Breaking News

REGIONAL Apresiasi Karya Pater Dami Mukese, Pemuda Katolik Ende Gelar ‘Panggung Sastra’ 10 Dec 2017 20:21

Article image
Kegiatan Panggung Sastra oleh Pemuda Katolik Cabang Ende (Foto: GR)
“Pater Dami Mukese termasuk salah satu sastrawan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hadir melalui karya-karyanya dalam bentuk tulisan terutama puisi. Pemuda Katolik melalui kegiatan ini, ingin mengapresiasi karya-karya beliau serta ruang motivasi dan inspira

ENDE, IndonesiaSatu.co-- Pemuda Katolik (PK) Komisariat Cabang Ende, Jumat (8/12/17) menggelar kegiatan ‘Panggung Sastra’ bertempat di Wisma Emaus, Ende. Kegiatan tersebut diinisiasi sebagai bentuk apresiasi terhadap karya-karya Pater John Dami Mukese yang dikenal sebagai “penyair jelata.”

“Pater Dami Mukese termasuk salah satu sastrawan Nusa Tenggara Timur (NTT) yang hadir melalui karya-karyanya dalam bentuk tulisan terutama puisi. Pemuda Katolik melalui kegiatan ini, ingin mengapresiasi karya-karya beliau serta ruang motivasi dan inspirasi bagi generasi muda untuk terus menggeluti dan menghidupi sastra,” ungkap Ketua PK Komcab Ende, Rae Agustinus.

Gusty menerangkan bahwa kegiatan’Panggung Sastra’ tersebut mencakup bedah puisi dan pembacaan puisi yang menghadirkan kritikus sastra, Yohanes Sehandi dan Ketua Prodi PBSI Universitas Flores (Unflor), Suster Wilda, pelukis sekaligus pegiat LSM, John Th. Ire, komunitas Sastra Rakyat Ende (SARE) dan Komunitas Puisi Jelata (KPJ).

“Karya sastra harus mampu menginspirasi generasi muda dalam melihat berbagai realita melalui tulisan. Di tengah arus modernisasi dan teknologi, tidak jarang generasi muda mengabaikan karya-karya sastra yang justru berangkat dari kemampuan menulis, mecerna dan menjelaskan realitas yang ada. Diharapkan kegiatan ini menjadi pemicu semangat dan kecintaan generasi muda di bidang sastra,” kata Gusty.

Sementara kritikus sastra, Yohanes Sehandi yang hadir sebagai salah satu pembicara ‘Bedah Puisi’ dalam kegiatan tersebut memaparkan pengamatannya terhadap karya Pater Dami.

“Karya tulis Pater Dami di bidang jurnalistik sudah dikenal sejak tahun 1977 pada waktu masih mengikuti pendidikan di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik (STFK) Ledalero (1972-1981). Meskipun ia menulis puisi sejak tahun 1977, namun publikasi karya-karya puisinya baru mulai tahun 1979. Misalnya, puisi panjang berjudul “Kota” ditulis pada awal tahun 1977 di sebuah kota kecil di Tomor lalu dimuat dua tahun kemudian dalam majalah DIAN edisi VI, 10 Januari 1979,” ungkapnya.

Dijelaskannya, nama penyair John Dami Mukese mulai dikenal di panggung sastra Indonesia ketika puisi panjangnya berjudul “Doa-Doa Semesta” dimuat dalam majalah sastra Horison pada edisi II tahun 1983.

“Majalah sastra horison merupakan majalah dengan standar paling tinggi di Indonesia karenanya sangat sulit karya seorang penulis dapat diterbitkan oleh majalah itu. Apalagi, pada waktu itu tim redaksi majalah Horison adalah tokoh-tokoh sastra Indonesia, seperti, H.B. Jassin, Taufiq Ismail, Sapardi Djoko Damono, dan Sutardji Cazoum Bachri”, terangnya.

Ada pun karya Pater Dami dalam bentuk puisi yang sudah diterbitkan dalam bentuk buku yakni “Doa-Doa Semesta” (1983), “Puisi-Puisi Jelata” (1991), Doa-Doa Rumah Kita” (1996), “Puisi Anggur” (2004), dan “Kupanggil Namamu Madonna” (2004).

Selain itu, beberaa puisi hasil karyanya sering masuk dalam buku-buku antologi puisi yakni “Tonggak: Antologi Puisi Indonesia Modern” (1987), “Senja di Kota Kupang: Antologi Puisi Sastrawan NTT” (2013), dan “Ratapan Laut Sawu: Antologi Puisi Penyair NTT” (2014).

Yohanes menjelaskan bahwa karya Dami Mukese berupa puisi atau karya sastra yang terekam dalam sejumlah buku dan antologi puisi sebagian besar bersifat religius, yang merupakan perpaduan doa dan puisi.

“Itulah ciri, kekhasan, sekaligus kekuatan puisi karya Pater Dami. Oleh karena itu, dalam buku terbaru “Sastra Indonesia di NTT dalam Kritik dan Esai” (2017), saya mencantumkan Pater John Dami Mukese ke dalam jajaran 44 sastrawan NTT,” tandas Yohanes.

Senada Yohans, Ketua Prodi PBSI Uniflor Ende Suster Wildamenilai Pater Dami sebagai penyair yang komunikatif dalam diam. Menurutnya, mencermati puisi karya-karya beliau ibarat sedang belajar dinamika kehidupan, dinamika perilaku manusia sekaligus dinamika spiritualitas yang berakar dari kesederhanaan manusia jelata yang terkadang lupa atau dilupakan.

“Saya melihat beliau sebagai ‘guru’ yang memiliki tiga misi yakni kesediaan yang tak terbatas, kerelaan untuk berbagi dan keterbukaan menjadi tempat bagi siapa pun untuk belajar. Beliau selalu terbuka memberikan sumbangan waktu dan pikiran yang sangat membantu menghidupkan kreativitas mahasiswa. Hal ini sangat terasa ketika proses pembentukan Komunitas Puisi Jejak Langkah Kita atau yang sekarang lebih dikenal Komunitas Puisi Jelata,” ungkap Suster Wilda.

Sedangkan pelukis dan pegiat LSM, John Ire berpandangan bahwa karya Pater Dami sebagai “penyair jelata” memiliki kedalaman refleksi spiritual, kritis melihat realita serta mengandung panggilan profetik terhadap kehidupan manusia (umat) yang dijumpainya.

“Karya-karya beliau syarat dengan kedalaman spiritual juga seruan kritis terhadap kehidupan. Puisinya sangat teduh, inspiratif, menggugah serta mudah dicerna oleh banyak orang,” pungkasnya.

Kegiatan ‘Panggung Sastra’ yang disaksikan ratusan penonton dan para mahasiswa ini diawali dengan pembacaan puisi oleh komunitas SARE dan ditutup dengan persembahan puisi oleh KPJ dari mahasiswa PBSI Uniflor Ende.

--- Guche Montero

Komentar