Breaking News

INTERNASIONAL Fokus Amankan Selat Hormuz, AS Akhiri Operasi Militer ke Iran 06 May 2026 11:52

Article image
AS akhiri operasi militer ke Iran dan fokus mengamankan selat Hormuz. (Foto: AFP)
"Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut,” ujar Rubio.

WASHINGTON DC, IndonesiaSatu..co-– Pemerintah Amerika Serikat (AS) menyatakan fase ofensif terhadap Iran telah berakhir. Washington kini mengalihkan fokus pada perlindungan jalur pelayaran di Selat Hormuz, meski insiden serangan terhadap kapal kargo menunjukkan ketegangan masih berlanjut. 

Dikutip dari Bloomberg, Rabu (6/5/2026), Menteri Luar Negeri AS, Marco Rubio mengatakan operasi militer bertajuk Operation Epic Fury telah selesai.

Pernyataan itu disampaikan 66 hari setelah AS bersama Israel melancarkan serangan terhadap Iran.

“Operasi Epic Fury telah selesai. Kami telah mencapai tujuan dari operasi tersebut,” ujar Rubio kepada wartawan di Gedung Putih, Selasa (5/5/2026) waktu setempat, melansir Kompas.com.

Namun, beberapa jam setelah pernyataan tersebut, Presiden AS, Donald Trump mengumumkan jeda sementara dalam inisiatif pengawalan kapal di Selat Hormuz.  

Kebijakan itu ditempuh untuk memberi ruang bagi kemungkinan tercapainya kesepakatan damai dengan Iran.

“Project Freedom (pergerakan kapal melalui Selat Hormuz) akan dijeda untuk sementara waktu guna melihat apakah kesepakatan tersebut dapat difinalisasi dan ditandatangani,” tulis Trump melalui media sosial.

Trump menyebut keputusan tersebut diambil atas permintaan Pakistan dan sejumlah negara lain. Meski demikian, blokade terhadap kapal yang menuju dan keluar dari pelabuhan Iran tetap diberlakukan sepenuhnya.

Di tengah upaya deeskalasi, jalur menuju kesepakatan masih belum jelas. Selat Hormuz merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima ekspor minyak dunia, sehingga konflik di kawasan ini terus mengguncang pasar energi global.

Pada saat yang sama, sebuah organisasi pemantau maritim Inggris melaporkan adanya kapal kargo yang terkena proyektil tak dikenal di kawasan selat tersebut.

Penutupan jalur pelayaran di Selat Hormuz juga menyebabkan lebih dari 1.550 kapal komersial dengan sekitar 22.000 awak tertahan di Teluk Persia.

Presiden Iran, Masoud Pezeshkian menolak tuntutan AS untuk kembali ke meja perundingan. Ia menilai pendekatan tekanan maksimum yang diterapkan Washington tidak sejalan dengan upaya diplomasi. 

“Masalahnya adalah ketika Amerika Serikat menjalankan kebijakan tekanan maksimum terhadap negara kami, pada saat yang sama mereka juga mengharapkan Republik Islam Iran untuk datang ke meja perundingan dan pada akhirnya tunduk pada tuntutan sepihak mereka, sebuah persamaan yang mustahil,” ujar Pezeshkian.

Dari sisi pasar, harga minyak dunia tercatat melemah. Minyak mentah Brent turun sekitar 3,6 persen ke bawah 111 Dollar AS per barel pada Selasa (5/5/2026), setelah sebelumnya melonjak hampir 6 persen. Pernyataan Rubio yang menyebut operasi militer telah berakhir dinilai mencerminkan tekanan politik yang dihadapi pemerintahan Trump. 

Konflik yang berkepanjangan dilaporkan semakin tidak populer di dalam negeri. Selain itu, deklarasi berakhirnya operasi juga berkaitan dengan aspek hukum. Berdasarkan War Powers Act, Presiden AS wajib menghentikan operasi militer dalam 60 hari jika tidak mendapat persetujuan Kongres. Tenggat tersebut telah terlewati sekitar sepekan.

Rubio menegaskan, tujuan AS saat ini adalah menciptakan zona transit yang aman di Selat Hormuz. Upaya itu dilakukan dengan perlindungan militer udara dan laut, guna memastikan kapal dapat melintas dan kembali memasok pasar global.

Sebelumnya, ketegangan meningkat setelah peluncuran Project Freedom. Program ini bertujuan membantu kapal netral yang terjebak di Teluk Persia untuk melintasi Hormuz tanpa pengawalan militer penuh. Setidaknya dua kapal dagang dilaporkan berhasil melintas dengan bantuan AS dalam menghadapi serangan. Selain itu, dua kapal perang AS juga telah memasuki kawasan Teluk.

Uni Emirat Arab menyatakan pihaknya berhasil mencegat hampir seluruh dari sekitar 20 rudal dan drone yang diluncurkan Iran sehari sebelumnya. Meski demikian, pejabat AS menilai serangan tersebut belum melanggar gencatan senjata yang diumumkan hampir sebulan lalu. Hingga kini, belum ada tanda-tanda kuat bahwa AS dan Iran mendekati kesepakatan.

Teheran menuntut pencabutan blokade laut sebagai syarat utama, sementara Washington menilai tekanan ekonomi diperlukan untuk memaksa konsesi dari Iran.

Di tingkat internasional, AS bersama sekutunya juga mendorong resolusi Dewan Keamanan PBB. Proposal tersebut membuka peluang sanksi hingga aksi militer jika Iran tidak melonggarkan kontrolnya atas Selat Hormuz. Namun, dukungan dari China dan Rusia masih menjadi faktor penentu. Sementara itu, Iran menyebut langkah AS sebagai pelanggaran gencatan senjata dan menjuluki inisiatif tersebut sebagai “Project Deadlock.”

Teheran juga memperingatkan kapal-kapal agar tidak melintasi Hormuz tanpa izin resmi, serta menerapkan protokol baru bagi pelayaran di kawasan tersebut.

--- Guche Montero

Komentar