REFLEKSI Gagal? Manusiawi. Menyerah? 'No Way'! 15 Jun 2024 21:01
Ksatria sejati diuji dalam krisis, ditempa oleh badai.
Oleh Valens Daki-Soo
Entah bagaimana dengan hidup Anda, tetapi jika Anda mengaku pernah bahkan sering gagal, itu berarti kita sama. Dan, memang, demikianlah kehidupan. Bagi setiap pribadi yang kuat, matang dan percaya diri, kegagalan itu jembatan menuju sukses. Sekali lagi, kegagalan adalah jembatan. Jadi, Anda tidak perlu lama berkeluh-kesah jika mengalami kegagalan.
Kisah para pesohor yang sukses justru menarik bukan karena puncak prestasi mereka, melainkan cerita di balik itu yang menggambarkan betapa besar rintangan yang mereka bisa lalui, sering terhempas jatuh, lalu bangun dan melangkah lagi.
Thomas Watson, mantan CEO IBM pernah berkata, “Jika Anda ingin meningkatkan tingkat keberhasilan, gandakan tingkat kegagalan Anda.”
Kebenaran ini terdengar lucu. Dr Margie Warrell dalam sebuah artikel berjudul, "Failing Is Hard, But Not Near As Hard As Learning From It", mengatakan mempertaruhkan kegagalan itu penting. Bukan kegagalan yang bodoh – kegagalan yang terjadi saat menguji kedalaman air dengan kedua kaki. Sebaliknya, variasi yang dipertimbangkan dengan baik: ‘kegagalan cerdas’ yang penting untuk melewati ketidakpastian, kompleksitas, dan ambiguitas.
Penegasan Presiden Kennedy bahwa untuk ‘mencapai kesuksesan’ kita harus ‘sangat berani’ juga merupakan seruan lain untuk ‘mengambil risiko’. Namun keberanian yang berani, bahkan yang cerdas, bukanlah ‘tiket emas’ menuju kehebatan. Separuh bagian lainnya adalah mempelajari pelajaran dari kegagalan.
Dan disitulah letak masalahnya. Kebanyakan orang buruk dalam hal itu. Seperti yang diungkapkan Amy Edmondson, Profesor Kepemimpinan dan Manajemen Novartis di Harvard Business School, “Belajar dari kegagalan tidak semudah yang Anda bayangkan.”
"Jujur saja, tidak ada seorang pun yang ingin gagal. Kami berangkat untuk sukses. Untuk meluncurkan produk, menemukan obatnya, menemukan teknologinya, dll. Dan jika kita cukup berani, kita akan menghadapi banyak risiko kegagalan sepanjang hidup kita," tulis Warrell.
Tatkala saya "gagal" meraih cita-cita menjadi imam Katolik sekian tahun silam, saya berdiri termangu menatap ke arah bukit dari jendela kamarku yang sepi, melempar tanya tanpa jawaban ke arah terbenamnya matahari, "Sekarang, saya harus tinggalkan tempat ini. Keputusanku sudah bulat, saatnya saya pergi dari sini. Apa yang akan kucari, dan menjadi apa kelak saya nanti?"
Oleh karena merupakan cita-cita sejak kecil, bukan hal mudah bagi saya untuk keluar dari lembaga pendidikan seminari (Latin, "seminarium": tempat pembibitan atau persemaian benih), apalagi sudah di seminari tinggi. Dalam sistem pendidikan calon imam, ada seminari menengah yang terdiri dari SMP/SMA dan sebagai kelanjutannya ada seminari tinggi yang melekat dengan Sekolah Tinggi Filsafat dan Teologi. Namun, meski berat hati, saya konsisten dengan keputusan untuk 'pergi'.
Dalam perjalanan kemudian yang penuh dinamika, saya mulai menemukan jawaban terhadap pertanyaan yang pernah terlempar di benak saya dulu ketika tinggalkan seminari. Jawabannya kira-kira seperti ini, "Saya ada di sini, saat ini, bukan tanpa arti. Saya ada di sini karena kehendak Ilahi, dan itu pasti karena suatu misi."
Apa misi hidup ini? Berbuat baik, mengabdi dan memberi.
Perjalanan setelah keluar dari seminari bukan hanya tidak mudah melainkan penuh badai. Pada awalnya begitu sulit mendapat pekerjaan di Jakarta, hidup hanya bergerak dalam pusaran "bertahan atau selesai!" Artinya, harus 'survive', bertahan menembus badai, ataukah menyerah kalah dan lari. Mengalami kesakitan, penolakan, penghinaan, 'gak dianggap' alias dipandang remeh, dan sebagainya -- adalah serpih-serpih pengalaman yang memperkaya, sebagai "pupuk yang menyuburkan", bukan mematikan pohon perkembangan pribadi.
Kegagalan dalam berbagai hal pernah saya alami, mungkin seperti Anda juga. Namun, itu tidak bisa dan tak boleh bikin patah arang, malah bikin mental kian kokoh seperti batu karang.
Ksatria sejati diuji dalam krisis, ditempa oleh badai.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar