Breaking News

KESEHATAN Perlu Ada Koordinasi Program Pengendalian TB dengan Program Penanggulangan Merokok 31 May 2026 19:46

Article image
Penerima Tobacco Free Award dari WHO 1998 dan Penerima Penghargaan Penanggulangan TB dari PPTI 2026, Prof Tjandra Yoga Aditama. (Foto: Ist)
WHO menyebutkan bahwa setiap tahun diperkirakan ada 8 juta kematian di dunia akibat kebiasaan merokok ini. Di dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden juga dicantumkan tentang penyakit tuberkulosis.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co - Tanggal 31 Mei adalah “World No Tobacco Day”) atau Hari Tanpa Tembakau Sedunia – HTTS.

WHO menyebutkan bahwa setiap tahun diperkirakan ada 8 juta kematian di dunia akibat kebiasaan merokok ini. Di dalam Asta Cita Presiden dan Wakil Presiden juga dicantumkan tentang penyakit tuberkulosis.

Karena itu, pada HTTS tahun ini kita akan membahas hubungan antara Tuberkulosis dan kebiasaan merokok.

Penerima Tobacco Free Award dari WHO 1998 dan Penerima Penghargaan Penanggulangan TB dari PPTI 2026, Prof Tjandra Yoga Aditama mengatakan, tuberkulosis terjadi akibat kuman Mycobacterium tuberculosis. Tetapi bukti ilmiah menunjukkan bahwa kebiasaan merokok ternyata berdampak buruk bagi terjadinya dan penanganan TB.

WHO dalam publikasinya yang berjudul “Tobacco Exposed - Poisoning our planet and a key driver for the TB epidemic” menyebutkan tentang ada empat dampak kebiasaan merokok pada tuberkulosis.

”Pertama, kebiasaan merokok adalah faktor penting pada epidemi tuberkulosis, dimana pada tahun 2020 diperkirakan ada 730.00 kasus TB yang berhubungan dengan  kebiasaan merokok pasiennya,” ujar Direktur Pascasarjana Universitas YARSI / Adjunct Professor Griffith University Australia itu.

Kedua, risiko untuk mendapat TB adalah dua kali lebih sering pada mereka yang merokok, termasuk yang terpapar asap rokok sebagai perokok pasif.

Ketiga, kebiasaan merokok ternyata punya dampak memperlambat pemulihan dari sakit TB, dan juga berdampak pada keberhasilan pengobatan serta terjadinya kekambuhan dan bahkan kematian.

Keempat, pasien TB yang masih merokok juga ternyata lebih sering mengalamai masalah keluhan paru-paru nya walaupun sudah menyelesaikan pengobatan TB. 

Publikasi lain dari jurnal ilmiah internasional ‘Pathogens’ tahun 2024 yang berjudul “Cigarette Smoking as a Risk Factor for Tuberculosis in Adults: Epidemiology and Aspects of Disease Pathogenesis” menyampaikan bahwa sejak 1918, sudah banyak diperdebatkan tentang hubungan antara TB dan merokok.

”Hanya saja kemudian, dengan berbagai bukti ilmiah studi epidemiologik dan meta analisa maka ditemukan dan dibuktikan bahwa perokok aktif dan juga perokok pasif jelas merupakan faktor risiko untuk lima hal tuberkulosis,” katanya.

”Pertama adalah infeksi TB, kedua terjadinya reaktivasi TB, ketiga perburukan dari TB primer, keempat peningkatan beratnya kasus TB dengan kavitas (lubang di paru) dan kelima bahkan juga kematian akibat TB,” ujarnya.

Publikasi ilmiah ini, kata Penerima Rekor MURI April 2024, Penerima Penghargaan Paramakarya Paramahusada 2024 – PERSI, Penerima Penghargaan Achmad Bakrie XXI 2025 ini, juga memaparkan bukti ilmiah dari sisi pendekatan penting lain, yaitu dua mekanisme aspek klinik – laboratorik.

Pertama, asap rokok ternyata mengganggu - bahkan mensupresi- peran makrofag alveolar yang merupakan pertahanan tubuh terhadap kuman TB.

Kedua, asap rokok juga punya dampak terhadap kuman TB, yang dengan proses mutasi genetik maka dapat menyebabkan resistensi sehingga kuman TB akan berpotensi kebal dan tidak dapat dibunuh oleh obat anti TB yang diberikan.

”Dari uraian di atas maka jelas perlu ada koordinasi antara program pengendalian tuberkulosis dengan program penanggulangan merokok, dan ini perlu juga diterapkan di negara kita, baik di tingkat klinik maupun kebijakan nasional,” pungkasnya. *

 

--- F. Hardiman

Komentar