INTERNASIONAL Waspada Modus Baru Perdagangan Manusia Internasional Berkedok "Misionaris Katolik", PADMA Indonesia: Perlu Kolaborasi Pentahelix 14 Apr 2025 17:52
"Sebagai institusi yang memiliki jaringan global dan kepercayaan publik tinggi, Gereja diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan edukasi terhadap umat soal modus kejahatan berkedok agama," kata Gabriel.
THAILAND, IndonesiaSatu.co-- Tindakan penyelidikan gabungan antara aparat penegak hukum Thailand dan Filipina berhasil mengungkap modus baru sindikat perdagangan manusia internasional.
Para pelaku kini menyamar sebagai misionaris atau peziarah Katolik untuk menghindari pemeriksaan ketat di bandar udara (bandara) dan menipu korban.
Demikian hal itu dilaporkan oleh Agenzia Fides, yang dikutip dari Catholic News Agency, Sabtu (12/4/2025).
Dalam kasus terbaru, terungkap dua perempuan muda berusia 23 tahun dan 25 tahun, berhasil diselamatkan saat hendak diberangkatkan ke Thailand oleh seorang perempuan yang lebih tua, yang mengklaim bahwa mereka adalah “relawan Katolik” untuk misi kemanusiaan.
Menurut laporan, petugas imigrasi mulai curiga setelah menemukan ketidaksesuaian dalam dokumen perjalanan mereka.
Setelah diinterogasi, kedua perempuan tersebut mengaku sebagai relawan Gereja Katolik yang hendak melakukan pelayanan di Thailand.
Namun, investigasi lebih lanjut mengungkap bahwa wanita yang mendampingi mereka merupakan bagian dari sindikat perdagangan manusia.
Para korban yang awalnya dijanjikan pekerjaan sebagai guru, ternyata dijebak dan diarahkan ke jaringan prostitusi.
“Pelaku memanfaatkan nama Gereja untuk menutupi kejahatan mereka. Ini sangat memprihatinkan,” ungkap seorang pejabat kepolisian setempat.
Modus penyamaran sebagai tokoh atau relawan agama telah menjadi perhatian serius bagi berbagai organisasi Katolik.
Dalam banyak kasus, identitas keagamaan digunakan sebagai tameng untuk menghindari pemeriksaan serta memperoleh kepercayaan dari calon korban dan aparat.
Gereja Katolik di kawasan Asia Tenggara pun mulai meningkatkan kesadaran di kalangan umat terhadap potensi penipuan berkedok pelayanan rohani.
“Ini seruan untuk Gereja di seluruh dunia: jangan biarkan nama misi suci kita dicemari oleh para pelaku kejahatan,” ujar seorang pastor dari Keuskupan Manila.
Dalam kasus ini, kembali terungkap fakta bahwa perempuan muda adalah target paling rentan dalam praktik perdagangan manusia.
Janji akan pekerjaan layak di luar negeri, kehidupan yang lebih baik, serta dalih misi keagamaan, seringkali menjadi pintu masuk ke dalam lingkaran eksploitasi.
Menurut data dari PBB, Asia Tenggara adalah salah satu wilayah dengan angka perdagangan manusia tertinggi di dunia.
Kelompok kriminal memanfaatkan kemiskinan, minimnya akses pendidikan, dan kepercayaan masyarakat terhadap institusi agama untuk melancarkan aksinya.
Kolaborasi Pentahelix
Menanggapi hal ini, Ketua Dewan Pembina PADMA Indonesia, Gabriel Goa, dalam keterangan kepada media ini, Senin (14/4/2025) menegaskan bahwa perlu kolaborasi Pentahelix; terutama antara Gereja, Pemerintah, dan Komunitas.
Menurut Gabriel, upaya pencegahan dan penanganan masalah Tindak Pidana Perdagangan Orang (TPPO) tidak bisa dilakukan oleh satu pihak saja, apalagi sudah masuk kategori internasional.
Menurut Gabriel, diperlukan kolaborasi antara pemerintah, lembaga keagamaan, aparat penegak hukum, dan masyarakat sipil untuk mencegah dan memberantas TPPO.
"Sebagai institusi yang memiliki jaringan global dan kepercayaan publik tinggi, Gereja diharapkan dapat berperan aktif dalam meningkatkan edukasi terhadap umat soal modus kejahatan berkedok agama," kata Gabriel.
Menurut Gabriel, upaya pencegahan perlu dilakukan secara masif; mulai dari tingkat komunitas basis, paroki, keuskupan, hingga pihak KWI. Juga berkoordinasi dengan aparat penegak hukum untuk identifikasi sindikat kejahatan TPPO, serta memberikan perlindungan dan pemulihan bagi korban," kata Gabriel.
Gabriel beranggapan bahwa dengan pengungkapan kasus ini, maka hendaknya menjadi alarm serius terhadap simbol-simbol agama seperti misi Katolik yang bisa dimanipulasi untuk tujuan kejahatan tersebut.
"Jika pelaku sudah berani melakukan penyamaran sebagai Misionaris Katolik, maka patut diduga sudah ada sindikat internasional yang bekerja secara terorganisir," nilainya.
"Sebagai umat beriman, kita tidak hanya dipanggil untuk percaya, tetapi juga untuk selalu waspada. Gereja harus menjadi benteng perlindungan agar tidak menimbulkan banyak korban ke depan," Gabriel menandaskan.
--- Guche Montero
Komentar