Breaking News

PANGGUNG Buntut Larangan Bikin Satire Politik dalam Pentas Seni, Butet Kartaredjasa: Selamat Datang Orde Baru! 06 Dec 2023 20:28

Article image
Seniman Butet Kartaredjasa dalam sebuah pertunjukan seni. (Foto: Dok. Ist)
"Bahwa saya harus berkomitmen tidak ada unsur politik di dalam pertunjukan. Oh, keren. Selamat datang Orde Baru," kata Butet.

JAKARTA, IndonesiaSatu.co-- Seniman Butet Kartaredjasa mengungkapkan adanya tekanan berupa permintaan menandatangani Surat berisi larangan tidak membuat sindiran bernada politik.

Larangan itu muncul saat Butet dan penulis lakon, Agus Noor akan mementaskan "Musuh Bebuyutan" bertempat di Taman Ismail Marzuki, Jakarta, Jumat (1/12/2023).

Butet membenarkan bahwa selama 41 kali pertunjukan Indonesia Kaya, baru kali ini ada larangan tidak menampilkan satire politik dalam pentas kesenian itu.

"Sementara ini, ya cuma baru segitu aja," kata Butet melansir Tempo.co, Selasa (5/12/2023).

Awalnya, sebelum pertunjukan berlangsung, sejumlah petugas Kepolisian Sektor Cikini tiba-tiba datang dan meminta penyelenggara membuat Surat Pernyataan yang isinya tidak menampilkan pertunjukan yang mengandung unsur politik.

Butet mengirim bentuk surat yang dia tandatangani.

Ada enam poin larangan kepada para penyelenggara pentas tercantum dalam surat, yakni kampanye pemilihan umum, menyebarkan bahan kampanye pemilu, memasang alat peraga kampanye pemilu, menggunakan atribut politik.

Selain itu melarang menggunakan atribut calon presiden dan calon wakil presiden, calon anggota legislatif Dewan Perwakilan Rakyat (DPR), DPRD, dan DPD, serta hal yang termasuk dalam kegiatan politik lainnya.

"Jika kami melanggar ketentuan tersebut, maka kami siap menerima sanksi sesuai aturan-aturan hukum yang berlaku," demikian tertulis di bawah keterangan surat itu.

Melansir Tempo, Butet mengirim sebuah video pendek berisi ungkapannya perihal permintaan menandatangani surat berisi larangan itu.

Dia mengatakan 41 kali merayakan ibadah kebudayaan di tahun politik yang bikin hati senang.

"Karena dari semua teman-teman saya dari kontestan satu, dua, dan tiga hadir di gedung ini. Keren sekali," kata Butet.

Menurut Butet, perlu belajar menghayati ke-Indonesia-an melalui jalan kebudayaan sebagai rumah kita bersama.

"Di antara kita tadi ada yang WA saya, 'Aku datang pakai baju biru', Nusron Wahid," kata Butet.

"Nusron, tolong cermati pertunjukan ini dengan hati yang bungah. Jangan bikin laporan yang aneh-aneh, yo," ungkapnya.

Butet bercerita, selama 41 kali pentas Indonesia Kita, baru kali ini ia membuat surat pernyataan tertulis kepada polisi.

"Bahwa saya harus berkomitmen tidak ada unsur politik di dalam pertunjukan. Oh, keren. Selamat datang Orde Baru," kata Butet dengan mengangkat kedua tangannya sambil tertawa.

Menurut Butet, pertunjukan Indonesia Kita sebagai ikhtiar anak-anak muda menghormati para legenda kesenian Indonesia.

Dia bercerita bahwa sebelumnya juga mereka mementaskan "Juli Ini Tidak Pernah Mati" untuk mengenang Nano Riantiarno, pendiri Teater Koma, serta pertunjukan penghormatan kepada Sawung Jabo, seniman musik dan teater.

"Dan pertunjukan kali ini, Musuh Bebuyutan, adalah cara kami mengapresiasi, memberikan penghormatan kepada legenda musik Indonesia, Koes Plus," tutur Butet.

Lakon Musuh Bebuyutan digarap oleh Agus Noor sebagai penulis dan direktur artistik, bersama dengan Butet sebagai pendiri Indonesia Kita, yang juga tampil sebagai aktor utama.

Agus menyiapkan pertunjukan itu sebulan yang lalu sebagai bagian dari kegiatan Indonesia Kaya yang sudah terprogram selama setahun.

Sinopsis Teater "Musuh Bebuyutan"

Pentas Teater "Musuh Bebuyutan" mengisahkan hubungan seorang pemuda dan seorang perempuan yang bertetangga dan berteman baik di kampung.

Namun, keduanya berseteru karena berbeda pilihan politik. Permusuhan keduanya merembet dan membuat situasi kampung penuh kasak-kusuk.

Masyarakat menjadi terbelah, ada yang mendukung pemuda dan ada juga yang mendukung perempuan.

Situasi di perkampungan itu makin memanas ketika lurah akan habis masa jabatannya dan pemilihan lurah baru akan dilangsungkan.

Pentas itu juga menampilkan sindiran dan guyonan terhadap tiga kontestan pemilu.

--- Guche Montero

Komentar