Breaking News

POLITIK Komisi XIII DPR RI Dorong Optimalisasi Pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring Sebagai Salah Satu Sumber PNBP 12 Feb 2026 08:06

Article image
Foto bersama anggota Komisi XIII DPR RI dan pejabat Kemensesneg serta pengelola Istana Kepresidenan Tampaksiring usai rapat. (Foto: Istimewa)
IKT berdiri atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan juga bagi tamu-tamu negara yang berkunjung ke Bali.

TAMPAKSIRING, BALI, IndonesiaSatu.co -- Komisi XIII DPR RI mendorong  optimalisasi pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring (IKT) pada sektor keparawisataan sebagai salah satu sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP).

Demikian salah satu poin penting dari kesimpulan Rapat Dengar Pendapat (RDP) tim Kunjungan Kerja Spesifik (Kunspek) Komisi XIII DPR RI dengan Kementerian Sekretariat Negara (Kemensesneg) yang membahas pengawasan pengelolaan, pemeliharaan, dan pemanfaatan IKT di IKT, Kabupaten Gianyar, Bali (11/2/2026).

Kunspek dimulai dengan acara peninjauan beberapa spot utama IKT, seperti Wisma Negara, Wisma Merdeka, museum, dan beberapa bangunan penunjang lain yakni Jembatan Persahabatan yang menghubungkan Wisma Negara dan Wisma Merdeka serta Gedung Kori Agung.

RDP berlangsung  di Graha Bung Karno, bangunan yang didirikan pada era Presiden Megawati, yang pernah digunakan sebagai gedung konferensi KTT ASEAN pada tahun 2003.

“Tim Kunker Spesifik Komisi XIII DPR RI mendorong  optimalisasi pemanfaatan Istana Kepresidenan Tampaksiring pada sektor kepariwisataan sebagai salah satu sumber Pendapatan Negara Bukan Pajak (PNBP),” kata Dr. Andreas Hugo Paraira, Wakil Ketua Komisi XIII DPR sekaligus ketua tim kunjungan.

“Komisi XIII DPR RI mengapresiasi strategi komunikasi publik melalui program “Istana untuk Rakyat (ISTURA)”, yang menunjukkan tingkat kepuasan publik sangat tinggi, dan mendorong agar program edukasi sejarah dan fungsi kenegaraan ini terus dikembangkan secara terukur tanpa mengurangi aspek keamanan dan pelestarian cagar budaya,” tambah Andreas yang juga adalah Ketua DPP PDI Perjuangan.

Selama ini, kata Erry Hermawan, Kepala IKT kepada IndonesiaSatu.co, pemanfaatan IKT hanya sebatas untuk mendukung tugas-tugas kepresidenan dan penyambutan tamu kenegaraan. IKT juga terbuka untuk umum tanpa berorientasi untuk mendatangkan pendapatan bagi negara lewat program ISTURA.

“ISTURA adalah program kunjungan masyarakat ke istana kepresidenan tanpa dipungut biaya apa pun alias gratis,” kata pria yang akrab disapa Erry.

Dikutip dari laman Kementerian Sekretariat Negara (www.setneg.go.id),  IKT berada di Desa Tampaksiring, Kecamatan Tampaksiring, Kabupaten Gianyar Pulau Bali, lebih kurang 40 kilometer dari Denpasar.

Kawasan Istana ini berada pada ketinggian lebih kurang 700 meter dari permukaan laut dan memiliki curah hujan yang cukup tinggi, dan berlokasi di atas perbukitan. Oleh karena itu hawa di lingkungan Istana cukup sejuk dan cenderung dingin pada malam hari, terutama pada musim kemarau.

IKT merupakan satu-satunya Istana Kepresidenan yang dibangun setelah Kemerdekaan Indonesia. Pembangunannya dimulai tahun 1957 sampai dengan tahun 1960. Dalam rangka menyongsong kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV (ASEAN Summit XIV) yang diselenggarakan pada tanggal 7 - 8 Oktober 2003, Istana Tampaksiring menambah bangunan baru berikut fasilitas-fasilitasnya, yaitu gedung untuk konferensi dan untuk resepsi, serta Balai Wantilan sebagai gedung pergelaran kesenian.

Pemandangan alam di sekitar Istana Tampaksiring sangat indah. Di sebelah utara tampak Gunung Batur dan agak ke arah timur tampak Gunung Agung.

Di atas tanah yang berbukit itulah berdiri bangunan- bangunan utama istana, di sekeliling Istana terhampar kawasan yang asri diselingi dengan perkampungan khas Bali serta persawahan berteras-teras yang seolah-olah dipahat di punggung-punggung bukit.

 

Legenda Nama Tampaksiring

Nama Tampaksiring berasal dari dua buah kata bahasa Bali yaitu tampak (bermakna ”telapak”) dan siring (bermakna “miring”). Konon, menurut sebuah legenda yang terekam pada daun lontar Usana Bali, nama itu berasal dari bekas tapak kaki seorang raja bernama Mayadenawa.

Raja ini pandai dan sakti, tetapi sayangnya ia bersifat angkara murka. Raja ini juga menganggap dirinya dewa dan menyuruh rakyatnya untuk menyembahnya. Akibat dari tabiat Mayadenawa itu, Batara Indra marah dan mengirimkan bala tentaranya untuk menghancurkan Mayadenawa. Mayadenawa pun lari masuk hutan.

Agar para pengejarnya kehilangan jejak, ia berjalan dengan memiringkan telapak kakinya. Dengan begitu ia berharap para pengejarnya tidak mengenali bahwa jejak yang ditinggalkannya itu ialah jejak manusia/jejaknya.

Pada akhirnya usaha Mayadewana gagal. Ia ditangkap para pengejarnya. Dengan sisa-sisa kesaktiannya ia berhasil menciptakan mata air yang beracun yang menyebabkan banyak kematian para pengejarnya setelah mereka meminum air dari mata air tersebut.

Batara Indra kemudian menciptakan mata air yang lain sebagai penawar air beracun tersebut. Air penawar racun itu kemudian bernama Tirta Empul (bermakna “air suci”). Kawasan hutan yang dilalui Raja Mayadenawa dengan berjalan di atas kakinya yang dimiringkan itulah yang kemudian dikenal dengan nama Tampaksiring.

Menurut riwayatnya, di salah satu sudut kawasan Istana Tampaksiring, menghadap kolam Tirta Empul di kaki bukit, dulu pernah ada bangunan peristirahatan milik Kerajaan Gianyar. Di atas lahannya sekarang berdiri Wisma Merdeka, yaitu bagian Istana Tampaksiring yang pertama kali dibangun.

 

Sejarah Istana Kepresidenan Tampaksiring

IKT berdiri atas prakarsa Presiden Soekarno yang menginginkan adanya tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan juga bagi tamu-tamu negara yang berkunjung ke Bali.

Pertimbangan pemilihan lokasi Tampaksiring adalah udara yang sejuk serta letaknya yang jauh dari keramaian kota sehingga dinilai cocok bagi sebuah tempat peristirahatan.

Fungsi IKT sejak awal adalah sebagai tempat peristirahatan bagi Presiden Republik Indonesia beserta keluarga dan bagi tamu-tamu Negara.

Tamu negara yang pertama kali menginap di istana ini ialah Raja Bhumibol Adulyadej dari Thailand, yang datang pada 1957 bersama Ratu Sirikit. Tamu-tamu negara yang pernah berkunjung ke istana ini antara lain adalah: Presiden Ne Win dari Birma (sekarang Myanmar), Presiden Tito dari Yugoslavia, Presiden Ho Chin Minh dari Vietnam, Perdana Menteri Nehru dari India, Perdana Menteri Khruschev dari Uni Soviet, Ratu Juliana dari Negeri Belanda, dan Kaisar Hirohito dari Jepang.

Boleh disebut sebagai salah satu bagian terpenting dari IKT, yaitu Wisma Merdeka, oleh Presiden Soekarno dijadikan tempat untuk mencari inspirasi merumuskan pemikiran-pemikiran, serta menuliskan pidato-pidatonya.

Seiring berjalannya waktu, fungsi dari IKT mengalami perkembangan. Selain sebagai tempat pelaksanaan kegiatan-kegiatan Kepresidenan, Istana Kepresidenan Tampaksiring juga berfungsi sebagai tempat pariwisata. Masyarakat umum dapat mengunjungi Istana Tampaksiring dalam waktu-waktu tertentu, dengan jumlah terbatas, dan hanya bisa melihat bagian luar bangunan yang ada di sana.

 

Bagian-Bagian Istana

Kompleks IKT terdiri dari lima gedung utama dan satu pendopo. Dua gedung utama diberi nama Wisma Merdeka dan Wisma Negara, tiga gedung utama lainnya adalah Wisma Yudhistira, Wisma Bima, dan ruang Konferensi, serta Balai Wantilan.

Wisma Merdeka, seluas 1.200 m2, bagian-bagian ruangannya adalah Ruang tidur I dan Ruang Tidur II Presiden, Ruang Tidur Keluarga, Ruang Tamu, dan Ruang Kerja. Keseluruhan ruangan pada wisma ini berhiaskan patung-patung, lukisan  lukisan pilihan, dan perabotan-perabotan yang serasi dengan nuansa dan fungsi wisma.

Ruang Tamu Wisma Merdeka berfungsi sebagai tempat menerima tamu negara. Dari sebelah kiri ruang tamu ke arah kaki bukit terlihat kompleks pura yang anggun dan penuh kedamaian yang dilatari oleh aliran air bersih yang terus mengalir dari mata air Tirta Empul.

Riwayat terjadinya Tirta Empul (air suci) ini direkam ke dalam hiasan relief khas Bali di dinding kanan serambi belakang wisma.

Wisma Negara mempunyai luas 1.476 m2. Pada wisma ini terdapat Ruang Tamu Negara. Bagian utama Wisma Negara juga sama dengan Bagian utama Wisma Merdeka. Wisma ini dibangun di atas tanah berbukit dan kedua bukit yang menopang kedua wisma itu dipisahkan oleh celah bukit yang cukup dalam, lebih kurang 15 meter.

Antara Wisma Merdeka dengan Wisma Negara dihubungkan oleh jembatan penghubung sepanjang 40 meter dan lebar 1.5 meter. Tamu-tamu negara dari negara-negara sahabat, yang datang berkunjung untuk membina persahabatan, selalu diantar melalui jembatan ini. Itulah sebabnya, jembatan ini disebut Jembatan Persahabatan.

Wisma Yudhistira, terletak di sekitar tengah kompleks Istana Tampaksiring, luasnya 1.825 m2.  Wisma ini merupakan tempat menginap rombongan Presiden atau rombongan tamu negara yang sedang berkunjung ke Istana Tampaksiring. Kamar-kamar yang ada di sini juga dimaksudkan sebagai tempat beristirahat. Wisma ini juga memiliki ruangan untuk para petugas yang melayani Presiden beserta keluarga dan para tamu negara.

Wisma Bima terletak di sebelah barat laut Wisma Merdeka, luasnya 2.310 m2. selesai dibangun pada 1963. Nama Wisma diambil dari nama putra kedua pendawa, wisma ini berfungsi sebagai tempat beristirahat para pengawal serta petugas yang melayani Presiden beserta keluarga atau tamu negara beserta pengiringnya.

Bangunan lain yang penting di lingkungan V adalah Pendopo/Balai Wantilan, yang berarsitektur khas Bali. Balai Wantilan berfungsi sebagai tempat pagelaran kesenian. Berbeda dengan bangunan-bangunan lain di dalam kompleks istana ini, balai ini beratap ilalang dan tiang-tiangnya berupa batang pohon kelapa dengan ukiran khas Bali.

Di bagian depan terdapat panggung pertunjukkan kesenian yang berlatar belakang pintu gapura Candi Bentar. Di kiri dan kanan depan panggung terdapat patung burung Garuda dan di bagian belakang ruangan berdiri patung kayu yang melukiskan raksasa Kumbakarna (adik Rahwana), raksasa yang sedang dikerubuti  banyak kera, yang semuanya dipahat dari satu pokok kayu. Dinding belakang dihiasi relief yang  merupakan cuplikan cerita Ramayana. Selain itu, di dekat panggung terdapat patung seorang penari Bali yang gaunnya terbuat dari uang kepeng (uang logam).

 

Bangunan dan Luas Tanah Istana

Istana Tampaksiring dibangun secara bertahap oleh arsitek ialah R.M. Soedarsono. Bangunan pertama berdiri pada tahun 1957 yaitu Wisma Merdeka dan Wisma Yudhistira. Pembangunan berikutnya dilaksanakan pada tahun 1958.

Selanjutnya untuk kepentingan kegiatan Konferensi Tingkat Tinggi (KTT) ASEAN XIV, yang diselenggarakan di Bali pada tanggal 7 sampai dengan 8 Oktober 2003, dibangun gedung baru beserta fasilitasnya.

Untuk memberikan kenyamanan kepada para pengunjung, dibangun pintu masuk yang dilengkapi dengan Candi Bentar, Kori Agung, serta Lapangan Parkir berikut Balai Bengongnya.

 

Kijang Peliharaan di IKT

Selain tanah dan bangunan, Istana Kepresidenan Tampaksiring juga memiliki daya tarik lain berupa hewan peliharaan kijang. Kijang yang berada di Istana ini berasal dari Istana Bogor dan terdiri atas dua jenis Kijang, yaitu Kijang Totol dan Kijang Bawean. Sampai saat ini, populasi Kijang Totol mencapai 138 ekor dan Kijang Bawean 12 ekor. ***

--- Simon Leya

Komentar