahaya dari modernitas," paparnya.
Saat ini, lanjutnya, mengklaim status korban dalam modernitas adalah sesuatu yang kuat.
Ia mencotohkan, timbulnya pelecehan terhadap solidaritas di Indonesia di kalangan kaum jihad, didasarkan pada dogma bahwa umat Islam menjadi target penindasan di wilayah Barat.
Joel juga menegaskan pentingnya dialog dalam mengatasi ancaman persaingan yang menyebabkan krisis umum dan kehancuran sosial.
"Dialog adalah bagian penting dalam kehidupan kristiani. Dalam berdialog, kita akan saling memberi dan menerima," katanya.
Teologi Harus jadi Model Perlawanan
Sementara Pembicara kedua, Prof. Dr. F. X. Armada Riyanto dari Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi Widya Sasana, Malang, membawakan materi “Praxis in Public Theology and Revisit of The Meaning of Theology” (Praksis Teologi Publik dan Meninjau Kembali Makna Teologi).
Armada menekankan bahwa umat Katolik tidak boleh tinggal diam berhadapan dengan berbagai bentuk tindakan diskriminasi dan melawan dengan tegas segala bentuk ketidakadilan.
Dia mencontohkan bahwa pada tahun 1600-1800, gereja di Indonesia mengalami penindasan dari pemerintahan VOC.
Namun, gereja tetap bertahan hingga saat ini bahkan gereja di Indonesia khususnya di Flores mengalami perkembangan yang begitu pesat.
Hal ini dibuktikan dengan banyaknya misonaris dari Indonesia yang dikirim ke luar negeri.
Prof. Armada juga mengajak semua peserta, khususnya para teolog, agar tidak menjadikan teologi sebagai ilmu yang hanya dibicarakan dalam ruang kelas, tetapi harus diterjemahkan di jalanan atau di pasar dan mampu menjadi model dari sebuah perjuangan melawan ketidakadilan.
Pada sesi diskusi yang dipandu oleh Dr. Bastian Limahaekin, mantan Ketua Sinode GMIT, Dr. Mery Kolimon, memberikan tanggapan bahwa teologi publik di Indonesia lebih bersifat maskulin karena peran perempuan dalam teologi sangat minim.
Menanggapi umpan balik tersebut, Prof. Armada menegaskan bahwa teologi memang merupakan satu disiplin ilmu yang masih sangat kurang diminati oleh biarawati dan mahasiswi di Indonesia.
Karena itu, dia berharap agar lebih banyak perempuan yang studi teologi agar semua orang lebih mengerti tentang pentingnya teologi dalam membantu kehidupan semua orang.
Salah seorang peserta konferensi, Dr. Willy Gaut, yang ditemui setelah kegiatan Konferensi Internasional tersebut, menyampaikan apreseasinya atas terselenggaranya kegiatan tersebut.
"Selama saya di Belgia, saya menyaksikan seminar-seminar di Ledalero dengan jumlah yang semakin banyak dibandingkan sewaktu saya menjadi mahasiswa di sini. Saya sangat bangga dan tentunya mengapresiasi organisasi acara ini, secara khusus antusiasme peserta selama kegiatan baik dalam sesi-sesi utama maupun dalam sesi paralel. Saya sendiri merasa luar biasa dan saya pikir bahwa para pembicara tamu kita dari luar negeri juga mereka terkesan sekali dengan acara ini, " katanya.
Kesan dan apresiasi yang sama juga disampaikan oleh Dr. Mery Kolimon.
"Saya sangat mengapresiasi panitia yang telah berinisiasi dan menyelenggarakan acara hebat ini. Teologi publik itu suatu kebutuhan besar terutama ketika gereja-gereja kita melakukan pelayanan di tengah masyarakat multi religius seperti Indonesia. Keterampilan dalam menyampaikan pesan iman di ruang publik mesti kita kembangkan," tuturnya.
Pendeta Mery juga memberikan ucapan terima kasih kepada IFTK Ledalero yang telah membuka diri dengan mengundang mereka dari gereja Protestan untuk turut terlibat dalam momen berharga ini.
Ia juga mengharapkan supaya fakultas teologi di Indonesia perlu menyiapkan ruang diskusi bersama seperti ini.
--- Guche Montero
Komentar