REFLEKSI Kebaikan Berbuah Kebaikan -- Itu Pasti! 16 Jun 2024 19:00
Ketika menolong sesama, kita tidak perlu berharap akan dibalas.
Oleh Valens Daki-Soo
Belum sampai seminggu KPU Pusat mengeluarkan pengumuman Daftar Caleg Sementara (DCS) untuk DPR RI pada Pemilu 2014, dan saya ditunjuk menjadi Caleg DPR RI dari PDI Perjuangan mewakili Dapil Jabar IV (Sukabumi) dengan nomor urut 3, saya langsung mendapat "kejutan menarik". Seorang kyai senior dari Sukabumi mengundang saya untuk bersua. Dalam bahasa beliau, "Mari kita makan siang bersama..."
Tentu saja saya heran karena belum pernah ada komunikasi sebelumnya. "Pak Kyai, makasih banyak sebelumnya. Tetapi Pak Kyai kenal saya dari siapa ya?" Lalu beliau menyebut nama seseorang, ustadz muda yang juga keturunan Pangeran Jayakarta.
Dari sejarah kita belajar, Pangeran Jayakarta adalah penguasa Jakarta tahun 1600-an yang pertama kali berperang melawan VOC Belanda. Sepupunya, Pangeran Sanghyang, adalah panglima perang nan gagah perkasa yang menghabisi nyawa JP Coen, Gubernur Jenderal VOC yang arogan dan penindas rakyat itu.
Kisah perkenalan dengan ustadz muda yang juga memimpin sebuah paguyuban di Jakarta ini terjadi begitu sederhana. Menjelang Idul Adha tahun lalu, saya didatangi seseorang yang membawa proposal permohonan hewan kurban untuk para anak yatim dan kaum dhuafa yang tinggal di sekitar makam Pangeran Jayakarta di kawasan Jatinegara Kaum, Jakarta Timur, yang ditetapkan sebagai situs sejarah dan cagar budaya sejak zaman Bung Karno. Makam dan masjid di sampingnya (masjid ini dibangun P. Jayakarta) sudah didatangi ribuan orang untuk 'nyekar', termasuk para presiden republik ini dan petinggi lainnya. Alhamdulillah, Pak Jokowi pun sudah dua kali ke sana dan berkomitmen merenovasi cagar budaya bernilai historis tinggi ini.
Untuk memastikan, saya berkunjung ke situs tersebut dan bertemu pimpinannya. Lalu kantor saya pun mengabulkan proposal Idul Adha, dan sejak itu saya makin dekat dengan warga paguyuban Keluarga Besar Pangeran Jayakarta. Kami berdialog tentang apa saja, seraya saling menghargai perbedaan agama, suku dan budaya. Mereka menghormati saya sebagai seorang Katolik, pendatang dari 'pulau seberang' pula. Mereka sering bertamu ke rumah saya, sebaliknya saya pun kerap berkunjung ke tempat mereka untuk silaturahmi.
Nah, pak kyai dari Sukabumi itu mengenal nama saya dari sahabatku turunan sang pangeran, Raden Triaji Syahbandar Muda. Seperti 'efek domino', persahabatan dengan R. Triaji membuat saya berkenalan pula dengan para kerabat dari Banten, Cirebon, Garut, dan kini Sukabumi.
Ketika menolong sesama, kita tidak perlu berharap akan dibalas. Ketika memberi, hati kita mesti bebas dari pamrih. Dengan memberi kita merasa bahagia, dan itu sudah cukup. Bukankah kebahagiaan adalah anugerah tertinggi kehidupan? Namun, hukum alam menggariskan, apapun yang Anda berikan/lakukan, akan kembali kepada Anda.
Perjuangan saya -- dan saya yakin begitupun setiap orang -- adalah "menjadi orang baik". Gelar dan jabatan apapun hanyalah "atribut dan predikat" sekaligus sarana untuk melayani -- dalam ungkapan Kristiani: menjadi terang dan garam bagi dunia.
Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co
Komentar