A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: controllers/detail.php

Line Number: 151

A PHP Error was encountered

Severity: Warning

Message: Attempt to assign property of non-object

Filename: controllers/detail.php

Line Number: 151

Raker Bersama PT Pertamina, Senator AWK Singgung Energi Hijau: Masyarakat NTT Bisa Sumbang Minyak untuk Republik Lewat Jagung atau Sorgum
Breaking News

A PHP Error was encountered

Severity: Notice

Message: Trying to get property of non-object

Filename: detail/index.php

Line Number: 6

Raker Bersama PT Pertamina, Senator AWK Singgung Energi Hijau: Masyarakat NTT Bisa Sumbang Minyak untuk Republik Lewat Jagung atau Sorgum 02 Mar 2025 14:54

Article image
Anggota DPD RI asal NTT, Angelo Wake Kako (AWK) mengatakan NTT Bersiap untuk Energi Hijau. (Foto: Dok. Ist)
“Saya sudah utarakan hal ini jauh sebelumnya, bahwa NTT bersiap menuju energi hijau. Salah satu potensinya sorgum. Sejauh ini sorgum hanya untuk konsumsi, dan jika ada penelitian lanjutan bahwa sorgum bisa menjadi bahan baku untuk bioetanol, puji Tuhan.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Komite II Dewan Perwakilan Daerah (DPD) RI, menggelar rapat kerja (raker) bersama Wakil Direktur Utama (Wadirut) serta segenap direksi dan subholding PT Pertamina (persero) selaku mitra kerja, Kamis (27/2/2025).

Wakil Ketua II DPD RI, Angelius Wake Kako (AWK), pada kesempatan itu menyentil persoalan minyak mentah Pertamina yang tengah diungkap Kejaksaan Agung RI dan tengah menjadi sorotan publik dan menjadi pemberitaan media dengan 9 oknum telah ditetapkan tersangka, enam dari pihak Pertamina dan tiga dari pihak swasta.

“Kami tetap mearuh percaya pada kerja-kerja Bapak-Ibu sekalian. Bahwa apapun yang terjadi dalam proses hukum itu adalah oknum. Dan tentu, kita serahkan sepenuhnya pada proses hokum yang tengah berjalan,” kata Senator AWK, dalam keterangan kepda media ini, Minggu (2/3/2025).

Sebagai mitra, lanjut AWK, agar persoalan ini tidak menjadi penghalang dan hambatan bagi teman-teman di Pertamina untuk terus berjuang menjaga nema baik dan kemajuan bangsa melalui kerja-kerja sesuai tupoksi yang diemban.

“Jangan sampai persoalan ini mengganggu rantai distribusi di Pertamina sebagai BUMN nomor satu menurut kami. Kami terus memberi dukungan kepada Bapak-Ibu sekalian yang masih mau bekerja dengan hati untuk kemajuan bangsa lewat Pertamina,” ujarnya.

Konsep "One Village One Outlet" LPG

Pada kesempatan yang sama, Senator AWK menyinggung program Pertamina “one village one outlet” terkait penyaluran Liquid Petroleum Gass (LPG) kepada masyarakata.

Dengan tegas AWK mengaku untuk konteks NTT, “one village one outlet” untuk LPG, sama sekali tidak ada.

“Ini sama sekali tidak ada di NTT, tidak merata. Atau memang kita sedang menuju ke sana (one village one outlet), sehingga belum pada posisi sudah terjadi,” sentilnya.

Senator AWK menyebut, untuk konteks NTT, jangankan bicara tentang agen (penyalur), faktanya Stasiun Pengisian Bulk Elpiji (SPBE) tidak ada.

“Saya kurang tahu, jangan sampai untuk mengurus SPBE itu harus bayar? Kita buka-bukaan saja. Mungkin rakyat NTT tidak bias bayar sehingga SPBE tidak ada. Sehingga, dengan kondisi minyak tanah langka atau semahal apa pun, masyarakat hanya bertahan,” katanya.

“Di NTT, kami tidak kenal LPG, pak. Cek saja di sana. Kalaupun ada, itu yang non subsidi yang digunakan di restoran, rumah makan hingga para penjual gorengan. Sehingga, konsep one village one outlet, tidak berlaku di NTT. Kalau untuk mengurus SPBE harus bayar, kami tidak sanggup. Apalagi dengan angka ratusan juta bahkan miliaran Rupiah, kami tidak bisa bayar. Di daerah lain sudah bicara agen/penyalur, sementara di NTT SPBE tidak ada,” singgungnya.

Senator AWK meminta agar kondisi tersebut perlu dipikirkan untuk dibantu oleh Pertamina maupun Patra Niaga dan pihaknya siap memberikan ruang agar kebutuhan minyak bisa dijangkau oleh masyarakat.

Energi Hijau

Hal penting lain yang disinggung Senator AWK dalam raker tersebut yakni konsep energi hijau, sejalan dengan muncul konsep tentang bioetanol.

Menurutnya, ketika muncul konsep bioethanol, maka ke depan mindsetnya akan berubah, bahwa yang punya minyak tidak harus yang punya banyak uang.

“Masyarakat di kampung cukup memiliki 100x100 meter lahan, dia bisa menyumbang minyak untuk Republik ini. Dia menanam jagung atau menanam sorgum (untuk karakter daerah seperti NTT, red). Sehingga, bicara minyak bukan hanya menjadi urusan kelompok tertentu,” ujar AWK.

Ia beranggapan, tidak perlu bangun pabrik di daerah. Akan tetapi perlu dibuat skema agar masing-masing daerah bisa menyuplai bahan baku minyak, misalnya daerah menyuplai molase.

“Dengan karakter daerah seperti di NTT yang punya banyak lahan kosong dan lahan tidur dan cocok untuk tanaman sorgum, kami bisa kirim gula misalnya ke Surabaya, Jawa Timur. Masyarakat bisa digerakkan sehingga mereka bisa memanfaatkan lahan-lahan kosong,” katanya.

“Saya sudah utarakan hal ini jauh sebelumnya, bahwa NTT bersiap menuju energi hijau. Salah satu potensinya sorgum. Sejauh ini sorgum hanya untuk konsumsi, dan jika ada penelitian lanjutan bahwa sorgum bisa menjadi bahan baku untuk bioetanol, puji Tuhan. Inilah peran kita sebagai mitra, mari bergerak dari daerah untuk Indonesia,” simpul AWK.

--- Guche Montero

Komentar