KOLOM In Memoriam Hendrikus Dori Wuwur, SVD: Pengkotbah yang Semakin Singkat Berkata-Kata 03 Feb 2017 15:08
Pengkotbah kebaikan itu semakin singkat berkata-kata bahkan tidak berkata lagi karena kata-katanya kini hidup dan bernafas mengunjungi bangsa-bangsa.
Oleh RD Rofinus Neto Wuli*
PAGI ini seusai menyiapkan kotbah pagi, saya sempatkan diri membuka facebook. Di facebook muncul sebuah kabar duka dari status beberapa teman yang turut menyeret saya dalam kesedihan yang mendalam. Seorang dosen dan intelektual yang berjasa bagi pendidikan terutama ilmu retorika, berkotbah, ataupun menulis, Romo Dr. Hendrikus Dori Wuwur, SVD telah meninggal dunia hari ini. Almarhum adalah dosen ilmu retorika, kateketik, dan homiletik yang berjasa di Ledalero. Tergerak oleh kesedihan, sambil berdoa saya pun mengunjungi rak-rak perpustakaan saya untuk menemukan buku-buku tulisan almarhum.
Hatiku Tumpangan-Mu (Penerbit Obor: Jakarta, 2001), Sabda Kehidupan: Masa Paskah (Penerbit Ledalero: Maumere, 2004), Berkhotbah: Suatu Petunjuk Praktis (Penerbit Nusa Indah: Ende, 1987), Retorika: Terampil Berpidato, Berdiskusi, Berargumentasi, Bernegosiasi (Penerbit Kanisius: 1991). Ini buku-buku yang sempat saya kumpulkan. Saya juga menemukan satu artikel tulisannya dalam antologi tulisan mengenang sahabatnya, Romo Yosef yang baru saja diterbitkan dalam buku berjudul Romo Yosef Lalu, Pr: Pencerita dan Penebar Nilai (Penerbit Herya Media: Jakarta, 2017). Mungkin ini garapan terakhir yang ditulisnya.
Kesan pertama saya terhadap Romo Hendrik adalah ia salah satu dosen yang berjasa dalam menekankan kekuatan kata-kata komunikatif di manapun ia berada. Seluruh pengabdian intelektualnya sebagai dosen di Sekolah Tinggi Filsafat Katolik Ledalero diabdikan untuk mengajari dan memberi teladan berkata-kata kepada para mahasiswanya. Pengajarannya menunjukkan panggung kehidupan sebagai komunikasi, bahwa perjumpaan dengan orang lain menjadi efektif jika manusia dapat memiliki kualitas komunikasi. Ia semacam memiliki keyakinan antropologis bahwa manusia adalah makhluk komunikasi.
Sebagai salah satu muridnya, salah satu kalimat yang sering diucapkan almarhum adalah “jangan berhenti untuk mulai, dan jangan mulai untuk berhenti.” Saya artikan bahwa komunikasi antarmanusia harus berlangsung terus. Komunikasi antara manusia dapat menjadi eksteriorisasi karakter seorang untuk mengundang orang lain mengambil bagian dalam kehidupannya. Banyak kali dalam pelajaran di kelas, almarhum selalu melatih untuk berkomunikasi dengan baik dan benar. Buku-buku yang ditulisnya menggambarkan secara konkret dan praktis cara berkomunikasi dalam berkotbah, berargumentasi, berdebat, ataupun percakapan dalam kehidupan biasa.
Namun, almarhum tidak hanya mengajar dan menulis. Almarhum menghidupi apa yang dikatakannya sendiri. Apa yang saya tangkap dari almarhum adalah kekuatan komunikasi yang paling besar bergantung pada kesejajaran antara integritas dan kepiawaian berkata-kata dalam situasi dan tempat yang tepat. Nasihatnya sederhana tetapi bergizi: antara kata dan karakter manusia saling mengikat dalam satu jalinan mutualis. Kata atau tulisan akan menarik dan berkualitas jika ditarikan dalam perbuatan-perbuatan baik.
Apa yang diajarkan almarhum dahulu sangat mengena dalam kajian keilmuan yang saya tekuni yakni dalam bidang Kajian Perdamaian dan Resolusi Konflik. Dalam mengatasi sebuah konflik, dibutuhkan komunikasi yang dialogal di mana setiap orang melibatkan diri dalam percakapan dan integritas diri. Mengatasi masalah atau konflik yang berujung pada perdamaian membutuhkan teknik-metodis dan integritas pihak-pihak yang terlibat masalah untuk menghancurkan spiral kekerasan.
Saya menyadari bahwa intelektualitas-integritasnya di bidang komunikasi tidak datang dari kekosongan. Merunut pada pemikir Jerman Hans Georg-Gadamer, almarhum lahir dari tradisi pendidikan dan pembinaan sebagai Pastor Katolik. Almarhum dibesarkan dari tradisi Kongregasi Katolik Societas Verbi Divini (Serikat Sabda Allah/SVD). Salah satu kutipan favorit dasar dari ayat Alkitab dari SVD sejak zaman pendiri Arnoldus Janssen adalah Yohanes 1: 1, yang berbunyi: “Pada mulanya adalah Sabda...”. Lahir dari kongregasi yang membaktikan diri pada pewartaan Firman Tuhan, almarhum memberikan kesaksian bahwa pewartaan Tuhan melalui komunikasi dapat efektif dalam memperjuangkan perdamaian dan keutuhan ciptaan.
“Kata-kata menarik, teladan menggerakkan” (verba movent, exempla trahunt): begitulah almarhum membaktikan hidupnya di tengah buku-buku, mengajar di kelas, dan penelitian-penelitian akademis. Namun, itu bukan berarti almarhum tidak terlibat dalam praksis sosial. Saya banyak kali membaca beliau tidak segan turut serta melakukan advokasi kritis terhadap dugaan korupsi, menolak pertambangan, dan terlibat dalam perjuangan mengadvokasi kesetaraan gender di Komunitas TRUK-F. Bagi saya almarhum mampu menunjukkan dimensi emansipatoris ilmu pengetahuan dengan turun langsung ke dalam praksis masyarakat, serentak itu pula tetap menjunjung tinggi integritas keilmiahannya.
Kesan berikut yang saya temui dari almarhum adalah menjunjung tinggi dialog. Dalam berdialog, almarhum sering memberikan pemikiran-pemikiran kritis. Ia percaya bahwa komunikasi yang didasari sikap dialog dapat membuka ketertutupan. Dalam buku Hati-Ku Tumpangan-Mu (hlm. 115-116), almarhum menekankan semangat Lobby in der Mitte, menjadi pribadi yang mampu menengahi. Seorang harus mampu membawa damai di tengah perselisihan dengan teladan karakter dan kualitas berkomunikasi yang baik. Pesan ini sangat relevan dengan konteks Indonesia yang kini membutuhkan semangat dialog di tengah kebhinekaan.
Maka, sambil membuka buku-bukunya saya membayangkan ribuan siswa yang telah dididiknya untuk berkomunikasi kini telah melanglang buana mengelilingi seluruh benua di dunia mewartakan perdamaian dan kebaikan. Sebagaimana diketahui ratusan pastor Katolik SVD diutus ke puluhan negara di dunia, ribuan pastor yang melayani di Indonesia, dan ribuan alumni sekolah tersebut yang tidak menjadi Pastor kini mewartakan kebaikan dan perdamaian tersebut di mana-mana berkat ajaran dan keteladanannya.
Dalam artikel berjudul “Nuansa Sekolah MUNCHEN dalam Pewartaan dan Homiletis Romo Yosef Lalu, Pr” almarhum mengutip J.Heinrich Pestalozzi, pedagog asal Swiss: Semakin banyak dan mendalam seseorang berpikir, maka semakin hematlah dia mengucapkan kata-kata yang meyakinkan. Pengkotbah kebaikan itu semakin singkat berkata-kata bahkan tidak berkata lagi karena kata-katanya kini hidup dan bernafas mengunjungi bangsa-bangsa. Bagi saya, almarhum yang wafat dalam diamnya membangkitkan kesaksian murid-muridnya tentang kematangan intelektualnya. Ia wafat tetapi warisannya tetap abadi.
Tuhan, Engkau sudah meminjamkan dia kepada kami
Dan kami merasa bahagia karena pernah memiliki dia.
Namun sekarang, Engkau mengambil dia kembali kepada-Mu, tanpa protes, meski hati kami terkoyak dan sedih...
(St. Hieronimus)
*Pasbanmil Keuskupan TNI/POLRI, tinggal di Pastoran OCI St. Valentino Kopassus Cijantung Jakarta Timur.
Komentar