Breaking News

REFLEKSI Apa yang Dilakukan Ketika 'Down'? 29 Jun 2024 12:45

Article image
Ilustrasi. (Foto: Sarah McCrum)
Ketika 'down' hal yang terutama saya ingat dan yakini adalah bahwa situasi seperti itu hanya sementara.

Oleh Valens Daki-Soo

Orang bijak bilang, hidup adalah rentetan "ups and downs". Dalam situasi atau fase 'up', kehidupan mungkin terasa dan terlihat sebagai hamparan taman bunga. Harumnya menyebar dan pesonanya merebak. Segalanya (dianggap) berjalan baik dan sesuai kehendak kita. Kita meyakini, inilah kehidupan yang diidamkan. Tatkala Anda sedang sukses besar atau menempati posisi bagus di dunia politik atau bisnis, banyak sahabat atau orang-orang yang 'mengaku' sahabat berseliweran dalam hidup Anda.

Situasi 'down' dapat digambarkan sebagai meranggasnya dedaunan dari pohon kehidupan Anda. Bunga-bunga berguguran, dan Anda mungkin disengat sepi dalam kesendirian. Atau, meski selalu dalam keramaian, Anda merasa tidak lagi punya sahabat-sahabat setia. Mereka yang tadinya mengitari diri Anda ketika berada di 'puncak', sudah hilang bagai terbenamnya matahari. Situasi 'down' bisa disebabkan pengalaman tragis, bencana sosial maupun problematika pribadi. Atau, memang sudah saatnya Anda turun dari 'puncak', dan Anda tak siap sehingga bikin 'down'. Perhatikan cara hidup dan perilaku para mantan pejabat yang biasanya didekati banyak orang dan disanjung ketika berkuasa. Ada yang pandai mengelola situasi itu agar tetap produktif dan kontributif bagi lingkungan, namun tak sedikit pula yang kehilangan keseimbangan alias mengalami disorientasi.

Ketika 'down' hal yang terutama saya ingat dan yakini adalah bahwa situasi seperti itu hanya sementara. Bagai musim semi yang hadir setelah musim gugur dengan kembang aneka warna dengan kelopak-kelopak harapan, kekuatan dan kemajuan, begitu pula kehidupan akan kembali bersemi usai fase 'down'.

Tuhan memang dahsyat dan elok dalam menata semesta. Segala sesuatu berdinamika, termasuk kita. Apa yang bisa kita lakukan adalah bekerjasama dengan Tuhan dalam mengelola kehidupan. Tatkala 'down', tetaplah berkarya, berbuat baik dan menenun harapan. Ketika para 'sahabat' meninggalkan Anda, justru Anda menjadi lebih merasakan kehadiran Tuhan sebagai sahabat paling sejati. Tetaplah tersenyum dan biarkan api semangat terus berpendar, meski kadang menjadi samar-samar karena dihantam 'angin' masalah. Toh, situasi ini akan lewat juga. Dia akan beralih dan Anda pasti akan ke 'puncak' lagi.

Saya dedikasikan refleksi ini untuk sahabat yang meminta saya berbagi tentang menghadapi situasi dan perasaan 'down'. Kalau soal 'perasaan', gantikan perasaan itu dengan keyakinan positif bahwa kita begitu istimewa di mata Tuhan. Itu sebabnya, Dia begitu mencintai kita. Cinta-Nya dijamin indah, tanpa kepalsuan, tanpa potensi pengkhianatan, tanpa manipulasi, tanpa perlu "money politics" dan sogok-sogokan. Dan, lihatlah, cinta itu selalu mengalir tanpa henti untuk Anda, gratis pula.***

Penulis adalah peminat filsafat dan psikologi, pengusaha dan politisi, Pendiri & Pemimpin Umum IndonesiaSatu.co

 

Komentar