REFLEKSI Agama dan Spiritualitas 05 Aug 2024 10:44
Spiritualitas memungkinkan seseorang untuk mengembangkan harga diri yang sehat dan menghormati serta menghargai perjalanan orang lain.
Oleh Valens Daki-Soo
Dalam pandangan saya, cara beragama kebanyakan orang kita (Indonesia) masih lebih berkutat seputar ritus ibadah (ritualistis).
Orang merasa "sudah beragama" jika mengikuti (kalau bisa secara ketat) berbagai praktik ritual agamanya.
Padahal, religius saja tidak memadai.
Orang mesti menjadi "spiritual", lebih dari sekadar religius.
Spiritualitas itu melampaui agama.
Atau, dia lebih mendalam daripada agama.
Atau juga, dia adalah (seharusnya) inti dari setiap dan semua agama.
Andrea Mathews, seorang terapis kognitif dan transpersonal, dalam artikel berjudul "Religion vs. Spirituality - Which one enhances your mental health?" menulis, tujuan agama, secara umum, adalah untuk menyatukan sekelompok orang di bawah nilai-nilai dan prinsip-prinsip yang sama dan untuk memfasilitasi komunikasi kolektif dan individu mereka dengan Kekuatan Yang Lebih Besar dan/atau filsafat. Dengan kata lain, agama dimaksudkan untuk meningkatkan spiritualitas (Psychology Today, 11/12/2019).
Sangat mungkin untuk menjadi orang yang sangat religius namun sama sekali tidak berhubungan dengan spiritualitas dan hubungan esensialnya dengan diri yang otentik. Di sisi lain, spiritualitas sejati menyatukan seseorang dengan Diri-sejatinya.
Hal ini tidak berarti memisahkan keduanya. Di sisi lain, bisa juga kita terlalu terjebak dalam agama sehingga tidak memberikan ruang bagi roh (atau Roh) untuk berekspresi atau dikenal sama sekali.
Jika seseorang beragama tetapi tidak spiritual, kesehatan mentalnya tidak akan meningkat—bahkan mungkin akan sangat terganggu.
Agama yang mengajarkan atau menganjurkan penilaian terhadap diri sendiri dan orang lain seringkali sangat mengganggu kejiwaan. Spiritualitas, sebaliknya, akan mendorong rasa welas asih terhadap diri sendiri dan orang lain.
Agama yang mengajarkan bahwa kita harus bergantung sepenuhnya pada nasehat atau buku dari luar—bukannya mendengarkan desakan jiwa sendiri—adalah agama yang merusak kesehatan mental.
Menurut Andrea Mathews, agama yang mengajarkan kita bagaimana berpikir dan merasakan dunia tidak memberi kita ruang untuk bertumbuh dalam pemahaman kita sendiri tentang kehidupan dan dunia. Spiritualitas adalah perjalanan yang sangat pribadi dan individual ke dalam wilayah batin jiwa seseorang.
Orang yang melakukan perjalanan spiritual tersebut dapat menggunakan segala macam alat eksternal untuk memfasilitasi perjalanan tersebut—termasuk menghadiri gereja, kuil, atau masjid, dan/atau membaca kitab suci tertentu, dan/atau bergabung dan terlibat dengan orang lain dalam berbagai aktivitas spiritual.
Spiritualitas memungkinkan seseorang untuk menerima kehidupan sesuai dengan ketentuan kehidupan. Hal ini memungkinkan seseorang untuk berproses melalui pengalaman sulit dan menjadi lebih kuat dan bijaksana karena seseorang tetap sadar saat menjalani pengalaman tersebut.
Spiritualitas memungkinkan seseorang untuk mengembangkan harga diri yang sehat dan menghormati serta menghargai perjalanan orang lain.
Spiritualitas mendorong seseorang untuk berjalan melalui lubuk hati, pikiran, dan jiwa yang paling dalam dan mengenal dirinya sendiri dalam persekutuan yang mendalam dengan Kekuatan Yang Lebih Besar atau filosofi pilihannya.
Jika menjadi spiritualis, orang menjadi lebih humanis, memandang sesamanya sebagai dirinya sendiri.
Terkait itu, agama apapun pada hakikatnya harus bermuara pada praktik hidup yang baik. Kebaikan itu ditebar melampaui agama. Kita berbuat baik kepada siapapun bahkan kepada semesta alam ini.
Radikalisme agama terjadi antara lain karena orang memperlakukan agama sebagai "harta milik". Kaum radikalis menjaga agamanya sedemikian, termasuk memelihara "kemurnian" ajarannya, hingga bila perlu merusak dan melukai sesama yang berbeda agama, atau yang dipersepsi mengancam agamanya.
Agama semestinya menjadi basis moralitas dan humanitas karena nilai-nilai pro kehidupan dan pro kemanusiaan yang ditawarkannya.
Agama hanyalah "tubuh tanpa roh", jika tidak dinafasi spiritualitas dan kerelaan untuk terus berbagi kebaikan.***
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar