Breaking News

REGIONAL Respon Polemik Batalnya Ende sebagai Tuan Rumah ETMC 2025, Gubernur NTT: Utamakan Komunikasi, Cari Solusi Terbaik 29 Jul 2025 23:07

Article image
Gubernur NTT, Melki Laka Lena angkat bicara terkait polemik pemindahan lokasi perhelatan Liga 4, ETMC 2025. (Foto: Dok. Ist)
"ETMC ini bukan sekadar turnamen, tetapi simbol persatuan dan semangat sportifitas masyarakat NTT. Mari kita rawat bersama momentum ini,” kata Gubernur Melki.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-- Gubernur Nusa Tenggara Timur (NTT), Emanuel Melkiades Laka Lena, merespon polemik terkait perubahan penetapan tuan rumah Liga 4, El Tari Memorial Cup (ETMC) 2025.

Gubernur Melki meminta agar semua pihak dapat menurunkan tensi dan segera membangun komunikasi yang konstruktif agar ditemukan titik solusi terbaik.

"Pada prinsipnya, pemerintah Provinsi NTT siap mendukung penuh penyelenggaraan ETMC, baik jika digelar di Kabupaten Ende maupun di Kota Kupang. Yang penting adalah persiapan yang baik dan ada komunikasi yang sehat antara PSSI NTT dan PSSI Ende,” ujar Gubernur Melki di Kupang, Senin (28/7/2025) dari video yang beredar. 

Gubernur mengimbau agar perdebatan di media sosial (medsos) segera berakhir dan tidak perlu memperuncing situasi. 

"Saatnya para pemangku kepentingan duduk bersama mencari solusi terbaik. Sudah cukup di medsos. Sekarang mari duduk bersama. Bangun komunikasi yang baik antara PSSI NTT, Pemerintah Ende, Asprov NTT, Askab Ende, dan semua pihak terkait,” imbau Gubernur.

Gubernur Melki kembali menegaskan bahwa Pemprov NTT mendukung penuh kelancaran penyelenggaraan ETMC tanpa mempersoalkan lokasi penyelenggaraan.

“Di mana pun tempatnya, Pemprov siap bantu. Di Ende boleh, di Kupang juga siap. Yang penting ada komunikasi dan kesepahaman sehingga persiapan dan pelaksanaan dapat berjalan baik,” ujarnya.

Gubernur berharap agar ajang olahraga yang sudah menjadi tradisi dan kebanggaan masyarakat NTT tersebut tidak terganggu oleh dinamika yang bisa dihindari dengan dialog terbuka.

“ETMC ini bukan sekadar turnamen, tetapi simbol persatuan dan semangat sportifitas masyarakat NTT. Mari kita rawat bersama momentum ini,” pungkasnya.

Keputusan PSSI NTT Tuai Polemik

Sebelumnya, diberitakan bahwa PSSI NTT membatalkan keputusan hasil Kongres Asprov PSSI NTT pada tanggal 1 Maret 2025, yang menetapkan Ende sebagai tuan rumah melalui pelaksanaan ETMC 2025 lewat Surat Keputusan nomor: 03/Kongres/PSSI-NTT/KEP/III/2025.

Keputusan pembatalan tersebut tertuang dalam surat bernomor: 313/PSSI-NTT/VII/2025, yang ditandatangani oleh Ketua PSSI NTT, Chris Mboeik, pada 24 Juli 2024 lalu. Surat tersebut ditujukan langsung kepada Ketua PSSI Kabupaten Ende.

Dalam surat dijelaskan bahwa sesuai hasil Kongres PSSI NTT sebelumnya, pelaksanaan ETMC 2025 memang direncanakan digelar di Kota Ende pada Oktober 2025 mendatang. 

Namun, setelah mempertimbangkan berbagai hal, PSSI NTT memutuskan untuk memindahkan lokasi pelaksanaan ke Kota Kupang, tetap pada bulan Oktober 2025.

Adapun alasan terhadap perubahan tersebut yakni kondisi keuangan peserta liga 4 ETMC yang membutuhkan efisiensi anggaran, permintaan dari mayoritas anggota dan calon anggota PSSI NTT, dan situasi sosial politik di Kabupaten Ende yang dinilai kurang kondusif untuk pelaksanaan turnamen ETMC 2025.

Perubahan keputusan oleh PSSI NTT tersebut menuai polemik dan beragam tanggapan menohok para penikmat bola NTT, termasuk Bupati Ende, Josef Benediktus Badeoda.

Bupati Badeoda mengaku telah mengirim surat permintaan klarifikasi kepada Asprov PSSI NTT.

“Kita membuat surat kepada Asprov PSSI NTT, meminta klarifikasi. Meskipun surat Asprov itu ditujukan kepada Askab Ende, tetapi ini tentu berdampak buat kita karena sudah viral. Kita merasa memang perlu meminta klarifikasi dari Asprov,” kata Bupati Badeoda, Senin (28/7/2025). 

Bupati Badeoda menerangkan bahwa dalam surat itu, Pemerintah Kabupaten Ende meminta Asprov PSSI NTT menjelaskan maksud salah satu alasan bahwa situasi sosial politik di Ende jadi salah satu pertimbangan pemindahan lokasi gelaran ETMC 2025 tersebut.

“Kita ingin tahu, kondisi sosial politik yang tidak kondusif itu yang seperti apa? Kalau bahasa hukum-politiknya, yang namanya kondisi sosial-politik; sosial itu berarti ada kondisi sosial (masyarakat) yang tidak mendukung. Kalau politik, itu kondisi keamanan dan ketertiban yang tidak mendukung. Kalau dua-duanya itu yang dijadikan alasan, salah! Kita aman-aman, Ende baik-baik saja,” timpal Bupati dengan spirit politik ENDE BARU itu.

 

--- Guche Montero

Komentar