Breaking News

BERITA Keluarga Ungkap Kronologi Dokter Icha Ditemukan Meninggal 28 Jun 2026 01:46

Article image
Jenazah dokter Icha saat tiba di rumah duka disambut tangisan keluarga dan pelayat. (Foto: Kompas.com)
Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya dokter Icha masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Aparat juga masih mendalami barang bukti dan memeriksa sejumlah saksi.

KUPANG, IndonesiaSatu.co-– Masyarakat Nusa Tenggara Timur (NTT) pada umumnya dan masyarakat Timor Tengah Utara (TTU) pada khususnya, dihebohkan oleh pemberitaan tentang kematian seorang dokter muda, Eliza Princila Utami Pakaenoni atau dokter Icha.

Keluarga menceritakan kronologi dokter Icha ditemukan meninggal dunia di rumah orang tuanya yang beralamat di perumahan RSS Baumata, Kabupaten Kupang, NTT, pada Jumat (26/6/2026) sekitar pukul 18.00 WITA.

Sebelum meninggal, dokter muda yang masih berusia 27 tahun itu sempat menjalani perawatan medis karena tekanan psikologis usai diduga diintimidasi oleh anggota DPRD TTU saat menangani pasien rujukan korban gigitan ular di RS Leona pada Sabtu (13/6/2026).

Paman dokter Icha, Fabianus Banase mengatakan, saat kejadian dokter Icha berada di rumah bersama dua adiknya. Sementara sang ayah sedang berada di kebun, sedangkan ibunya masih bekerja.

Kemudian, salah satu adiknya yang juga berprofesi sebagai dokter, naik ke lantai dua rumah. Namun setibanya di atas, ia menemukan dr Icha sudah dalam kondisi tergantung.

"Berdasarkan perkiraan keluarga, dr Icha telah meninggal sekitar 20 menit sebelum ditemukan," ujar Fabianus, Sabtu (27/6/2026), melansir Kompas.com. 

Setelah itu, jenazah dievakuasi ke Rumah Sakit Bhayangkara Kupang untuk menjalani pemeriksaan luar.

Menurut Fabianus, hasil pemeriksaan awal tidak menemukan tanda-tanda kekerasan pada tubuh almarhumah.

"Atas kesepakatan keluarga, kami memutuskan tidak dilakukan otopsi. Jenazah kemudian dibawa ke rumah duka Baumata untuk disemayamkan dan didoakan bersama keluarga, sahabat, serta para pelayat," ungkapnya.

Sebelum meninggal dunia, dokter Icha diketahui sempat menjalani perawatan medis selama sekitar enam hari sejak 15 Juni 2026. Setelah kondisinya membaik, ia diperbolehkan pulang pada 21 Juni 2026 dan melanjutkan pengobatan secara rawat jalan. 

Fabianus mengaku, ia masih sempat berkomunikasi dengan dokter Icha melalui pesan singkat pada hari yang sama atau Jumat (26/6/2026).

Saat itu, ia meminta keponakannya fokus memulihkan kondisi kesehatan dan tidak memikirkan persoalan lain.

"Sore itu juga saya sampaikan supaya nanti kita bertemu di Rumah Sakit Bhayangkara untuk pemeriksaan lanjutan sekitar pukul 16.15. Tetapi sebelum itu terlaksana, sekitar menjelang pukul 18.00 kami mendapat kabar dia sudah meninggal dunia," terang Fabianus.

Fabianus mengatakan kabar duka tersebut menjadi pukulan berat bagi keluarga. Mereka mengaku tidak pernah membayangkan dokter Icha akan mengakhiri hidupnya.

Fabianus juga mengatakan bahwa sejatinya dokter Icha meninggalkan sepucuk surat dan ponsel di lokasi kejadian. Namun, pihak keluarga belum dapat memeriksa surat maupun ponsel itu karena telah diamankan oleh penyidik kepolisian. 

Diduga Alami Intimidasi Saat Bertugas 

Sebelum meninggal dunia, dokter Icha menjadi sorotan publik setelah diduga mengalami intimidasi saat bertugas di Instalasi Gawat Darurat (IGD) RS Leona Kefamenanu ketika menangani seorang pasien korban gigitan ular.

Paman almarhumah yang lain, Victor Manbait mengatakan, dokter Icha telah memberikan pelayanan sesuai Standar Operasional Prosedur (SOP) rumah sakit serta arahan dokter spesialis anak. Namun, situasi berubah ketika keluarga pasien meminta pemberian vaksin tertentu yang menurut pertimbangan medis belum direkomendasikan dan tidak tersedia di rumah sakit.

Victor menyebut dua pria yang mengaku sebagai anggota DPRD TTU kemudian mendatangi ruang perawatan dan menyampaikan protes dengan nada tinggi.

Salah seorang di antaranya disebut sempat menunjuk wajah dokter Icha ketika meminta penjelasan.

Akibat peristiwa tersebut, dokter Icha dikatakan mengalami tekanan psikologis hingga menangis saat bertugas. Kondisinya kemudian memburuk dan sempat menjalani perawatan medis.

"Dokter Icha mengaku masih mengalami ketakutan dan tekanan psikologis akibat bentakan yang diterimanya saat bertugas," kata Victor.

Sementara dua anggota DPRD TTU yang disebut dalam peristiwa tersebut, Therensius Lazakar dan Norbertus Tubani, membantah telah melakukan intimidasi terhadap dokter Icha maupun tenaga kesehatan lainnya.

"Kami tidak pernah berniat mengintimidasi tenaga medis. Informasi yang beredar tidak sesuai dengan fakta yang sebenarnya terjadi," kata Therensius. 

Ia mengakui nada bicaranya sempat meninggi, tetapi menurutnya hal itu terjadi karena situasi panik melihat kondisi pasien, bukan untuk mengintimidasi dokter.

"Kami akui dalam situasi itu nada bicara memang sempat meninggi karena panik melihat kondisi pasien. Tetapi sama sekali tidak ada niat untuk mengintimidasi dokter ataupun tenaga kesehatan," ujarnya.

Sedangkan Norbertus Tubani mengatakan dirinya bersama Therensius hanya meminta penjelasan mengenai kondisi pasien. 

Setelah memperoleh penjelasan dari dokter, kata dia, mereka juga telah menyampaikan ucapan terima kasih sekaligus permohonan maaf kepada Direktur RS Leona, dokter, dan tenaga kesehatan yang bertugas. 

Hingga kini, penyebab pasti meninggalnya dokter Icha masih dalam penyelidikan pihak kepolisian. Aparat juga masih mendalami barang bukti dan memeriksa sejumlah saksi.

Muncul desakan publik agar anggota DPRD yang diduga melakukan intimidasi agar diproses hukum dan ditindak tegas oleh Badan Kehormatan Dewan hingga Pimpinan Partai.

--- Guche Montero

Komentar