Breaking News

INSPIRASI Sinopsis Buku In Memoriam Setahun Uskup Sensi, RD. Dr. Rofinus Neto Wuli: "Verba Volant Scripta Manent" 23 Nov 2024 21:19

Article image
RD Dr. Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si (HAN) saat menggambarkan Sinopsis Buku Kenangan Mgr. Vincentius Sensi Potokota. (Foto: Che/IndonesiaSatu.co)
Tulisan-tulisan dalam buku ini kiranya dapat menyalakan kembali api kesadaran kenangan kita dan merupakan warisan amat berharga bagi siapa saja yang mengenal Mgr. Sensi.

BAJAWA, IndonesiaSatu.co-- Memaknai peringatan satu tahun berpulangnya mendiang Uskup Agung Ende, Mgr. Vincentius Sensi Potokota pada 19 November 2024 lau, UNIO KAE, STIPER Flores Bajawa, dan SMA Katolik Regina Pacis Bajawa menggelar

Peluncuran dan Bedah Buku "WARTAKANLAH FIRMAN BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA: In Memoriam Mgr. Vincentius Sensi Potokota"

Sebelum acara Launching dan Bedah Buku, rangkaian acara yang berpusat di lapangan tengah SMA Katolik Regina Pacis Bajawa, Sabtu (23/11/2024) itu diawali dengan perayaan ekaristi Kudus yang dipimpin Uskup Agung Ende, Mgr. Paulus Budi Kleden, SVD.

Sebelum Launching, salah satu Editor Buku, RD Dr. Rofinus Neto Wuli, S.Fil., M.Si (HAN), selain menggambarkan Sinopsis Buku, juga mengutarakan asal muasal hingga diterbitkan Buku Kenangan tersebut.

Berikut ini Sinopsis lengkap RD. Dr. Roni Neto Wuli;

Mulanya biasa saja. Berawal dari sebuah diskusi ringan di ruang makan Komunitas Kevikepan Bajawa, ketika Vikep Bajawa, Romo Gabriel Idrus menantang saya dan Romo Sil Betu: "kamu yang biasa menulis nih, bisakah menulis juga buat sosok-sosok inspiratif yang telah meninggalkan legacy karya pastoral, ada pewarisan nilai-nilai serta keutamaan-keutamaan di Gereja Lokal kita Keuskupan Agung Ende (KAE) seperti alm. Uskup Sensi, alm. Uskup Longginus, alm. Romo Yosef Lalu dan lain-lain? Kami serentak merespon, "siap Ka’e (kakak)!

Bertepatan juga dengan situasi KAE yang baru kehilangan Sang Gembala, Bapak Uskup Mgr. Sensi, kami lalu bersepakat untuk memaknai peringatan satu tahun berpulangnya Mendiang Mgr. Sensi pada 19 November 2024 dengan penerbitan Buku Kenangan Mgr.Vincentius Sensi Potokota.

Dengan spirit filosofi “Verba Volant Scripta Manent” (Kata-kata lisan terbang menghilang, Tulisan tinggal tetap), mulailah kami dalam kerja-kerja kolaboratif dengan berbagai pihak, mendesain langkah-langkah penulisan: mulai dari menginventarisir para Penulis/Kontributor, menghubungi mereka, serta menyampaikan Template, pengumpulan naskah serta kerja-kerja editing, hingga menghubungi Penerbit Obor Jakarta milik Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) untuk menerbitkan Buku yang ada di tangan kita dan sudah siap diluncurkan ke hadapan publik hari ini.

Untuk memperingati setahun wafatnya Mgr. Sensi, diterbitkanlah Buku Kenangan ini.

Persembahan berbagai tulisan dan kesan, dikemas dalam Buku yang berjudul: “WARTAKANLAH FIRMAN BAIK ATAU TIDAK BAIK WAKTUNYA: IN MEMORIAM MGR.VINCENTIUS SENSI POTOKOTA.”

Sajian Buku ini sesungguhnya memberikan perspektif yang berbeda-beda dengan gaya penulisan yang bervariasi.

Keberagaman tulisan dalam Buku ini, kiranya dapat memperkaya wawasan dan merawat ingatan para pembaca akan hidup dan karya Mgr. Sensi.

Judul Buku ini diambil dari Motto Episkopalnya: Praedica Verbum Opportune Importune (Wartakanlah Firman Baik Atau Tidak Baik Waktunya; 2 Timotius 4:2).

Motto Mgr. Vincentius Sensi Potokota ini menyadarkan kita bahwa Gereja mengemban tugas mewartakan Firman/Sabda Allah, apa pun dan bagaimana pun kondisi dirinya sendiri.

Gereja tidak boleh menunggu sampai segala sesuatu dalam dirinya dibereskan, baru boleh mulai berbicara tentang Allah kepada orang lain. Juga pada saat Gereja sendiri dililit berbagai permasalahan, dia tidak pernah dibebaskan dari tugas pewartaan ini. Gereja harus terus berbenah diri karena berbagai kepincangan dalam dirinya.

Tetapi sebagai jemaat Kristus, dia harus mewartakan Firman Allah dalam kerapuhannya sendiri. Di bawah terang firman itu, Gereja menempatkan dirinya dan terus berusaha memperbaiki dirinya bersama semua orang lain.

Gereja berhenti menjadi Gereja Kristus ketika dia berhenti mewartakan Kristus, bukan saat dia dililit berbagai masalah dan kekurangan. Gereja adalah Gereja misioner, yang tidak dapat memaafkan dirinya dengan berbagai kekurangannya sendiri.

Pewartaan dan Kesaksian

Berbagai refleksi tentang kepribadian, gaya kepemimpinan, dan kesaksian hidup ditulis oleh mereka yang mengenal Beliau, yang berjalan bersamanya.

Bersama mereka, Mgr. Sensi sungguh menghayati Motto Episkopalnya: “Praedica Verbum Opportune Importune” dalam hidup dan pelayanannya sebagai Uskup Keuskupan Agung Ende.

Mgr. Sensi tidak hanya mewartakan Firman Tuhan melalui inisiatif pastoral dan kegiatan-kegiatannya, tetapi juga, dan terlebih ketika masa sakitnya, dalam perjuangannya menghadapi dan menerima kondisi batas kehidupan seorang manusia, Mgr. Sensi mewartakan firman itu kepada kita. Kematiannya merupakan sebuah bentuk pewartaan dan kesaksian firman itu.

Buku setebal 360 halaman ini diterbitkan oleh Penerbit OBOR Jakarta, ber-ISBN: 978-979-565-990-7, cetakan pertama November 2024, memuat 28 tulisan dari sejumlah penulis yang diteropong dari pelbagai perspektif.

Buku berformat bunga rampai ini terdiri dari enam bagian, yang didahului dengan sebuah Sapaan Sambutan dari Mgr. Dr. Paulus Budi Kleden, SVD, Uskup Keuskupan Agung Ende saat ini.

Bagian Pertama, menghadirkan Spiritualitas Praedica Verbum Opportune Importune, yang terdiri dari: 1) Membaca Edukasi Spiritual Dalam Motto Thabisan Mgr. Vincentius Sensi Potokota oleh Dr.Imelda Oliva Wissang-- Suster Wilda CIJ; 2) Uskup Sensi Nyalakan Spirit Praedica Verbum Opportune Importune: Tolak Hukuman Mati Di Indonesia oleh Walburgus Abulat, S.Fil; 3) STIPER Flores Bajawa Dalam Spirit Praedica Verbum Opportune Importune oleh RD. Silverius Betu, S.Fil.,M.Han; 4) Komitmen Pendidikan Dalam Semangat Praedica Verbum Opportune Importune oleh Sr. Yosefina Itu, OSU. S.Sos.,MPA; 5) Penyambung Lidah Allah Dalam Pusaran Tantangan Evangelisasi di Milenium Ketiga oleh RD. Dr. Petrus Sina.

Bagian Kedua, meriwayatkan karya kegembalaan Mgr.Sensi sebagai Uskup Pertama Keuskupan Maumere, yang terdiri dari: 1) Pemberdayaan Untuk Kemandirian (Kepemimpinan Uskup Sensi di Maumere) oleh RD. Drs. Richardus Muga Buku, Lic; 2) Mgr. Sensi Sosok Gembala Pegiat Literasi, Orator Ulung, Dan Komunikator Andal oleh Walburgus Abulat, S.Fil; 3) “AGGIORNAMENTO” Kenangan Bersama Alm. Mgr. Vincentius Sensi Potokota (di Tor Lela-Maumere, 1989) oleh RD. Gerardus Bernadus Duka, M.Th; 4) Shock Therapy, Pastoral Kehadiran, Dan Catatan Harian oleh RD. Drs. Richardus Muga Buku, Lic.

Bagian Ketiga, mengisahkan karya kegembalaan Mgr. Sensi di Keuskupan Agung Ende, yang terdiri dari: 1) Pulang ke Katedral oleh Dr. Dra. Maria Matildis Banda, M.S; 2) Bapak Uskup Vincentius Sensi Pemimpin Yang Lembut Hati oleh Pater Dr. Lukas Jua, SVD; 3) Mgr. Sensi Seorang Uskup dan Konselor oleh RD. Benny Lalo; 4) Pemimpin Pemberani dan Baik Hati-- Sejumlah Kenangan Pribadi oleh RD. Nani Songkares; 5) Uskup Sensi Pendamping Spiritual Dan Jembatan Fidei Donum oleh RD. Stefanus Wolo Itu; 6)Kenangan Yang Terkasih Bapa Uskup Sensi - Gembala Yang Peduli dan Berjuang Untuk SDM Pertanian Unggul oleh Dr. Nicolaus Noywuli, S.Pt.,M.Si; 7) Puisi-Puisi untuk Mgr. Sensi oleh Fabian Thomas.

Bagian Keempat, kiprah pelayanan Mgr. Sensi di lingkup Konferensi Waligereja Indonesia (KWI) dan tingkat nasional, terdiri dari: 1) Mgr. Sensi Pembina, Pemimpin dan Pejuang Kemanusiaan oleh Mgr. Dr. Maksimus Regus-Uskup Labuan Bajo; 2) Mgr. Vincentius Sensi Potokota: Sang Pastor Bonus dengan Keunggulan Spirit Kebangsaan oleh RD. Dr. Rofinus Neto Wuli, S.Fil.,M.Si (Han); 3) Mgr. Sensi dan Kerasulan Awam Sinodal: Jejak-Jejak Perjumpaan oleh RD. Hans K. Jeharut-- Sekretaris Eksekutif Komisi Kerawam KWI; 4) Gembala dengan Hati Kebapa-an yang Melampaui Batas Wilayah Keuskupan Agung Ende: Mgr. Vincentius Sensi Potokota dan Pastoral Migran Perantau oleh RD. Dr. Eduardus Raja Para; 5) Jadilah Imam (Dan Awam) yang Sungguh-Sungguh! (Sekeping Memori tentang Mendiang Bapa Uskup Sensi) oleh Valens Daki-Soo, S.H., M.H.

Bagian Kelima, berisi kenangan akhir bersama Mgr. Sensi, terdiri dari: 1) Mgr. Sensi di Mata Uskup Manokwari Sorong oleh Mgr. Hilarion Datus Lega; 2) Mgr. Sensi dan Kesunyian Hidup oleh RD. Gabriel Idrus; 3) Lima Puluh Dua Malam di Getsemani Bersama Mgr. Sensi oleh RD. Felixius Djawa; 4) Dia yang Berbagi Luka oleh RD. Emanuel Natalis, S.Fil.,S.H.,M.H; 5) Mgr. Sensi dan Kantong-Kantong Penderitaannya oleh RD. Daniel Aka; 6) Mgr. Vincentius Sensi Potokota: Ikhtiar Kasih dan Pembalikkan Derita oleh Dr. Anselmus Dore Woho Atasoge, S.Fil.,M.Th; 6). Berpastoral di Tengah Arus Migrasi “The Last Supper” (Kenangan Terakhir Kehadiran Mgr. Sensi Dalam Munas XIV Unindo) oleh RD. Paulus Yanuarius Azi, S.Fil.,M.Th.

Bagian Keenam, mengetengahkan kesan rekan Imam, Biarawan dan tokoh Awam Katolik terhadap Mgr. Sensi dari Rm. Frans Tena Siu, Pr; Pater Patris Pa, SVD; Pater Jhon Lebe Wuwur, OCD; Bapak Dr. Drs. Josef A. Nae Soi, MM; Bapak Gregorius Patty Pello, BA; Ibu Mathilde Peamole; Bapak Tonny M. Tansatrisna; Bapak Yosef Nganggo, S.Ag.; Bapak Drs. John Elpi Parera; Bapak Herdianto Emanuel Ndiwa, ST, M.Pd dan Bapak Elias Tae,S.Pi.

Tulisan-tulisan dalam buku ini kiranya dapat menyalakan kembali api kesadaran kenangan kita dan merupakan warisan amat berharga bagi siapa saja yang mengenal Mgr. Sensi.

Semoga tulisan-tulisan dalam buku ini menjadi ikhtiar untuk terus merawat ingatan dan melawan lupa serta semakin meneguhkan kita untuk terus memelihara kasih persaudaraan, baik atau tidak baik waktunya.

--- Guche Montero

Komentar